27 C
Medan
Wednesday, February 8, 2023

Bentrok HMI dan PMII di UINSU, Poldasu Imbau Kaum Intelektual Tak Berpikir Dangkal

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Bentrok antar mahasiswa sudah berulangkali terjadi, bahkan antar sesama anggota organisasi kemahasiswaan, atau satu kampus. Permasalahan yang menjadi pemicu konflik tak jarang merupakan pepesan kosong, yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan duduk bersama.

Hal itu juga yang menjadi pemicu bentrok mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sekretariat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), yang terjadi di Kampus UINSU Medan, Jalan William Iskandar, Pasar V Medan Estate, Deliserdang, Rabu (30/11) malam.

Kapolda Sumut, Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak melalui Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Hadi Wahyudi mengimbau, agar adik-adik mahasiswa yang merupakan kaum intelektual dan terpelajar dapat selalu berpikir jernih dengan kepala dingin, tidak dengan akal yang dangkal dalam menyelesaikan setiap persoalan.

“Mudah-mudahan di antara mereka bisa duduk bersama untuk selalu menatap masa depan yang lebih baik, hilangkan permusuhan apalagi membawa-bawa nama kelompok,” imbaunya.

Menurut Hadi, setiap kasus yang melibatkan pelajar, mahasiswa dan anak, harus menjadi perhatian serta tanggung jawab semua pihak, termasuk stakeholder dan akademisi kampus, bukan hanya polisi semata. “Namun, jika kasusnya sudah dibawa ke ranah hukum, tentu polisi akan menindaklanjutinya,” tegasnya.

Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMII Deliserdang, Yusrizal menilai, mahasiswa zaman sekarang lebih mengedepankan emosi. Itu membuktikan, tidak adanya nilai kecerdasan sebagai kaum intelektual dan manusia terpelajar.

Menurutnya, ini merupakan sebuah kegagalan dalam proses kaderisasi dalam materi problemsolving, yakni bagaimana memecahkan sebuah masalah dengan pikiran dan hati yang dingin, karena tolok ukur kaum intelekrual itu adalah kecerdasan dalam bersikap dan berbuat. Di samping itu, perlu sebuah komitmen di kedua organisasi.

“Tolonglah buat adik-adik mahasiswa sekarang, jangan bikin malu kakak-kakak kelas kalian, yang pada masa dulu mahasiswanya tidak seperti itu. Ini organisasi kemahasiswaan sekarang udah seperti OKP (Organisasi Kemasyarakatan dan Pemuda, red),” tegas Yusrizal yang juga mantan ketua PMII Cabang Medan ini.

Menurutnya, peristiwa bentrok tersebut diduga dipicu rivalitas dalam rekrutmen mahasiswa baru untuk masuk ke dalam organisasi ekstra kampus. Akhirnya hampir setiap tahun, kedua kubu tersebut selalu bergesekan hingga adu fisik.

“Hal inilah yang menjadi denyut konflik setiap saat akan selalu pecah. Sudah pasti kita sangat menyesalkan peristiwa keributan antar mahasiswa di Kampus UINSU ini. Tidak ada lagi nilai intelektual yang menjadi penyelesaian sebuah masalah,” katanya.

Yusrizal berharap, perlunya kehadiran alumni atau senior kedua organisasi kemahasiswaan di UINSU sebagai penengah dalam membuat komitmen menjaga stabilisasi kenyamanan terhadap adik-adik mereka di kampus.

“Selain itu buat juga manajemennya siapa saja alumni yang dilibatkan sebagai penasehat atau penanggungjawab. Prinsipnya, yang tergabung di dalam organisasi kemahasiswaan, peran mereka seharusnya mampu menciptakan stabilitas kenyamanan di kampus, bukan malah sebaliknya,” pungkasnya.

Sebelumnya, mahasiswa HMI dan PMII komisariat UINSU bentrok. Kedua organisasi mahasiswa itu saling serang. Penyerangan tersebut terjadi pada Rabu (30/11), sekira pukul 22.30 WIB. Insiden sesama anggota Cipayung ini terjadi karena adanya tindakan pemukulan terhadap salah seorang anggota HMI yang diduga dilakukkan oleh anggota PMII.

Salah satu mahasiswa berinisial M mengatakan peristiwa bentrok antar kelompok tersebut berawal dari perkelahian antar individu organisasi beberapa hari yang lalu. Kemudian berlanjut sampai dengan sore hari.

“Gara-gara duel satu lawan satu itu semalam itu, terus tadi sore puluhan orang itu (PMII) menghajar dia (sambil menunjuk seorang mahasiswa yang belakangan diketahui bernama Raja),” kata mahasiswa berinisial M.

Raja sendiri dipukuli puluhan anggota PMII saat hendak masuk ke gedung Fakultas Syariah dan Hukum. Tidak terima dipukuli, Raja kemudian mengadu kepada seniornya di HMI.

Dari informasi yang diterima, mereka akhirnya didamaikan oleh pihak Polsek Percut Seituan. (dwi/ila)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Bentrok antar mahasiswa sudah berulangkali terjadi, bahkan antar sesama anggota organisasi kemahasiswaan, atau satu kampus. Permasalahan yang menjadi pemicu konflik tak jarang merupakan pepesan kosong, yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan duduk bersama.

Hal itu juga yang menjadi pemicu bentrok mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sekretariat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), yang terjadi di Kampus UINSU Medan, Jalan William Iskandar, Pasar V Medan Estate, Deliserdang, Rabu (30/11) malam.

Kapolda Sumut, Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak melalui Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Hadi Wahyudi mengimbau, agar adik-adik mahasiswa yang merupakan kaum intelektual dan terpelajar dapat selalu berpikir jernih dengan kepala dingin, tidak dengan akal yang dangkal dalam menyelesaikan setiap persoalan.

“Mudah-mudahan di antara mereka bisa duduk bersama untuk selalu menatap masa depan yang lebih baik, hilangkan permusuhan apalagi membawa-bawa nama kelompok,” imbaunya.

Menurut Hadi, setiap kasus yang melibatkan pelajar, mahasiswa dan anak, harus menjadi perhatian serta tanggung jawab semua pihak, termasuk stakeholder dan akademisi kampus, bukan hanya polisi semata. “Namun, jika kasusnya sudah dibawa ke ranah hukum, tentu polisi akan menindaklanjutinya,” tegasnya.

Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMII Deliserdang, Yusrizal menilai, mahasiswa zaman sekarang lebih mengedepankan emosi. Itu membuktikan, tidak adanya nilai kecerdasan sebagai kaum intelektual dan manusia terpelajar.

Menurutnya, ini merupakan sebuah kegagalan dalam proses kaderisasi dalam materi problemsolving, yakni bagaimana memecahkan sebuah masalah dengan pikiran dan hati yang dingin, karena tolok ukur kaum intelekrual itu adalah kecerdasan dalam bersikap dan berbuat. Di samping itu, perlu sebuah komitmen di kedua organisasi.

“Tolonglah buat adik-adik mahasiswa sekarang, jangan bikin malu kakak-kakak kelas kalian, yang pada masa dulu mahasiswanya tidak seperti itu. Ini organisasi kemahasiswaan sekarang udah seperti OKP (Organisasi Kemasyarakatan dan Pemuda, red),” tegas Yusrizal yang juga mantan ketua PMII Cabang Medan ini.

Menurutnya, peristiwa bentrok tersebut diduga dipicu rivalitas dalam rekrutmen mahasiswa baru untuk masuk ke dalam organisasi ekstra kampus. Akhirnya hampir setiap tahun, kedua kubu tersebut selalu bergesekan hingga adu fisik.

“Hal inilah yang menjadi denyut konflik setiap saat akan selalu pecah. Sudah pasti kita sangat menyesalkan peristiwa keributan antar mahasiswa di Kampus UINSU ini. Tidak ada lagi nilai intelektual yang menjadi penyelesaian sebuah masalah,” katanya.

Yusrizal berharap, perlunya kehadiran alumni atau senior kedua organisasi kemahasiswaan di UINSU sebagai penengah dalam membuat komitmen menjaga stabilisasi kenyamanan terhadap adik-adik mereka di kampus.

“Selain itu buat juga manajemennya siapa saja alumni yang dilibatkan sebagai penasehat atau penanggungjawab. Prinsipnya, yang tergabung di dalam organisasi kemahasiswaan, peran mereka seharusnya mampu menciptakan stabilitas kenyamanan di kampus, bukan malah sebaliknya,” pungkasnya.

Sebelumnya, mahasiswa HMI dan PMII komisariat UINSU bentrok. Kedua organisasi mahasiswa itu saling serang. Penyerangan tersebut terjadi pada Rabu (30/11), sekira pukul 22.30 WIB. Insiden sesama anggota Cipayung ini terjadi karena adanya tindakan pemukulan terhadap salah seorang anggota HMI yang diduga dilakukkan oleh anggota PMII.

Salah satu mahasiswa berinisial M mengatakan peristiwa bentrok antar kelompok tersebut berawal dari perkelahian antar individu organisasi beberapa hari yang lalu. Kemudian berlanjut sampai dengan sore hari.

“Gara-gara duel satu lawan satu itu semalam itu, terus tadi sore puluhan orang itu (PMII) menghajar dia (sambil menunjuk seorang mahasiswa yang belakangan diketahui bernama Raja),” kata mahasiswa berinisial M.

Raja sendiri dipukuli puluhan anggota PMII saat hendak masuk ke gedung Fakultas Syariah dan Hukum. Tidak terima dipukuli, Raja kemudian mengadu kepada seniornya di HMI.

Dari informasi yang diterima, mereka akhirnya didamaikan oleh pihak Polsek Percut Seituan. (dwi/ila)

Most Read

Artikel Terbaru

/