30.6 C
Medan
Wednesday, February 28, 2024
spot_img
spot_img

Mahasiswa Tolak Fadhil sebagai Rektor IAIN SU

f: Puput Julianti Damanik/sumut pos Mahasiswa IAIN Membawa keranda.
f: Puput Julianti Damanik/sumut pos
Mahasiswa IAIN Membawa keranda.

MEDAN– Penolakan atas diangkatnya Prof Dr Nur A Fadhil Lubis, MA sebagai Rektor IAIN Sumut periode kedua, 2013-2017 masih terus berlangsung sampai saat ini. Kali ini, mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas mahasiswa peduli IAIN SU (SOMASI IAIN SU) mengelar aksinya dengan membawa sebuah keranda yang menunjukkan mati rasanya nurani rektor IAIN SU melihat kehidupan mahasiswa.

Hal ini disampaikan oleh , Ibnu RA Nasution selaku Kordinator Aksi kepada Sumut Pos, Senin (7/10). “Kita menuntut Hasil Audit BPK Nomor 629 belanja hibah yang berasal dari Binsos dan Bina Kemasyarakatan TA 2011yang tidak dilengakapi pertanggungjawaban sebesar Rp2 miliar. Penyaluran Dana OPAK Tahun 2013 yang belum diteima DEMA, DEMAF, UKK /UKM dan HMJ,” ujarnya.

Lanjutnya, peningkatan kapasitas ICT melalui peningkatan bandwith internet yang tidak sesuai realisasi. “Pengembangan Jaringan internet pada RKA-KL TA 2010 sudah dianggarkan Rp88.870.000 diduga markup atau manipulasi data,” katanya.

Tambahnya, pihaknya juga menolak Surat Peraturan Rektor IAIN SU Nomor 17 Tahun 2013 tentang BLU yang berkenaan dengan mahasiswa seperti sewa Aula Rp500 ribu dan lapangan futsal Rp 80.000/jam dianggap tidak mendukung bakat mahasiswa. “Transparansi beasiswa dan penyalurannya di masing-masing fakultas diduga tebang pilih dan terjadi pemotongan. Kita meminta keamanan kampus ditingkatkan karena mahasiswa rawan kehilangan sepeda motor,” ujarnya.

Aksi yang dilaksanakan oleh puluhan mahasiswa ini, dilakukan di depan biro rektor IAIN SU dan langsung disambut keras oleh pihak pengamanan.

Tampak, pihak pengamanan yang bertugas mencoba membubarkan aksi masa. Sayangnya usaha tersebut mendapatkan perlawanan mahasiswa sehingga sempat terjadi baku hantam antara pihak pengamanan dan mahasiswa. Merasa ditekan masa aksi yang di kordinatori Halim Munthe berusaha melawan sampai akhirnya bisa dipisahkan.

Dalam aksi ini, terlihat masa aksi membawa sebuah keranda yang menunjukkan keprihatinan mahasiswa terhadap matinya nurani rektor IAIN SU melihat kehidupan mahasiswa. “Ini sebagai bukti keprihatinan kita kepada Rektor IAIN,” ujar Halim Munthe.

Dalam orasinya Mahasiswa yang kesal mengungkapkan kemarahannya dan menyatakan bahwa rektor king of pendzolim mahasiswa karena aksi mereka dirusak dengan tindakan represif pihak pengaman yang diduga kuat mendapat pesan dari Rektor.

Aksi dilanjutkan dengan melaksanakan sholat jenazah sebagai bentuk kepasrahan mahasiswa. Dalam kesempatan itu, Pejabat Rektor tak kunjung turun untuk menjumpai massa aksi dan akhirnya membubarkan diri sembari mengancam akan melakukan aksi kembali dengan massa yang lebih besar.

Sebelumnya kepada Sumut Pos, Rektor IAIN, Nur A Fadhil Lubis menyampaikan agar mahasiswa tersebut dapat melakukan diskusi dan berbicara dengan baik. “Unjuk rasa itu demokrasi namun bila ada yang melukai dirinya sendiri itu bukan lagi demokrasi, dalam agama juga tidak diperbolehkan melukai diri sendiri. Semuanyakan bisa didiskusikan, saya harap marilah sama-sama membangun IAIN ini. Jangan sampai malah ada kepentingan segelintir orang disini,” ujarnya.(put)

f: Puput Julianti Damanik/sumut pos Mahasiswa IAIN Membawa keranda.
f: Puput Julianti Damanik/sumut pos
Mahasiswa IAIN Membawa keranda.

MEDAN– Penolakan atas diangkatnya Prof Dr Nur A Fadhil Lubis, MA sebagai Rektor IAIN Sumut periode kedua, 2013-2017 masih terus berlangsung sampai saat ini. Kali ini, mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas mahasiswa peduli IAIN SU (SOMASI IAIN SU) mengelar aksinya dengan membawa sebuah keranda yang menunjukkan mati rasanya nurani rektor IAIN SU melihat kehidupan mahasiswa.

Hal ini disampaikan oleh , Ibnu RA Nasution selaku Kordinator Aksi kepada Sumut Pos, Senin (7/10). “Kita menuntut Hasil Audit BPK Nomor 629 belanja hibah yang berasal dari Binsos dan Bina Kemasyarakatan TA 2011yang tidak dilengakapi pertanggungjawaban sebesar Rp2 miliar. Penyaluran Dana OPAK Tahun 2013 yang belum diteima DEMA, DEMAF, UKK /UKM dan HMJ,” ujarnya.

Lanjutnya, peningkatan kapasitas ICT melalui peningkatan bandwith internet yang tidak sesuai realisasi. “Pengembangan Jaringan internet pada RKA-KL TA 2010 sudah dianggarkan Rp88.870.000 diduga markup atau manipulasi data,” katanya.

Tambahnya, pihaknya juga menolak Surat Peraturan Rektor IAIN SU Nomor 17 Tahun 2013 tentang BLU yang berkenaan dengan mahasiswa seperti sewa Aula Rp500 ribu dan lapangan futsal Rp 80.000/jam dianggap tidak mendukung bakat mahasiswa. “Transparansi beasiswa dan penyalurannya di masing-masing fakultas diduga tebang pilih dan terjadi pemotongan. Kita meminta keamanan kampus ditingkatkan karena mahasiswa rawan kehilangan sepeda motor,” ujarnya.

Aksi yang dilaksanakan oleh puluhan mahasiswa ini, dilakukan di depan biro rektor IAIN SU dan langsung disambut keras oleh pihak pengamanan.

Tampak, pihak pengamanan yang bertugas mencoba membubarkan aksi masa. Sayangnya usaha tersebut mendapatkan perlawanan mahasiswa sehingga sempat terjadi baku hantam antara pihak pengamanan dan mahasiswa. Merasa ditekan masa aksi yang di kordinatori Halim Munthe berusaha melawan sampai akhirnya bisa dipisahkan.

Dalam aksi ini, terlihat masa aksi membawa sebuah keranda yang menunjukkan keprihatinan mahasiswa terhadap matinya nurani rektor IAIN SU melihat kehidupan mahasiswa. “Ini sebagai bukti keprihatinan kita kepada Rektor IAIN,” ujar Halim Munthe.

Dalam orasinya Mahasiswa yang kesal mengungkapkan kemarahannya dan menyatakan bahwa rektor king of pendzolim mahasiswa karena aksi mereka dirusak dengan tindakan represif pihak pengaman yang diduga kuat mendapat pesan dari Rektor.

Aksi dilanjutkan dengan melaksanakan sholat jenazah sebagai bentuk kepasrahan mahasiswa. Dalam kesempatan itu, Pejabat Rektor tak kunjung turun untuk menjumpai massa aksi dan akhirnya membubarkan diri sembari mengancam akan melakukan aksi kembali dengan massa yang lebih besar.

Sebelumnya kepada Sumut Pos, Rektor IAIN, Nur A Fadhil Lubis menyampaikan agar mahasiswa tersebut dapat melakukan diskusi dan berbicara dengan baik. “Unjuk rasa itu demokrasi namun bila ada yang melukai dirinya sendiri itu bukan lagi demokrasi, dalam agama juga tidak diperbolehkan melukai diri sendiri. Semuanyakan bisa didiskusikan, saya harap marilah sama-sama membangun IAIN ini. Jangan sampai malah ada kepentingan segelintir orang disini,” ujarnya.(put)

spot_img

Artikel Terkait

spot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Read

Artikel Terbaru

/