alexametrics
27 C
Medan
Monday, June 27, 2022

Waspadai Bahaya Poliomielitis (Polio)

Poliomielitis (polio) masih menjadi momok bagi negara-negara berkembang karena resiko kecatatan (kelumpuhan) yang ditimbulkannya. Sehingga pada tahun 1988, diluncurkan inisiatif global untuk membasmi poliomielitis.

Poliomielitis (polio) adalah penyakit paralisis (lumpuh) disebabkan poliovirus (PV) grup enterovirus family picornaviridae, suatu virus RNA yang terdiri atas 3 strain: Brunhilde, Lansing dan Leon. Polio dikategorikan sebagai penyakit peradaban, menular melalui kontak antar manusia. Virus polio masuk ke dalam tubuh melalui mulut  dan hudung  kemudian bereplikasi di tenggorokan dan usus, kemudian memasuki sistem limfatikus dan aliran darah lalu menuju ke sistem saraf pusat, sehingga melemahnya otot bahkan kelumpuhan (paralisis).

Vaksin Polio
Vaksin Polio

Setelah seseorang terinfeksi polio, virus polio akan keluar melalui feses penderita polio selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus polio. Adapun cara penyebaran virus polio yaitu: kontak langsung, kontak dengan mukus atau cairan hidung atau mulut penderita, kontak dengan feses penderita.

Polio sering menyerang anak berusia antara 3 hingga 5 tahun dengan masa inkubasi dari gejala pertama berkisar dari 5 hingga 35 hari (rata-rata 7-14 hari). Terdapat 3 jenis infeksi poliomielitis yaitu infeksi subklinis, non-paralitik dan paralitik. Kebanyakan kasus merupakan infeksi subklinis dan tidak memiliki gejala yang berat. Adapun gejala infeksi subklinis berupa:   sakit kepala, radang tenggorokan, demam ringan, sakit menelan, dan muntah.

Baca Juga :  Pengendalian Jumlah Penduduk Dapat Mengurangi Pernikahan Dini

Sedangkan poliomyelitis yang menyerang susunan saraf pusat (otak dan tulang belakang) dibagi atas tipe paralitik dan non-paralitik, yang dapat timbul setelah sembuh dari infeksi subklinis. Ada beberapa jenis  Poliomielitis. Yakni, Poliomielitis non-paralisis yang menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh. Kemudian Poliomielitis paralisis spinal yang menyerang saraf tulang belakang.

Selanjutnya, Poliomielitis tipe bulbar. Poliomielitis jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang. Batang otak mengandung syaraf motorik yang mengatur pernapasan dan saraf kranial, yang mengirim sinyal ke berbagai syaraf yang mengontrol pergerakan bola mata, kelenjar air mata, gusi,  hingga saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru.  Kalau tidak ditolong dengan mesin jantung-paru pasien akan meninggal.

Yang paling efektif dalam pencegahan poliomielitis adalah dengan cara vaksinasi  untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomyelitis. Vaksin diberikan pada anak usia 0,2,3 dan 4 bulan serta booster (ulangan) pada usia 18-24 bulan dan 5-7 tahun. Terdapat 2 jenis vaksin, yang masing-masing mengandung virus polio tipe I, II dan III, yaitu :

  1. Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II, dan III yang sudah dimatikan (vaksin Salk). Carapemberian vaksin ini ialah dengan penyuntikan.
  2. Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II dan III yang masih hidup, tetapi telah dilemahkan (vaksin Sabin). Cara pemberiannya ialah melalui mulut dalam bentuk cairan. Di Indonesia yang lazim diberikan ialah vaksin jenis Sabin.
Baca Juga :  Derita Kelainan Irama Jantung, Pasang Alat Pacu Permanen dan Tanam Baterai di Dalam Perut

Kedua jenis vaksin tersebut mempunyai kebaikan dan kekurangannya. Kekebalan yang diperoleh sama baiknya. Karena cara pemberiannya lebih mudah melalui mulut, maka lebih sering dipakai jenis Sabin.

Saat ini telah beredar vaksin pentavalen terhadap lima jenis penyakit dalam satu suntikan. Namun semua itu tergantung pada keputusan orangtua dalam menentukan bentuk sediaan vaksin yang hendak dipilih untuk anaknya baik dari sisi keuntungan dan kelemahannya dan harganya.  (*)

Poliomielitis (polio) masih menjadi momok bagi negara-negara berkembang karena resiko kecatatan (kelumpuhan) yang ditimbulkannya. Sehingga pada tahun 1988, diluncurkan inisiatif global untuk membasmi poliomielitis.

Poliomielitis (polio) adalah penyakit paralisis (lumpuh) disebabkan poliovirus (PV) grup enterovirus family picornaviridae, suatu virus RNA yang terdiri atas 3 strain: Brunhilde, Lansing dan Leon. Polio dikategorikan sebagai penyakit peradaban, menular melalui kontak antar manusia. Virus polio masuk ke dalam tubuh melalui mulut  dan hudung  kemudian bereplikasi di tenggorokan dan usus, kemudian memasuki sistem limfatikus dan aliran darah lalu menuju ke sistem saraf pusat, sehingga melemahnya otot bahkan kelumpuhan (paralisis).

Vaksin Polio
Vaksin Polio

Setelah seseorang terinfeksi polio, virus polio akan keluar melalui feses penderita polio selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus polio. Adapun cara penyebaran virus polio yaitu: kontak langsung, kontak dengan mukus atau cairan hidung atau mulut penderita, kontak dengan feses penderita.

Polio sering menyerang anak berusia antara 3 hingga 5 tahun dengan masa inkubasi dari gejala pertama berkisar dari 5 hingga 35 hari (rata-rata 7-14 hari). Terdapat 3 jenis infeksi poliomielitis yaitu infeksi subklinis, non-paralitik dan paralitik. Kebanyakan kasus merupakan infeksi subklinis dan tidak memiliki gejala yang berat. Adapun gejala infeksi subklinis berupa:   sakit kepala, radang tenggorokan, demam ringan, sakit menelan, dan muntah.

Baca Juga :  Waspada! Tidur Siang Lama 'Tanda Awal' Penyakit Diabetes Tipe-2

Sedangkan poliomyelitis yang menyerang susunan saraf pusat (otak dan tulang belakang) dibagi atas tipe paralitik dan non-paralitik, yang dapat timbul setelah sembuh dari infeksi subklinis. Ada beberapa jenis  Poliomielitis. Yakni, Poliomielitis non-paralisis yang menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh. Kemudian Poliomielitis paralisis spinal yang menyerang saraf tulang belakang.

Selanjutnya, Poliomielitis tipe bulbar. Poliomielitis jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang. Batang otak mengandung syaraf motorik yang mengatur pernapasan dan saraf kranial, yang mengirim sinyal ke berbagai syaraf yang mengontrol pergerakan bola mata, kelenjar air mata, gusi,  hingga saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru.  Kalau tidak ditolong dengan mesin jantung-paru pasien akan meninggal.

Yang paling efektif dalam pencegahan poliomielitis adalah dengan cara vaksinasi  untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomyelitis. Vaksin diberikan pada anak usia 0,2,3 dan 4 bulan serta booster (ulangan) pada usia 18-24 bulan dan 5-7 tahun. Terdapat 2 jenis vaksin, yang masing-masing mengandung virus polio tipe I, II dan III, yaitu :

  1. Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II, dan III yang sudah dimatikan (vaksin Salk). Carapemberian vaksin ini ialah dengan penyuntikan.
  2. Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II dan III yang masih hidup, tetapi telah dilemahkan (vaksin Sabin). Cara pemberiannya ialah melalui mulut dalam bentuk cairan. Di Indonesia yang lazim diberikan ialah vaksin jenis Sabin.
Baca Juga :  Dua Remaja Suspect Difteri Membaik

Kedua jenis vaksin tersebut mempunyai kebaikan dan kekurangannya. Kekebalan yang diperoleh sama baiknya. Karena cara pemberiannya lebih mudah melalui mulut, maka lebih sering dipakai jenis Sabin.

Saat ini telah beredar vaksin pentavalen terhadap lima jenis penyakit dalam satu suntikan. Namun semua itu tergantung pada keputusan orangtua dalam menentukan bentuk sediaan vaksin yang hendak dipilih untuk anaknya baik dari sisi keuntungan dan kelemahannya dan harganya.  (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/