Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

1.900 Kapal Tertahan, Dunia Hadapi Ancaman Krisis Energi Baru

Johan Panjaitan • Jumat, 27 Maret 2026 | 11:05 WIB

Selat Hormuz. (hidayahtulah)
Selat Hormuz. (hidayahtulah)

Sumutpos.jawapos.com-Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang jalur vital perdagangan global. Sekitar 1.900 kapal komersial kini terkatung-katung di perairan Selat Hormuz, menyusul eskalasi konflik setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Langkah tegas Teheran menutup akses bagi kapal yang terkait dengan negara penyerang secara efektif melumpuhkan lalu lintas maritim di salah satu chokepoint energi paling krusial di dunia. Kapal-kapal yang hendak melintas kini terpaksa berlabuh di perairan terbuka, menunggu kepastian yang tak kunjung datang.

Pihak Iran melalui juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, menegaskan bahwa aturan di Selat Hormuz telah berubah secara fundamental. Kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan AS dan Israel dipastikan tidak akan diberi akses.

Baca Juga: Pajak Triliunan Dibayar, Jalan Tetap Hancur: Warga Tapsel–Padangsidimpuan Tagih Tanggung Jawab Pemprovsu

Meski demikian, Iran membuka celah terbatas. Kapal dari negara lain masih diizinkan melintas, dengan syarat tidak terlibat dalam agresi serta mematuhi ketentuan keamanan yang diberlakukan.

Lumpuhnya Arus Energi Global

Data pelacakan menunjukkan skala dampak yang masif. Ribuan kapal yang tertahan mencakup berbagai jenis, mulai dari tanker minyak mentah, kapal pengangkut produk kimia, hingga kapal kontainer. Diperkirakan sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk turunannya kini “terkunci” di atas kapal-kapal tersebut.

Situasi ini langsung mengguncang pasar energi global.

Menurut analis dari Baltic and International Maritime Council, Filipe Gouveia, dampak penutupan jalur ini akan sangat ditentukan oleh lamanya konflik, harga bahan bakar, serta kebijakan Iran dalam membuka akses selektif.

Baca Juga: Petani Lokal Diproyeksikan Jadi Tulang Punggung Program MBG di Portibi

Namun satu hal sudah pasti: biaya logistik melonjak tajam.

Sejak akhir Februari, indeks tanker global mencatat lonjakan signifikan. Baltic Dirty Tanker Index naik hingga 49 persen, sementara Baltic Clean Tanker Index melesat 78 persen. Tarif angkutan kontainer pun ikut terdorong naik, diperparah oleh biaya tambahan darurat dan lonjakan harga bahan bakar.

Dunia Tanpa Banyak Alternatif

Dalam kondisi normal, sekitar 30 persen ekspor minyak global yang dikirim melalui jalur laut melintasi Selat Hormuz. Jalur ini juga dilalui oleh 4 persen perdagangan kargo curah kering dan 3 persen volume kontainer dunia.

Masalahnya, jalur alternatif sangat terbatas.

Sebagian kecil ekspor dari kawasan Teluk Persia memang bisa dialihkan, tetapi kapasitas jalur darat maupun rute laut lain tidak mampu menutup kekosongan dalam skala besar. Di saat yang sama, sekitar 5,5 persen armada tanker dunia dan 1,5 persen kapal kontainer global kini terjebak di kawasan tersebut.

Kondisi ini menciptakan tekanan berlapis: pasokan tersendat, biaya melonjak, dan ketidakpastian membayangi pasar global.

Jika situasi berlarut, dunia bukan hanya menghadapi gangguan logistik—tetapi juga potensi krisis energi baru yang dampaknya bisa menjalar ke berbagai sektor, dari industri hingga harga kebutuhan pokok.(jpc/han)

Editor : Johan Panjaitan