alexametrics
25 C
Medan
Sunday, August 14, 2022
spot_img

Pergerakan Tanah di Sawahlunto Picu Retakan 40 Meter

Jalan terbelah sepanjang kurang lebih 40 meter di Sawahlunto akibat adanya pergerakan tanah atau deformasi.(BNPB)

SAWAHLUNTO, SUMUTPOS.CO – Retakan tanah sepanjang kurang lebih 40 meter membelah jalanan di Perumahan Lembah Santur, di Desa Santur, Kecamatan Berangin, Sawahlunto, Sumatera Barat. Hal itu terjadi akibat adanya pergerakan tanah atau deformasi yang disebabkan oleh cuaca ekstrem yang belakangan terjadi di wilayah itu.

Berdasarkan keterangan tertulis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), cuaca ekstrem, hujan deras sejak 11 Oktober 2018 dan posisi perumahan yang terletak di kemiringan membuat pergerakan tanah ini terjadi.

“Pergerakan tanah akibat infiltrasi air hujan ke dalam tanah, bangunan rumah banyak retak dan miring, lantai rumah amblas, saluran atau drainase, dan jalan lingkungan retak-retak,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis, Jumat (2/11/2018).

Baca Juga :  Syarif Anggota Kelompok Takfir Wal Hijrah

Hingga Jumat pagi, dilaporkan pergerakan tanah yang terjadi menyebabkan empat rumah mengalami rusak berat, 12 lainnya rusak ringan, dan lima KK atau sekitar 22 jiwa harus mengungsi. Selain itu, retakan tanah yang terjadi membuat kendaraan roda empat tidak bisa melalui jalanan yang terbelah itu. Hanya kendaraan roda dua yang dapat melintas karena kondisi tanah yang amblas. Tidak ada korban jiwa pada kejadian ini.

Namun, apabila hujan masih turun dengan intensitas cukup tinggi kemungkinan pergerakan tanah susulan akan terus terjadi dan kerusakan pada bangunan rumah bisa bertambah. Untuk itu  warga diimbau untuk tetap waspada dengan adanya kemungkinan pergerakan tanah tambahan di wilayahnya.

Baca Juga :  Riau Mulai Hujan

Hingga saat ini berbagai upaya telah dilakukan oleh Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Sawahlunto untuk menangani pergerakan tanah dan mencegah terjadinya bencana susulan. Untuk menutup jalan yang retak, BPBD memasang terpal plastik untuk menutup jalan yang retak. Sementara untuk meminimalisir kejadian serupa terjadi akan dilakukan perbaikan saluran atau drainase di kawasan perumahan yang banyak terdapat retak dan patah. (kps)

Jalan terbelah sepanjang kurang lebih 40 meter di Sawahlunto akibat adanya pergerakan tanah atau deformasi.(BNPB)

SAWAHLUNTO, SUMUTPOS.CO – Retakan tanah sepanjang kurang lebih 40 meter membelah jalanan di Perumahan Lembah Santur, di Desa Santur, Kecamatan Berangin, Sawahlunto, Sumatera Barat. Hal itu terjadi akibat adanya pergerakan tanah atau deformasi yang disebabkan oleh cuaca ekstrem yang belakangan terjadi di wilayah itu.

Berdasarkan keterangan tertulis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), cuaca ekstrem, hujan deras sejak 11 Oktober 2018 dan posisi perumahan yang terletak di kemiringan membuat pergerakan tanah ini terjadi.

“Pergerakan tanah akibat infiltrasi air hujan ke dalam tanah, bangunan rumah banyak retak dan miring, lantai rumah amblas, saluran atau drainase, dan jalan lingkungan retak-retak,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis, Jumat (2/11/2018).

Baca Juga :  Sambut HUT ke 129, Sawahlunto Gelar Multikultural Festival 2017

Hingga Jumat pagi, dilaporkan pergerakan tanah yang terjadi menyebabkan empat rumah mengalami rusak berat, 12 lainnya rusak ringan, dan lima KK atau sekitar 22 jiwa harus mengungsi. Selain itu, retakan tanah yang terjadi membuat kendaraan roda empat tidak bisa melalui jalanan yang terbelah itu. Hanya kendaraan roda dua yang dapat melintas karena kondisi tanah yang amblas. Tidak ada korban jiwa pada kejadian ini.

Namun, apabila hujan masih turun dengan intensitas cukup tinggi kemungkinan pergerakan tanah susulan akan terus terjadi dan kerusakan pada bangunan rumah bisa bertambah. Untuk itu  warga diimbau untuk tetap waspada dengan adanya kemungkinan pergerakan tanah tambahan di wilayahnya.

Baca Juga :  KPK, Polri, dan Kejagung Mencair

Hingga saat ini berbagai upaya telah dilakukan oleh Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Sawahlunto untuk menangani pergerakan tanah dan mencegah terjadinya bencana susulan. Untuk menutup jalan yang retak, BPBD memasang terpal plastik untuk menutup jalan yang retak. Sementara untuk meminimalisir kejadian serupa terjadi akan dilakukan perbaikan saluran atau drainase di kawasan perumahan yang banyak terdapat retak dan patah. (kps)

spot_imgspot_imgspot_img

Most Read

Artikel Terbaru

/