alexametrics
24.5 C
Medan
Thursday, May 19, 2022

598 Sapi di Sumut Suspek PMK

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hewan ternak diduga telah mewabah di Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Tercatat, sebanyak 598 hewan ternak sapi di Kabupaten Deliserdang dan Langkat suspek PMK.

MENYIKAPI wabah PMK ini, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi, mengumpulkan seluruh kepala dinas peternakan dari seluruh kapuaten kota untuk mengikuti rapat koordinasi pengendalian wabah ini di Aula Tengku Riza Nurdin, Rumah Dinas Gubernur, Jumat (13/5).

Hadir dalam rakor itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo secara virtual, Pangdam I/BB Mayjen TNI Daniel Chardin, Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH Kementan Nuryani Zainuddin, serta Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut Azhar Harahap.

Dalam pertemuan itu, Edy menegaskan tiga langkah yang segera diambil untuk mengantisipasi wabah PMK, pertama, mendeteksi keberadaan hewan ternak seperti sapi, kerbau dan kambing. Apakah ada indikasi (tanda klinis) seperti demam, nafsu makan hilang, lepuh di hidung, lidah, mulut dan kuku, air liur keluar secara berlebihan, serta keluar leleran dari hidung.

“Antisipasi sejak kemarin sudah kita lakukan, dan hari ini kita mengumpulkan seluruh Kadis Peternakan. Secara tertulis kita informasikan kepada bupati dan wali kota, agar segera mengambil langkah dengan kondisi yang ada ini,” katanya.

Kemudian langkah berikutnya, melakukan sosialisasi sehingga masyarakat tahu harus berbuat apa dan petugas siap melakukan apa. Serta langkah ketiga, melakukan isolasi, dengan menghentikan lalu lintas hewan ternak, seperti keluar masuk Sumut. Mengingat dari data 2.226 kasus terkonfirmasi di Provinsi Aceh, sebanyak 1.903 di antaranya terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang, yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat.

Khusus Sumut, ada dua kabupaten yang tercatat ditemukan dugaan kasus PMK yang masih perlu dipastikan terlebih dahulu ke Laboratorium PMK Pusat Veteriner Farma (Pusvetma). Yakni Kabupaten Langkat dengan total 337 kasus (hewan ternak) yang tersebar di Kecamatan Besitang dan Pematangjaya.

Serta Kabupaten Deliserdang dengan total 261 kasus dan tersebar di lima kecamatan yakni Galang, Hamparanperak, Pagarmarbau, Percut Seituan dan Tanjungmorawa. Sehingga totalnya menjadi 598 kasus. “Saya mendeteksi ini harus diantisipasi. Baik perbatasan darat atau laut, seluruhnya dihentikan. Terakhir, di pasar ternak ini harus dideteksi, ditutup sementara (pasar ternak). Tetapi bagaimana ini tidak membuat panik,” jelas Edy.

Baca Juga :  Viral! Harimau Kurus Makan Rumput, TKP Medan Zoo

Disebutnya, Pemprov Sumut sudah mengirimkan sampel darah 500 hewan ternak diduga terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) ke Pusvetma di Surabaya untuk dilakukan pengujian. “Sudah dikirim 500 ekor darah ke Surabaya pada 8 Mei lalu tepatnya ke Pusvetma di Surabaya. Jadi kita menunggu hasilnya,” ucap Edy.

Mantan Pangkostrad itu menjelaskan, kondisi hewan-hewan ternak ini berdasarkan klinisnya masih diduga PMK. Begitupun, Edy menjelaskan, sampel ini masih akan terus dipelajari dan akan dipastikan dari hasil laboratorium. “Memang kita dengar belum ada hewan yang mati karena ini. Dan, hewan ternak ini sudah kita isolasi. Khusus di Sumut hewan ternak ini ada di wilayah Besitang dan tiga kecamatan yang ada di Deliserdang. Jadi kita tunggu hasil dari Surabaya,” ujar Edy.

Sebelumnya, dalam rakor tersebut, Mentan Syahrul Yasin Limpo menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Sumut yang dinilai cepat tanggap dalam mengambil langkah antisipasi kejadian wabah PMK ini. Secara umum, kondisi ini memang mengkhawatirkan dunia, termasuk Indonesia, dimana Provinsi Aceh dan Jawa Timur menjadi yang terbanyak kasus terkonfirmasi ditemukan yakni 2.226 dan 2.917 kasus (data Ditjen PKH).

“Apapun langkah yang akan dilakukan Pemprov Sumut, kami dari Kementerian akan membantu sepenuhnya. Intinya jangan panik. Karena baru satu pekan ini kita tangani kematiannya (tergolong) kecil. Jadi jangan membuat seolah ini mengerikan. Bahwa wabah itu ada, tetapi semuanya bisa disikapi. Mari kita mengadaptasi tangangan dan wabah itu,” jelas Mentan.

Untuk itu, Mentan berharap Gubernur Sumut bisa menghimpun upaya antisipasi dimaksud. Sehingga tidak ada yang memberikan informasi sendiri-sendiri, dengan mengutamakan validasi data, serta kerja sama yang kuat setiap daerah dan unsur. “Karena itu ada Satgas tingkat nasional. Dan kami harapkan untuk tingkat provinsi dan kabupaten kota juga dibentuk. Kepada Direktorat Jenderal kami harapkan selalu berkomunikasi dengan Gubernur untuk pengobatannya. Termasuk vaksin lokal atau nasional, akan kita buat,” jelas Syahrul yang menegaskan tidak perlu membeli vaksin.

Baca Juga :  3 Waria dan 14 Wanita Terjaring Razia

Mentan juga meminta agar tidak mendramatisir keadaan, yang akan berdampak pada terganggunya tata niaga. Mengingat saat ini sudah mendekati momentum Iduladha (kurban). Sehingga untuk kebutuhan hari raya nanti, ia meminta mempersiapkan hewan yang sehat.

5 Truk Hewan Ternak dari Aceh Ditolak

Sementara, Petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara bersama aparat Kepolisian dan TNI, menolak masuknya 5 truk bermuatan hewan ternak dari Aceh menuju Sumut. Penolakan tersebut dilakukan di pos cek point Besitang, Langkat, Kamis (12/5). “Kemarin, kita tolak 5 truk membawa hewan ternak dari Aceh di Besitang,” kata Kadis Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap, kepada wartawan, Jumat (13/5).

Ditemui usai Rakor Pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Ternak di Sumut, di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur, Azhar merinci ternak yang ditolak, antara lain sapi 19 ekor dan kambing 30 ekor.

Selanjutnya, kata Azhar, petugas memaksa sopir untuk membawa kembali hewan ternak itu ke daerah asal di Aceh. Penolakan itu dilakukan sebagai upaya antisipasi dini penyebaran wabah PMK pada ternak di Sumut. “Iya kita tegas karena Pak Gubernur Sumut juga telah menginstruksikan penghentian sementara masuknya hewan-hewan ternak dari luar Sumut untuk antisipasi wabah PMK,” ujar Azhar.

Ia juga mengingatkan kepada pengusaha ternak dari luar Sumut agar sementara waktu tidak memasukkan hewan ternak ke wilayah Sumut. “Kami akan terus siaga melarangnya,” tegas Azhar.

Lebih lanjut disampaikan Kadis Azhar, Pemprov Sumut memberi atensi khusus untuk antisipasi dan pencegahan mewabahnya PMK pada ternak di Sumut. Karena itu, Azhar menyebutkan beberapa langkah antisipatif dan deteksi dini PMK telah dikeluarkan Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi. Ia mengimbau semua pihak agar mematuhi dan melaksanakannya. (gus)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hewan ternak diduga telah mewabah di Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Tercatat, sebanyak 598 hewan ternak sapi di Kabupaten Deliserdang dan Langkat suspek PMK.

MENYIKAPI wabah PMK ini, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi, mengumpulkan seluruh kepala dinas peternakan dari seluruh kapuaten kota untuk mengikuti rapat koordinasi pengendalian wabah ini di Aula Tengku Riza Nurdin, Rumah Dinas Gubernur, Jumat (13/5).

Hadir dalam rakor itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo secara virtual, Pangdam I/BB Mayjen TNI Daniel Chardin, Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH Kementan Nuryani Zainuddin, serta Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut Azhar Harahap.

Dalam pertemuan itu, Edy menegaskan tiga langkah yang segera diambil untuk mengantisipasi wabah PMK, pertama, mendeteksi keberadaan hewan ternak seperti sapi, kerbau dan kambing. Apakah ada indikasi (tanda klinis) seperti demam, nafsu makan hilang, lepuh di hidung, lidah, mulut dan kuku, air liur keluar secara berlebihan, serta keluar leleran dari hidung.

“Antisipasi sejak kemarin sudah kita lakukan, dan hari ini kita mengumpulkan seluruh Kadis Peternakan. Secara tertulis kita informasikan kepada bupati dan wali kota, agar segera mengambil langkah dengan kondisi yang ada ini,” katanya.

Kemudian langkah berikutnya, melakukan sosialisasi sehingga masyarakat tahu harus berbuat apa dan petugas siap melakukan apa. Serta langkah ketiga, melakukan isolasi, dengan menghentikan lalu lintas hewan ternak, seperti keluar masuk Sumut. Mengingat dari data 2.226 kasus terkonfirmasi di Provinsi Aceh, sebanyak 1.903 di antaranya terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang, yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat.

Khusus Sumut, ada dua kabupaten yang tercatat ditemukan dugaan kasus PMK yang masih perlu dipastikan terlebih dahulu ke Laboratorium PMK Pusat Veteriner Farma (Pusvetma). Yakni Kabupaten Langkat dengan total 337 kasus (hewan ternak) yang tersebar di Kecamatan Besitang dan Pematangjaya.

Serta Kabupaten Deliserdang dengan total 261 kasus dan tersebar di lima kecamatan yakni Galang, Hamparanperak, Pagarmarbau, Percut Seituan dan Tanjungmorawa. Sehingga totalnya menjadi 598 kasus. “Saya mendeteksi ini harus diantisipasi. Baik perbatasan darat atau laut, seluruhnya dihentikan. Terakhir, di pasar ternak ini harus dideteksi, ditutup sementara (pasar ternak). Tetapi bagaimana ini tidak membuat panik,” jelas Edy.

Baca Juga :  Ratusan Karung Baju Monza Nyaris Lolos

Disebutnya, Pemprov Sumut sudah mengirimkan sampel darah 500 hewan ternak diduga terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) ke Pusvetma di Surabaya untuk dilakukan pengujian. “Sudah dikirim 500 ekor darah ke Surabaya pada 8 Mei lalu tepatnya ke Pusvetma di Surabaya. Jadi kita menunggu hasilnya,” ucap Edy.

Mantan Pangkostrad itu menjelaskan, kondisi hewan-hewan ternak ini berdasarkan klinisnya masih diduga PMK. Begitupun, Edy menjelaskan, sampel ini masih akan terus dipelajari dan akan dipastikan dari hasil laboratorium. “Memang kita dengar belum ada hewan yang mati karena ini. Dan, hewan ternak ini sudah kita isolasi. Khusus di Sumut hewan ternak ini ada di wilayah Besitang dan tiga kecamatan yang ada di Deliserdang. Jadi kita tunggu hasil dari Surabaya,” ujar Edy.

Sebelumnya, dalam rakor tersebut, Mentan Syahrul Yasin Limpo menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Sumut yang dinilai cepat tanggap dalam mengambil langkah antisipasi kejadian wabah PMK ini. Secara umum, kondisi ini memang mengkhawatirkan dunia, termasuk Indonesia, dimana Provinsi Aceh dan Jawa Timur menjadi yang terbanyak kasus terkonfirmasi ditemukan yakni 2.226 dan 2.917 kasus (data Ditjen PKH).

“Apapun langkah yang akan dilakukan Pemprov Sumut, kami dari Kementerian akan membantu sepenuhnya. Intinya jangan panik. Karena baru satu pekan ini kita tangani kematiannya (tergolong) kecil. Jadi jangan membuat seolah ini mengerikan. Bahwa wabah itu ada, tetapi semuanya bisa disikapi. Mari kita mengadaptasi tangangan dan wabah itu,” jelas Mentan.

Untuk itu, Mentan berharap Gubernur Sumut bisa menghimpun upaya antisipasi dimaksud. Sehingga tidak ada yang memberikan informasi sendiri-sendiri, dengan mengutamakan validasi data, serta kerja sama yang kuat setiap daerah dan unsur. “Karena itu ada Satgas tingkat nasional. Dan kami harapkan untuk tingkat provinsi dan kabupaten kota juga dibentuk. Kepada Direktorat Jenderal kami harapkan selalu berkomunikasi dengan Gubernur untuk pengobatannya. Termasuk vaksin lokal atau nasional, akan kita buat,” jelas Syahrul yang menegaskan tidak perlu membeli vaksin.

Baca Juga :  3 Waria dan 14 Wanita Terjaring Razia

Mentan juga meminta agar tidak mendramatisir keadaan, yang akan berdampak pada terganggunya tata niaga. Mengingat saat ini sudah mendekati momentum Iduladha (kurban). Sehingga untuk kebutuhan hari raya nanti, ia meminta mempersiapkan hewan yang sehat.

5 Truk Hewan Ternak dari Aceh Ditolak

Sementara, Petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara bersama aparat Kepolisian dan TNI, menolak masuknya 5 truk bermuatan hewan ternak dari Aceh menuju Sumut. Penolakan tersebut dilakukan di pos cek point Besitang, Langkat, Kamis (12/5). “Kemarin, kita tolak 5 truk membawa hewan ternak dari Aceh di Besitang,” kata Kadis Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap, kepada wartawan, Jumat (13/5).

Ditemui usai Rakor Pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Ternak di Sumut, di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur, Azhar merinci ternak yang ditolak, antara lain sapi 19 ekor dan kambing 30 ekor.

Selanjutnya, kata Azhar, petugas memaksa sopir untuk membawa kembali hewan ternak itu ke daerah asal di Aceh. Penolakan itu dilakukan sebagai upaya antisipasi dini penyebaran wabah PMK pada ternak di Sumut. “Iya kita tegas karena Pak Gubernur Sumut juga telah menginstruksikan penghentian sementara masuknya hewan-hewan ternak dari luar Sumut untuk antisipasi wabah PMK,” ujar Azhar.

Ia juga mengingatkan kepada pengusaha ternak dari luar Sumut agar sementara waktu tidak memasukkan hewan ternak ke wilayah Sumut. “Kami akan terus siaga melarangnya,” tegas Azhar.

Lebih lanjut disampaikan Kadis Azhar, Pemprov Sumut memberi atensi khusus untuk antisipasi dan pencegahan mewabahnya PMK pada ternak di Sumut. Karena itu, Azhar menyebutkan beberapa langkah antisipatif dan deteksi dini PMK telah dikeluarkan Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi. Ia mengimbau semua pihak agar mematuhi dan melaksanakannya. (gus)

Most Read

Artikel Terbaru

/