Sumutpos.jawapos.com-Susu sering dianggap sebagai sumber nutrisi penting untuk menunjang kesehatan tubuh. Namun, tidak semua jenis susu aman diminum tanpa proses tertentu. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah susu mentah, yaitu susu yang belum melalui proses pasteurisasi atau pemanasan untuk membunuh bakteri berbahaya. Meski sebagian orang mengklaim susu mentah lebih alami dan bergizi, faktanya konsumsi susu mentah justru menyimpan risiko kesehatan yang cukup serius.
Apa Itu Susu Mentah?
Susu mentah adalah susu yang baru diperah dari sapi, kambing, atau hewan lain tanpa melalui proses pemanasan. Karena tidak dipasteurisasi, susu ini mempertahankan komposisi alaminya — termasuk mikroorganisme yang terkandung di dalamnya.
Menurut Verywell Health, susu mentah dari sapi, kambing, maupun domba dapat membawa bakteri. Tidak semua bakteri berbahaya, namun beberapa di antaranya bisa menyebabkan keracunan makanan.
Bakteri berbahaya yang kerap ditemukan antara lain:
1. Campylobacter
2. E. coli
3. Listeria
4. Salmonella
Kelompok yang paling rentan terkena infeksi akibat bakteri ini adalah bayi dan anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan kekebalan tubuh lemah.
Mengapa Pasteurisasi Penting?
Jurnal Biomolecules menjelaskan, bahwa pasteurisasi yang dilakukan dengan benar dapat membunuh bakteri berbahaya tanpa merusak kandungan gizi pada susu. Proses ini secara signifikan menurunkan risiko keracunan makanan dan menjadikan susu lebih aman untuk dikonsumsi maupun diolah menjadi keju dan produk susu lainnya.
Baca Juga: Jennifer Coppen Ingin Tinggal di Eropa
Proses pasteurisasi dilakukan dengan memanaskan susu hingga 63°C, lalu mendinginkannya dengan cepat. Biasanya peternak tidak melakukan pasteurisasi sendiri; susu dikirim ke fasilitas pengolahan untuk diproses lebih lanjut.
Gejala Keracunan Susu Mentah
Keracunan akibat bakteri pada susu mentah dapat menyebabkan gangguan serius yang membutuhkan perawatan medis. Gejalanya meliputi:
- Nyeri perut
- Diare
- Sakit kepala
- Muntah
Meskipun susu mentah sering diklaim lebih “sehat” atau “alami”, fakta ilmiah menunjukkan bahwa risikonya jauh lebih besar dibanding manfaat yang diklaim.(han)
Editor : Johan Panjaitan