27.6 C
Medan
Wednesday, February 21, 2024
spot_img
spot_img

61 Peternak di Medan Buang Bangkai Babi ke Sungai

ANGKUT: Petugas dari Dinas Lingkungan Hidup Dairi mengangkut bangkai babi untuk dikubur.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tim Reaksi Cepat (TRC) yang dibentuk Pemprov Sumatra Utara untuk mencegah dan menangani dampak virus hog kolera di Sumut, mulai menunjukkan kinerjanya. Dari hasil koordinasi dan verifikasi yang dilakukan, diketahui ada 61 peternak babi di Kota Medan yang terindikasi sengaja membuang bangkai babi ke sungain

Selain di Medan, TRC Pemprov Sumut juga melakukan hal yang sama di kabupaten/kota lainnya, khususnya di 11 kabupaten/kota yang positif terkena virus hog kolera. Hasilnya ditemukan peternak babi di Deliserdang 8 orang, dan di Langkat 4 orang yang juga diduga membuang bangkai babi di sembarang tempat.

“Untuk jumlah babinya ini variatif, seperti di Medan ada tersebar di beberapa kecamatan. Tapi dominan ada di Kecamatan Hevetia. Di Deliserdang itu di Kecamatan Hamparanperak, dan Langkat di Kecamatan Stabat. Di Medan untuk babi yang mati sebanyak 515 ekor, sementara Deliserdang dan Langkat masih kami verifikasi,” kata Kepala Biro Hukum Setdaprovsu, Andy Faisal menjawab Sumut Pos, Kamis (14/11).

Upaya yang dilakukan Pemprovsu ini, kata dia, berjalan paralel dengan pihak kepolisian. Sehingga penegakan hukum baik aspek lingkungan hidup maupun peraturan daerah, bisa berjalan maksimal. “Kami berharap pihak Polri juga bisa mengambil langkah terkait kewenangan yang ada pada mereka. Pada prinsipnya kami akan tetap berkoordinasi dengan Polri,” katanya.

Selain di ketiga daerah itu, pihaknya sedang lakukan verifikasi data peternak babi di Kabupaten Dairi dan Karo, dimana turut melibatkan Badan Intelijen Daerah guna membantu seputar informasi yang dibutuhkan. “Penanganan kasus kematian babi dan pembuangan limbah babi ini, mesti dilakukan secara integrasi baik antara instansi terkait provinsi maupun kabupaten/kota. Selain Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP), ada Dinas Lingkungan Hidup, Badan Kesbangpolinmas, termasuk Satpol PP Kota Medan dalam hal penegakan perda pelarangan ternak babi di wilayah Medan,” ujar mantan Kajari Belawan tersebut.

Lebih lanjut dikatakan Andy, kebutuhan melibatkan komunitas intelijen yang bernaung pada Badan Kesbangpolinmas Sumut, sebagai pengumpul informasi sekaitan dugaan pelaku pembuang limbah babi. Disamping itu, informasi sebelum kejadian penting diketahui agar ketahuan siapa pelaku yang sengaja membuang limbah tersebut.

“Jadi harus pengertian dengan sengajanya, supaya tidak terjadi bias lagi bahwa si pembuang limbah adalah pelakunya. Ini yang sudah kita lakukan. Dan kita juga punya PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) untuk menegakkan hukum lingkungan hidup, karena sudah ada pencemaran atas kejadian ini,” katanya.

Kemudian pihaknya berharap agar pihak kepolisian juga mengambil langkah lidik dan sidik atas kasus ini, sehingga hasilnya nanti dapat berjalan maksimal. “Sebab polisi punya kewenangan itu dan sekarang upaya inilah yang sedang kita upayakan,” pungkasnya. Diketahui, sebelum melakukan upaya inventarisir ihwal data peternak di Kota Medan, Deliserdang dan Langkat, Tim Reaksi Cepat (TRC) Penanganan Hog Cholera Babi di Sumut telah menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah instansi terkait lainnya. Baik dari provinsi sendiri maupun instansi terkait lain pada 11 kabupaten dan kota di Sumut, yang terpapar wabah tersebut. TRC sendiri dalam menyikapi hal ini, sebelumnya telah membentuk posko di kantor DKPP Sumut yang berguna sebagai wadah pengaduan warga sekaitan pembuangan limbah babi dan penyebaran hog cholera.

Bangkai Babi di Tepi Jalan Gedung Arca

Bangkai babi kembali ditemukan di Kota Medan. Kali ini bangkai babi ditemukan di tepi jalan, tepatnya di Jalan Gedung Arca, Medan Area, Kamis (14/11). Bangkai-bangkai babi itu dimasukkan dalam tiga buah goni plastik.

Temuan bangkai babi ini bermula dari kecurigaan warga melihat goni-goni di tepi Jalan Gedung Arca. Apalagi, tercium aroma tak sedap dari goni-goni tersebut. Setelah goni itu dibuka, ternyata berisi bangkai babi berukuran besar. Tiga goni berisi bangkai babi itu sudah terlihat di Jalan Gedung Arca sejak pagi pukul 08.30 WIB.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Distanla) Kota Medan, Ikhsar Risyad Marbun ketika dikonfirmasi Sumut Pos membenarkan temuan bangkai babi itu. Disebutnya, Distanla Medan telah menurunkan petugas guna mengamankan tiga karung yang berisi bangkai babi itu. “Bangkai-bangkai babi itu sudah kami amankan dan sudah dikubur. Petugas kita langsung turun ke sana, dibantu pihak kelurahan. Bangkai babinya ditanam di kawasan Sukaramai,” jelas Ikhsar.

Temuan bangkai babi ini, seakan membantah pernyataan Ikhsar sebelumnya. Di mana dia menyebutkan, Distanla Kota Medan telah melakukan sidak ke seluruh peternakan babi yang ada di Kota Medan. Hasilnya, tidak ditemukan satu ekor pun ternak babi milik warga yang terinfeksi virus hog cholera. Sehingga dia dapat menyimpulkan kalau ratusan bangkai babi yang mengapung di sejumlah sungai di Kota Medan berasal dari luar Kota Medan.

Ketika hal ini dipertanyakan kembali, Ikhsar tetap bersikukuh kalau hingga saat ini belum ditemukan adanya ternak babi warga Medan yang terkena virus hog cholera. “Bukan berarti dibuang di tengah Kota Medan, lantas itu pasti babi dari warga Medan. Sebelum pelaku tertangkap dan mengakui asal babi itu, kita tidak bisa pastikan dari mana bangkai babi itu. Kalau hasil kunjungan kami, belum ditemukan adanya babi di Medan yang terkena virus Hog Cholera,” tegasnya lagi.

Ikhsar mengatakan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Kepolisian agar segera dapat menangkap para pelaku pembuang bangkai babi tersebut. “Semoga saja cepat tertangkap, sekaligus menjadi efek jera bagi oknum-oknum lain yang berniat membuang bangkai babinya,” tandasnya.

Sementara Lurah Pasar Merah Timur, Kecamatan Medan Area, Sri Marhawati mengaku masih banyak warganya yang memelihara babi di rumahnya. “Ada di Jalan Pendidikan, masih di wilayah saya ada ternak babi, tapi nggak banyak. Kalau informasi dari Kepling di sana sekitar 60 ekorlah,” ungkap Sri, Kamis (14/11).

Selama ini, Sri mengaku, pihaknya sering mendatangi ternak babi itu. Namun setiap didatangi, warga selalu menyembunyikannya. “Kita sering datangi mereka. Tapi asal kita datangi, entah di mana disembunyikannya,” terangnya. (prn/map)

ANGKUT: Petugas dari Dinas Lingkungan Hidup Dairi mengangkut bangkai babi untuk dikubur.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Tim Reaksi Cepat (TRC) yang dibentuk Pemprov Sumatra Utara untuk mencegah dan menangani dampak virus hog kolera di Sumut, mulai menunjukkan kinerjanya. Dari hasil koordinasi dan verifikasi yang dilakukan, diketahui ada 61 peternak babi di Kota Medan yang terindikasi sengaja membuang bangkai babi ke sungain

Selain di Medan, TRC Pemprov Sumut juga melakukan hal yang sama di kabupaten/kota lainnya, khususnya di 11 kabupaten/kota yang positif terkena virus hog kolera. Hasilnya ditemukan peternak babi di Deliserdang 8 orang, dan di Langkat 4 orang yang juga diduga membuang bangkai babi di sembarang tempat.

“Untuk jumlah babinya ini variatif, seperti di Medan ada tersebar di beberapa kecamatan. Tapi dominan ada di Kecamatan Hevetia. Di Deliserdang itu di Kecamatan Hamparanperak, dan Langkat di Kecamatan Stabat. Di Medan untuk babi yang mati sebanyak 515 ekor, sementara Deliserdang dan Langkat masih kami verifikasi,” kata Kepala Biro Hukum Setdaprovsu, Andy Faisal menjawab Sumut Pos, Kamis (14/11).

Upaya yang dilakukan Pemprovsu ini, kata dia, berjalan paralel dengan pihak kepolisian. Sehingga penegakan hukum baik aspek lingkungan hidup maupun peraturan daerah, bisa berjalan maksimal. “Kami berharap pihak Polri juga bisa mengambil langkah terkait kewenangan yang ada pada mereka. Pada prinsipnya kami akan tetap berkoordinasi dengan Polri,” katanya.

Selain di ketiga daerah itu, pihaknya sedang lakukan verifikasi data peternak babi di Kabupaten Dairi dan Karo, dimana turut melibatkan Badan Intelijen Daerah guna membantu seputar informasi yang dibutuhkan. “Penanganan kasus kematian babi dan pembuangan limbah babi ini, mesti dilakukan secara integrasi baik antara instansi terkait provinsi maupun kabupaten/kota. Selain Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP), ada Dinas Lingkungan Hidup, Badan Kesbangpolinmas, termasuk Satpol PP Kota Medan dalam hal penegakan perda pelarangan ternak babi di wilayah Medan,” ujar mantan Kajari Belawan tersebut.

Lebih lanjut dikatakan Andy, kebutuhan melibatkan komunitas intelijen yang bernaung pada Badan Kesbangpolinmas Sumut, sebagai pengumpul informasi sekaitan dugaan pelaku pembuang limbah babi. Disamping itu, informasi sebelum kejadian penting diketahui agar ketahuan siapa pelaku yang sengaja membuang limbah tersebut.

“Jadi harus pengertian dengan sengajanya, supaya tidak terjadi bias lagi bahwa si pembuang limbah adalah pelakunya. Ini yang sudah kita lakukan. Dan kita juga punya PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) untuk menegakkan hukum lingkungan hidup, karena sudah ada pencemaran atas kejadian ini,” katanya.

Kemudian pihaknya berharap agar pihak kepolisian juga mengambil langkah lidik dan sidik atas kasus ini, sehingga hasilnya nanti dapat berjalan maksimal. “Sebab polisi punya kewenangan itu dan sekarang upaya inilah yang sedang kita upayakan,” pungkasnya. Diketahui, sebelum melakukan upaya inventarisir ihwal data peternak di Kota Medan, Deliserdang dan Langkat, Tim Reaksi Cepat (TRC) Penanganan Hog Cholera Babi di Sumut telah menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah instansi terkait lainnya. Baik dari provinsi sendiri maupun instansi terkait lain pada 11 kabupaten dan kota di Sumut, yang terpapar wabah tersebut. TRC sendiri dalam menyikapi hal ini, sebelumnya telah membentuk posko di kantor DKPP Sumut yang berguna sebagai wadah pengaduan warga sekaitan pembuangan limbah babi dan penyebaran hog cholera.

Bangkai Babi di Tepi Jalan Gedung Arca

Bangkai babi kembali ditemukan di Kota Medan. Kali ini bangkai babi ditemukan di tepi jalan, tepatnya di Jalan Gedung Arca, Medan Area, Kamis (14/11). Bangkai-bangkai babi itu dimasukkan dalam tiga buah goni plastik.

Temuan bangkai babi ini bermula dari kecurigaan warga melihat goni-goni di tepi Jalan Gedung Arca. Apalagi, tercium aroma tak sedap dari goni-goni tersebut. Setelah goni itu dibuka, ternyata berisi bangkai babi berukuran besar. Tiga goni berisi bangkai babi itu sudah terlihat di Jalan Gedung Arca sejak pagi pukul 08.30 WIB.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Distanla) Kota Medan, Ikhsar Risyad Marbun ketika dikonfirmasi Sumut Pos membenarkan temuan bangkai babi itu. Disebutnya, Distanla Medan telah menurunkan petugas guna mengamankan tiga karung yang berisi bangkai babi itu. “Bangkai-bangkai babi itu sudah kami amankan dan sudah dikubur. Petugas kita langsung turun ke sana, dibantu pihak kelurahan. Bangkai babinya ditanam di kawasan Sukaramai,” jelas Ikhsar.

Temuan bangkai babi ini, seakan membantah pernyataan Ikhsar sebelumnya. Di mana dia menyebutkan, Distanla Kota Medan telah melakukan sidak ke seluruh peternakan babi yang ada di Kota Medan. Hasilnya, tidak ditemukan satu ekor pun ternak babi milik warga yang terinfeksi virus hog cholera. Sehingga dia dapat menyimpulkan kalau ratusan bangkai babi yang mengapung di sejumlah sungai di Kota Medan berasal dari luar Kota Medan.

Ketika hal ini dipertanyakan kembali, Ikhsar tetap bersikukuh kalau hingga saat ini belum ditemukan adanya ternak babi warga Medan yang terkena virus hog cholera. “Bukan berarti dibuang di tengah Kota Medan, lantas itu pasti babi dari warga Medan. Sebelum pelaku tertangkap dan mengakui asal babi itu, kita tidak bisa pastikan dari mana bangkai babi itu. Kalau hasil kunjungan kami, belum ditemukan adanya babi di Medan yang terkena virus Hog Cholera,” tegasnya lagi.

Ikhsar mengatakan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Kepolisian agar segera dapat menangkap para pelaku pembuang bangkai babi tersebut. “Semoga saja cepat tertangkap, sekaligus menjadi efek jera bagi oknum-oknum lain yang berniat membuang bangkai babinya,” tandasnya.

Sementara Lurah Pasar Merah Timur, Kecamatan Medan Area, Sri Marhawati mengaku masih banyak warganya yang memelihara babi di rumahnya. “Ada di Jalan Pendidikan, masih di wilayah saya ada ternak babi, tapi nggak banyak. Kalau informasi dari Kepling di sana sekitar 60 ekorlah,” ungkap Sri, Kamis (14/11).

Selama ini, Sri mengaku, pihaknya sering mendatangi ternak babi itu. Namun setiap didatangi, warga selalu menyembunyikannya. “Kita sering datangi mereka. Tapi asal kita datangi, entah di mana disembunyikannya,” terangnya. (prn/map)

spot_img

Artikel Terkait

spot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Read

Artikel Terbaru

/