25.6 C
Medan
Sunday, December 10, 2023
spot_imgspot_imgspot_img
spot_img

Oktober Sebagai Momentum Kebangkitan Kain Khas Tradisional Nusantara

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ketua DPRD Sumatera Utara, Baskami Ginting, menyebutkan bahwa Bulan Oktober berisi dengan hari-hari yang memiliki makna mendalam, yakni sebagai momentum kesadaran dan kebangkitan bangsa Indonesia akan ragam budaya dimilikinya.

Diawali 2 Oktober, kata Baskami, merupakan hari batik nasional dan hari batik dunia. Kemudian, dilanjutkan tanggal 17 Oktober yang merupakan hari ulos nasional.

“Dua perayaan ini mewakili kain khas tradisional yang kita punya. Indonesia memiliki keragaman budaya yang sudah diakui dunia. Di Sumatera Utara, beragam kain yang dimiliki ragam suku di sini, kita patut berbangga,” ucap Baskami, Selasa (3/10/2023).

Dikatakan politisi PDI Perjuangan itu, Sumatera Utara yang terdiri dari suku Melayu, Nias, Karo, Batak Toba, Batak Angkola, Batak Simalungun, Mandailing, Pakpak, dan dihuni ragam suku lainnya memiliki pakaian dengan kain khas masing-masing.

“Belum lagi saudara-saudara Tionghoa, India dan yang berada di pesisir, juga memiliki pakaian khas nya. Inilah yang patut kita banggakan,” ujarnya.

Menurut Baskami, kain-kain tradisional tersebut memiliki kaitan erat dengan gambaran adat istiadat serta budaya di berbagai wilayah.

“Kain-kain khas dan pakaian khas kita memiliki makna filosofis sendiri yang diwariskan secara turun temurun. Inilah satu dintara kekayaaan yang dimiliki bangsa ini,” katanya.

Lebih lanjut, Baskami mengatakan bahwa Bung Karno dalam pidatonya senantiasa menggelorakan ‘berkepribadian dalam kebudayaan’ yang berarti mendapatkan jati diri dari budaya yang dimiliki.

Oleh karenanya, pihaknya mengapresiasi pemerintah daerah yang menginstruksikan para ASN memakai baju adat pada hari tertentu dalam pelayanannya.

“Ini bisa menularkan rasa cinta dan bangga kita kepada seluruh masyarakat. Anak-anak kita juga harus dididik serupa, mencintai budayanya,” ungkapnya.

Baskami menjelaskan, Batik Indonesia telah diakui sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 lalu.

“Ulos, pada 17 Oktober 2015, Kemendikbud menetapkan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Ulos Nasional,” tambahnya.

Baskami menjelaskan, pihaknya mendukung langkah Pemprovsu mengusulkan ulos menjadi warisan budaya tak benda dunia ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

“Sehingga bisa disusul dengan ragam kain yang ada, seperti songket Melayu, Uis Gara Karo dan lainnya,” pungkasnya. (map/ram)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ketua DPRD Sumatera Utara, Baskami Ginting, menyebutkan bahwa Bulan Oktober berisi dengan hari-hari yang memiliki makna mendalam, yakni sebagai momentum kesadaran dan kebangkitan bangsa Indonesia akan ragam budaya dimilikinya.

Diawali 2 Oktober, kata Baskami, merupakan hari batik nasional dan hari batik dunia. Kemudian, dilanjutkan tanggal 17 Oktober yang merupakan hari ulos nasional.

“Dua perayaan ini mewakili kain khas tradisional yang kita punya. Indonesia memiliki keragaman budaya yang sudah diakui dunia. Di Sumatera Utara, beragam kain yang dimiliki ragam suku di sini, kita patut berbangga,” ucap Baskami, Selasa (3/10/2023).

Dikatakan politisi PDI Perjuangan itu, Sumatera Utara yang terdiri dari suku Melayu, Nias, Karo, Batak Toba, Batak Angkola, Batak Simalungun, Mandailing, Pakpak, dan dihuni ragam suku lainnya memiliki pakaian dengan kain khas masing-masing.

“Belum lagi saudara-saudara Tionghoa, India dan yang berada di pesisir, juga memiliki pakaian khas nya. Inilah yang patut kita banggakan,” ujarnya.

Menurut Baskami, kain-kain tradisional tersebut memiliki kaitan erat dengan gambaran adat istiadat serta budaya di berbagai wilayah.

“Kain-kain khas dan pakaian khas kita memiliki makna filosofis sendiri yang diwariskan secara turun temurun. Inilah satu dintara kekayaaan yang dimiliki bangsa ini,” katanya.

Lebih lanjut, Baskami mengatakan bahwa Bung Karno dalam pidatonya senantiasa menggelorakan ‘berkepribadian dalam kebudayaan’ yang berarti mendapatkan jati diri dari budaya yang dimiliki.

Oleh karenanya, pihaknya mengapresiasi pemerintah daerah yang menginstruksikan para ASN memakai baju adat pada hari tertentu dalam pelayanannya.

“Ini bisa menularkan rasa cinta dan bangga kita kepada seluruh masyarakat. Anak-anak kita juga harus dididik serupa, mencintai budayanya,” ungkapnya.

Baskami menjelaskan, Batik Indonesia telah diakui sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 lalu.

“Ulos, pada 17 Oktober 2015, Kemendikbud menetapkan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Ulos Nasional,” tambahnya.

Baskami menjelaskan, pihaknya mendukung langkah Pemprovsu mengusulkan ulos menjadi warisan budaya tak benda dunia ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

“Sehingga bisa disusul dengan ragam kain yang ada, seperti songket Melayu, Uis Gara Karo dan lainnya,” pungkasnya. (map/ram)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/