alexametrics
30 C
Medan
Monday, June 27, 2022

Presiden Keenam RI Dituding Rekayasa Kasus Pembunuhan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyon didamping sejumlah pengurus Partai Demokrat memberikan keterangan pers perihal tuduhan yang dilayangkan mantan Ketua KPK Antasari Azhar di rumah pribadinya, Jakarta, Selasa (14/2/2017).–Foto: Imam Husein/Jawa Pos

SUMUTPOS.CO  – Antasari Azhar akhirnya membuka rahasia yang dipendamnya selama delapan tahun saat menjadi pesakitan. Kemarin (14/2), saat melapor ke Bareskrim, Antasari Azhar memprediksi mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berada di balik rekayasa kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang menjeratnya.

Dugaan Antasari itu berdasar pada pertemuannya dengan Harry Tanoesoedibyo (HT) yang menjadi utusan SBY pada Februari 2009, dua bulan sebelum Antasari ditahan karena kasus pembunuhan berbumbu kasus asmara tersebut. ”Dua bulan sebelum ditahan, ada orang ketemu saya di rumah. Mohon maaf, dia adalah Harry Tanoesoedibyo,” tutur mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut.

Saat pertemuan itu, HT mengaku menjadi utusan dari Cikeas. Saat Antasari bertanya, Cikeas siapa? HT menjawab bahwa SBY, yang saat itu masih menjadi presiden. ”HT diutus SBY untuk meminta pada saya agar tidak menahan Aulia Pohan, besannya,” ujarnya.

Baca Juga :  Sopir Angkot Perkosa Istri Tetangga

Saat itu, Antasari dengan tegas menolak permintaan HT yang mengklaim diutus SBY tersebut. Penolakan itu karena standar operasional prosedur (SOP) di komisi anti rasuah, yang mengharuskan seorang tersangka harus ditahan. ”Saya bilang tidak bisa, sudah SOP,” paparnya dengan nada tenang.

Antasari menceritakan, respon HT ternyata diluardugaan. ”HT menyebut waduh Pak, saya mohon betul. Nanti keselamatan bapak bagaimana,” ujar mantan jaksa tersebut dengan suara yang mulai bergetar.

Merespon pernyataan HT itu, Antasari yang wajahnya terlihat mengingat-ingat menyebut bahwa dirinya telah memilih profesi sebagai penegak hukum. ”Saya terima resikonya,” tuturnya.

Lalu, entah mengapa HT seakan pasrah. Pada Antasari, HT bertanya, apa yang harus dilaporkannya pada Ketua Umum Demokrat SBY? ”Saya minta laporkan saja begitu, itu SOP KPK yang tidak bisa diubah,” paparnya.

Baca Juga :  Tunggu Analisis Kerja dan Jabatan

Menurut Antasari, saat itu HT mengeluh bahwa posisinya bisa saja ditendang dari Cikeas. ”Pertemuan ini dekat sekali waktunya dengan penahanan saya ya, saya ditahan Maret 2009,” terangnya.

Dengan suara yang meninggi, Antasari langsung memohon pada SBY untuk jujur dan terbuka kepada publik. ”Sejak kecil saya diajarkan kejujuran, saya mohon SBY jujur. Beliau mengetahui apa yang saya alami. Beliau perintahkan siapa untuk mengkriminalisasi Antasari. Lalu apa yang dilakukan orang yang diperintah itu,” tegasnya.

Menurutnya, mengapa harus menyuruh HT untuk bertemu dirinya. Lalu, sering disebut tidak mengintervensi perkara Aulia Pohan. ”Saya tidak bisa menuruti permintaannya, lalu merasa tidak bisa mengendalikan dan meminta memproses saya,” tanyanya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyon didamping sejumlah pengurus Partai Demokrat memberikan keterangan pers perihal tuduhan yang dilayangkan mantan Ketua KPK Antasari Azhar di rumah pribadinya, Jakarta, Selasa (14/2/2017).–Foto: Imam Husein/Jawa Pos

SUMUTPOS.CO  – Antasari Azhar akhirnya membuka rahasia yang dipendamnya selama delapan tahun saat menjadi pesakitan. Kemarin (14/2), saat melapor ke Bareskrim, Antasari Azhar memprediksi mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berada di balik rekayasa kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang menjeratnya.

Dugaan Antasari itu berdasar pada pertemuannya dengan Harry Tanoesoedibyo (HT) yang menjadi utusan SBY pada Februari 2009, dua bulan sebelum Antasari ditahan karena kasus pembunuhan berbumbu kasus asmara tersebut. ”Dua bulan sebelum ditahan, ada orang ketemu saya di rumah. Mohon maaf, dia adalah Harry Tanoesoedibyo,” tutur mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut.

Saat pertemuan itu, HT mengaku menjadi utusan dari Cikeas. Saat Antasari bertanya, Cikeas siapa? HT menjawab bahwa SBY, yang saat itu masih menjadi presiden. ”HT diutus SBY untuk meminta pada saya agar tidak menahan Aulia Pohan, besannya,” ujarnya.

Baca Juga :  Sopir Angkot Perkosa Istri Tetangga

Saat itu, Antasari dengan tegas menolak permintaan HT yang mengklaim diutus SBY tersebut. Penolakan itu karena standar operasional prosedur (SOP) di komisi anti rasuah, yang mengharuskan seorang tersangka harus ditahan. ”Saya bilang tidak bisa, sudah SOP,” paparnya dengan nada tenang.

Antasari menceritakan, respon HT ternyata diluardugaan. ”HT menyebut waduh Pak, saya mohon betul. Nanti keselamatan bapak bagaimana,” ujar mantan jaksa tersebut dengan suara yang mulai bergetar.

Merespon pernyataan HT itu, Antasari yang wajahnya terlihat mengingat-ingat menyebut bahwa dirinya telah memilih profesi sebagai penegak hukum. ”Saya terima resikonya,” tuturnya.

Lalu, entah mengapa HT seakan pasrah. Pada Antasari, HT bertanya, apa yang harus dilaporkannya pada Ketua Umum Demokrat SBY? ”Saya minta laporkan saja begitu, itu SOP KPK yang tidak bisa diubah,” paparnya.

Baca Juga :  Lisnawati: Suami Saya Terlilit Utang

Menurut Antasari, saat itu HT mengeluh bahwa posisinya bisa saja ditendang dari Cikeas. ”Pertemuan ini dekat sekali waktunya dengan penahanan saya ya, saya ditahan Maret 2009,” terangnya.

Dengan suara yang meninggi, Antasari langsung memohon pada SBY untuk jujur dan terbuka kepada publik. ”Sejak kecil saya diajarkan kejujuran, saya mohon SBY jujur. Beliau mengetahui apa yang saya alami. Beliau perintahkan siapa untuk mengkriminalisasi Antasari. Lalu apa yang dilakukan orang yang diperintah itu,” tegasnya.

Menurutnya, mengapa harus menyuruh HT untuk bertemu dirinya. Lalu, sering disebut tidak mengintervensi perkara Aulia Pohan. ”Saya tidak bisa menuruti permintaannya, lalu merasa tidak bisa mengendalikan dan meminta memproses saya,” tanyanya.

Most Read

17-18 Juli, Arah Kiblat Geser

PBB Sumut Yakin Menang

Ramadan, Raillink Sepi Penumpang

Artikel Terbaru

/