
sumutpos.jawapos.com – Bulan kembali menjadi pusat perhatian dunia. Bukan hanya sebagai satelit alami Bumi, tetapi juga sebagai sumber daya potensial yang disebut-sebut menyimpan “harta karun” bernilai luar biasa melalui kandungan helium-3.
Melansir Instagram @pandemictalks, Rabu (2/9/2026), Amerika Serikat mulai serius mengejar potensi tambang helium-3 di permukaan Bulan. Isotop langka ini diperkirakan memiliki nilai teoritis mencapai 20 kuadriliun dolar AS atau sekitar Rp355.120 kuadriliun jika dihitung berdasarkan estimasi harga pasar.
Perhitungan tersebut mengacu pada nilai helium-3 yang diperkirakan dapat ditambang dari permukaan Bulan. Perusahaan eksplorasi luar angkasa asal Seattle, Interlune, bahkan menargetkan dapat melakukan eksperimen penggalian paling cepat pada 2028.
Chief Technology Officer Interlune, Gary Lai, menyebut sekitar 1 miliar kilogram helium-3 berpotensi terdapat di lapisan tanah Bulan dengan kedalaman sekitar tiga meter. Dengan asumsi harga mencapai sekitar 20 juta dolar AS per kilogram, nilai ekonominya menjadi sangat besar.
Helium-3 merupakan isotop helium yang sangat langka di Bumi. Berbeda dengan planet kita yang memiliki atmosfer dan medan magnet sebagai pelindung dari partikel luar angkasa, permukaan Bulan terus terpapar angin Matahari selama miliaran tahun.
Paparan tersebut membuat partikel helium-3 dari angin Matahari terakumulasi di lapisan tanah Bulan. Kondisi inilah yang menjadikan Bulan dianggap sebagai lokasi potensial untuk memperoleh sumber helium-3 dalam jumlah besar.
Potensi terbesar helium-3 berada pada pemanfaatan teknologi masa depan. Isotop ini disebut dapat digunakan untuk sistem pendingin komputer kuantum, pengembangan energi fusi nuklir, hingga mendukung teknologi pencitraan medis seperti MRI.
Dalam bidang energi, helium-3 sering dikaitkan dengan konsep reaktor fusi yang lebih bersih karena berpotensi menghasilkan energi besar dengan tingkat limbah radioaktif lebih rendah dibandingkan teknologi nuklir konvensional.
Namun, perjalanan menuju eksploitasi helium-3 di Bulan masih menghadapi tantangan besar. Biaya transportasi luar angkasa, teknologi penggalian di lingkungan ekstrem, hingga proses membawa hasil tambang kembali ke Bumi menjadi hambatan yang belum sepenuhnya terpecahkan.



