MEDAN, Sumutpos.jawapos.com– Peringatan 22 tahun Perhimpunan Masyarakat Melayu Baru Indonesia (MABIN) tak sekadar menjadi ajang silaturahmi dan buka puasa bersama. Momentum ini dimanfaatkan untuk menggulirkan gagasan strategis: pendirian pesantren maritim sebagai pusat pendidikan berbasis kelautan di kawasan Selat Malaka.
Kegiatan yang dirangkai dengan diskusi tersebut digelar di Cafe Aobi Siba City, Jalan Singgalang, Medan, Ahad (22/2/2026). Hadir sejumlah tokoh akademisi, bangsawan Melayu, hingga pimpinan organisasi kemasyarakatan.
Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat MABIN, Syarifuddin Siba, mengulas perjalanan organisasi yang telah berdiri lebih dari dua dekade dan kini berkembang di 16 provinsi. Ia menegaskan, sudah saatnya MABIN mengambil peran strategis dalam memaksimalkan potensi maritim Indonesia, khususnya di wilayah Selat Malaka dan Belawan.
“Laut kita lebih luas dari daratan. Namun masyarakat pesisir masih menghadapi persoalan kemiskinan. Pendidikan berbasis maritim menjadi jawaban jangka panjang,” ujarnya.
Baca Juga: Pemkab Langkat Terima Hibah Tanah 4,6 Hektare untuk Huntap Warga Terdampak Banjir
Gagasan tersebut mendapat dukungan luas. Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah, Sultan Deli, bersama sejumlah tokoh Melayu menyatakan komitmennya untuk mendorong terwujudnya pesantren maritim sebagai simbol kebangkitan peradaban bahari.
Dari kalangan akademisi, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Nispul Khoiri, menilai konsep pesantren maritim sebagai terobosan visioner. Menurutnya, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki kekayaan laut melimpah yang belum sepenuhnya dioptimalkan melalui pendidikan terintegrasi.
“Pesantren maritim adalah lembaga pendidikan berbasis asrama yang memadukan ilmu agama dengan keterampilan kelautan, perikanan, pelayaran, pariwisata, hingga pelestarian ekosistem pesisir,” jelasnya.
Ia optimistis, jika digarap serius, pesantren maritim pertama di Indonesia itu dapat melahirkan generasi santri yang tak hanya religius, tetapi juga memiliki kompetensi profesional di sektor maritim. Bahkan, ia menyatakan kesiapan untuk ikut berkontribusi secara nyata dalam pendiriannya.
Baca Juga: Inter vs Bodo/Glimt: Misi La Beneamata Selamatkan Wajah Italia
Senada dengan itu, praktisi pendidikan maritim Fahmi, S.T, M.Pd dari Yayasan Pendidikan Samudra berbagi pengalaman mengelola sekolah maritim selama 22 tahun. Ia menilai integrasi pendidikan agama dan vokasi maritim akan menciptakan lulusan yang adaptif dan berdaya saing.
Menjelang Kongres III MABIN di Jakarta, Syarifuddin Siba juga menyampaikan dukungan dari Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, terhadap langkah organisasi tersebut.
Forum yang berlangsung hangat dan penuh keakraban ini menjadi penanda bahwa MABIN tidak hanya merawat identitas budaya Melayu, tetapi juga mengusung agenda strategis berbasis masa depan. Pesantren maritim bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan visi besar membangun kemandirian ekonomi pesisir, memperkuat dakwah, dan menghidupkan kembali kejayaan maritim Nusantara.(dmp/han)
Editor : Johan Panjaitan