26.7 C
Medan
Friday, March 24, 2023

Harga Emas Batangan Rp579 Ribu

SURABAYA-Emas kembali menjadi perhatian para investor. Sempat mengalami kondisi harga stagnan pada semester pertama, harga logam mulia mulai terkerek dengan cepat memasuki awal semester kedua. Kenaikannya berkisar 5 persen dalam sepekan.

BATANGAN: Emas batangan  toko emas  Pringgan Medan.//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS
BATANGAN: Emas batangan di toko emas di Pringgan Medan.//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS

Tadi malam, harga emas tercatat USD 1.740 troy per once. Sedangkan, logam mulia produk Antam tercatat Rp579.000 per gram. Ini adalah kenaikan yang ketiga dalam tiga pekan berturut-turut.

Menurut Dirut First State Futures Hans Setiadi, tren naiknya harga emas masih tinggi. Alasannya, rata-rata kenaikan harga sepanjang tahun ini masih 10 persen. Padahal, harga emas minimal tumbuh 15 sampai 20 persen. “Bisa mencapai USD 1.800 hingga USD 1.850,” prediksinya.

Pemicu harga lainnya adalah pasar masih ragu dengan kondisi ekonomi AS. US Non-Farm Payrolls (data penambahan pekerjaan di AS), yang dirilis Jumat pekan lalu (7/9, melemah di bawah ekspektasi para ekonom yakni 96.000 berbanding 125.000. Otoritas moneter Paman Sam, tambahnya, bakal mengeluarkan stimulus dengan mencetak uang baru. “Ini membuat USD bakal melemah, sehingga portofolio banyak dialihkan ke emas. Sedangkan, saham belum stabil,” paparnya.

Pada akhir perdagangan di bursa Nymex akhir pekan lalu harga emas membukukan peningkatan tajam. Logam mulai ini mencapai level tertinggi dalam 6,5 bulan. Harga emas spot mengalami penutupan pada posisi USD 1736.55 pada Sabtu (8/9) dini hari. Harga tersebut mengalami kenaikan signifikan sebesar USD 36,5. Sehari sebelumnya, posisi harian tertinggi adalah USD  1741,5 dolar yang sekaligus merupakan harga termahal sejak 29 Februari.

Penjualan Meningkat 30 Persen

Di Medan, harga emas pada pembukaan perdagangan Senin Pagi (10/9) kemarin mengalami peningkatan menjadi Rp532 ribu per gram. Padahal pada harga penutupan pada perdagangan Sabtu Sore pada level Rp530 ribu per gram. Sedangkan harga penutupan pada Senin sore harga logam mulia ini berkisar Rp531 ribu per gram.

Menurut seorang penjual emas di Pringgan, Edi Suranta, kenaikan harga emas ini membuat masyarakat memilih untuk menjual emas batangannya. Bahkan, peningkatan penjualanan emas batangan ini hingga 30 persen. “Harga emas terus meningkat, jadi masyarakat lebih memilih menjual emas batangan mereka dibandingkan dengan emas perhiasan,” ungkapnya, kemarin.

Dijelaskannya, pilihan masyarakat menjual emas batangan ini mempengaruhi pendapatannya. Pasalnya, saat penjualanan tidak ada harga potongan, sementara harga potongan itu menjadi pemasukan bagi pedagang emas. “Kalau perhiasan ada potongan sebesar Rp10 ribu per gram yang merupakan upah pembuatan perhiasan, tapi kalau emas batangan kita harus bayar sebesar mungkin. Paling potongannya hanya seribu rupiah per gram,” ungkap Edi.

Untuk kenaikan harga emas ini, sesuai dengan kondisi internasional. Apalagi, saat ini berbagai kebijakan di Amerika Serikat dan Eropa yang sangat mempengaruhi. Terutama saat Bank Sentral Amerika yang mengeluarkan kebijakan untuk melemparkan dana ke pasar, sehingga perekonomian di Amerika bisa kembali meningkat.  Sedangkan untuk Eropa ada kemungkinan untuk mengeluarkan kebijakan yang sama pada 12 September mendatang. “Kalau pertemuan ini terjadi, ada kemungkinan harga akan kembali naik, atau efek kebijakan tersebut bisa dirasakan pada 13 September mendatang,” tambahnya.
Sementara itu, harga dari Asosiasi Pedagang Emas dan Permata (Apepi) menyatakan, pada perdagangan Senin sore (10/9) kemarin, harga penutupan perdagangan sebesar Rp531,500 per gram. (dio/kim/jpnn/ram)

SURABAYA-Emas kembali menjadi perhatian para investor. Sempat mengalami kondisi harga stagnan pada semester pertama, harga logam mulia mulai terkerek dengan cepat memasuki awal semester kedua. Kenaikannya berkisar 5 persen dalam sepekan.

BATANGAN: Emas batangan  toko emas  Pringgan Medan.//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS
BATANGAN: Emas batangan di toko emas di Pringgan Medan.//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS

Tadi malam, harga emas tercatat USD 1.740 troy per once. Sedangkan, logam mulia produk Antam tercatat Rp579.000 per gram. Ini adalah kenaikan yang ketiga dalam tiga pekan berturut-turut.

Menurut Dirut First State Futures Hans Setiadi, tren naiknya harga emas masih tinggi. Alasannya, rata-rata kenaikan harga sepanjang tahun ini masih 10 persen. Padahal, harga emas minimal tumbuh 15 sampai 20 persen. “Bisa mencapai USD 1.800 hingga USD 1.850,” prediksinya.

Pemicu harga lainnya adalah pasar masih ragu dengan kondisi ekonomi AS. US Non-Farm Payrolls (data penambahan pekerjaan di AS), yang dirilis Jumat pekan lalu (7/9, melemah di bawah ekspektasi para ekonom yakni 96.000 berbanding 125.000. Otoritas moneter Paman Sam, tambahnya, bakal mengeluarkan stimulus dengan mencetak uang baru. “Ini membuat USD bakal melemah, sehingga portofolio banyak dialihkan ke emas. Sedangkan, saham belum stabil,” paparnya.

Pada akhir perdagangan di bursa Nymex akhir pekan lalu harga emas membukukan peningkatan tajam. Logam mulai ini mencapai level tertinggi dalam 6,5 bulan. Harga emas spot mengalami penutupan pada posisi USD 1736.55 pada Sabtu (8/9) dini hari. Harga tersebut mengalami kenaikan signifikan sebesar USD 36,5. Sehari sebelumnya, posisi harian tertinggi adalah USD  1741,5 dolar yang sekaligus merupakan harga termahal sejak 29 Februari.

Penjualan Meningkat 30 Persen

Di Medan, harga emas pada pembukaan perdagangan Senin Pagi (10/9) kemarin mengalami peningkatan menjadi Rp532 ribu per gram. Padahal pada harga penutupan pada perdagangan Sabtu Sore pada level Rp530 ribu per gram. Sedangkan harga penutupan pada Senin sore harga logam mulia ini berkisar Rp531 ribu per gram.

Menurut seorang penjual emas di Pringgan, Edi Suranta, kenaikan harga emas ini membuat masyarakat memilih untuk menjual emas batangannya. Bahkan, peningkatan penjualanan emas batangan ini hingga 30 persen. “Harga emas terus meningkat, jadi masyarakat lebih memilih menjual emas batangan mereka dibandingkan dengan emas perhiasan,” ungkapnya, kemarin.

Dijelaskannya, pilihan masyarakat menjual emas batangan ini mempengaruhi pendapatannya. Pasalnya, saat penjualanan tidak ada harga potongan, sementara harga potongan itu menjadi pemasukan bagi pedagang emas. “Kalau perhiasan ada potongan sebesar Rp10 ribu per gram yang merupakan upah pembuatan perhiasan, tapi kalau emas batangan kita harus bayar sebesar mungkin. Paling potongannya hanya seribu rupiah per gram,” ungkap Edi.

Untuk kenaikan harga emas ini, sesuai dengan kondisi internasional. Apalagi, saat ini berbagai kebijakan di Amerika Serikat dan Eropa yang sangat mempengaruhi. Terutama saat Bank Sentral Amerika yang mengeluarkan kebijakan untuk melemparkan dana ke pasar, sehingga perekonomian di Amerika bisa kembali meningkat.  Sedangkan untuk Eropa ada kemungkinan untuk mengeluarkan kebijakan yang sama pada 12 September mendatang. “Kalau pertemuan ini terjadi, ada kemungkinan harga akan kembali naik, atau efek kebijakan tersebut bisa dirasakan pada 13 September mendatang,” tambahnya.
Sementara itu, harga dari Asosiasi Pedagang Emas dan Permata (Apepi) menyatakan, pada perdagangan Senin sore (10/9) kemarin, harga penutupan perdagangan sebesar Rp531,500 per gram. (dio/kim/jpnn/ram)

Most Read

Artikel Terbaru

/