TEHERAN, Sumutpos.jawapos.com-Tekanan internasional untuk menghentikan konflik di Timur Tengah semakin menguat. Sejumlah negara besar mulai bergerak melakukan lobi politik, baik kepada Amerika Serikat maupun Iran, demi membuka jalan menuju gencatan senjata.
Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan dikabarkan telah melakukan percakapan telepon langsung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pembicaraan tersebut, Putin secara terbuka meminta agar perang dengan Iran segera dihentikan.
Dilansir dari TRT World, percakapan yang berlangsung sekitar satu jam itu terjadi ketika Trump tengah berada di lapangan golf. Selain membahas konflik Iran, kedua pemimpin juga menyinggung negosiasi antara Rusia dan Amerika Serikat terkait penyelesaian konflik Ukraina.
“Penekanan diberikan pada situasi konflik dengan Iran dan pembicaraan bilateral yang sedang berlangsung untuk menyelesaikan masalah Ukraina,” kata penasihat diplomatik Kremlin Yuri Ushakov.
Trump mengakui percakapan tersebut dan menyebut Putin menawarkan bantuan untuk menghentikan perang. Namun, Trump memberikan respons yang cukup tajam.
“Saya katakan kepada Putin, kalau ingin membantu, hentikan dulu perang dengan Ukraina,” ujar Trump.
China dan Prancis Ikut Melobi Iran
Upaya mendorong gencatan senjata ternyata tidak hanya datang dari Rusia. Tiongkok dan Prancis juga dikabarkan telah menjalin komunikasi dengan pemerintah Iran.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengonfirmasi bahwa tiga negara tersebut telah menghubungi Teheran untuk membahas kemungkinan penghentian konflik.
“Syarat pertama kami untuk gencatan senjata adalah agresi tersebut tidak boleh diulangi,” tegas Gharibabadi seperti dikutip Anadolu Agency.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa negaranya bukan pihak yang memulai perang. Ia menuding konflik dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel.
“Kita berada di hari ke-11 agresi militer oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis. Kami tidak memulai perang ini,” tegasnya.
Menurut Baghaei, dalam situasi saat ini fokus utama Iran adalah mempertahankan kedaulatan negaranya.
Israel Tetap Bersikeras
Di tengah tekanan internasional untuk menghentikan perang, sikap Israel justru belum berubah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan operasi militer terhadap Iran masih akan berlanjut.
Ia bahkan mengklaim serangan Israel telah berhasil melemahkan kekuatan politik dan militer Iran.
“Aspirasi kami adalah membantu rakyat Iran terbebas dari tirani. Dengan tindakan yang telah kami lakukan, kami sedang menghancurkan ‘tulang-tulang’ mereka, dan kami belum selesai,” kata Netanyahu.
Sikap Trump Dinilai Berubah-Ubah
Di sisi lain, Trump mengirim sinyal bahwa konflik bisa segera berakhir, meski belum memberikan kepastian waktu.
Berbicara kepada wartawan di klub golf miliknya di Doral National, dekat Miami, Florida, Trump menyebut perang kemungkinan tidak akan berlangsung lama.
“Saya pikir segera. Sangat segera,” ujarnya ketika ditanya apakah perang bisa berakhir dalam hitungan hari atau minggu.
Trump juga mengklaim kekuatan militer Iran telah mengalami kerusakan besar akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
“Sebagian besar yang mereka miliki sudah hilang, termasuk kepemimpinan mereka,” kata Trump.
Namun pernyataan Trump dinilai berubah-ubah. Di satu sisi ia membuka peluang perdamaian, tetapi di sisi lain tetap menegaskan bahwa Washington masih memiliki sejumlah target penting di Iran, termasuk infrastruktur strategis seperti jaringan listrik nasional.
Trump juga memperingatkan Iran agar tidak mengganggu jalur distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling vital di dunia.
“Jika Iran melakukan hal itu, mereka akan dihantam pada level yang jauh lebih keras,” ancamnya.
Iran Balas Serangan
Ancaman tersebut tidak membuat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) gentar. Iran justru membantah klaim bahwa kekuatan militernya telah lumpuh.
Untuk menunjukkan kemampuan militernya masih utuh, IRGC kembali meluncurkan serangan balasan dengan proyektil berdaya ledak besar.
Serangan itu merupakan respons atas bombardir Israel di Teheran pada Senin malam yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 40 warga sipil.
Dengan situasi yang terus memanas, dunia kini menunggu apakah diplomasi internasional mampu meredam konflik atau justru perang Timur Tengah akan memasuki babak yang lebih berbahaya.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan