29 C
Medan
Friday, February 23, 2024
spot_img
spot_img

Atasi Macet dengan Sistem Stiker

JAKARTA – Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Kota Medan juga menghadapi permasalahan kemacetan seperti yang dialami kota-kota besar lain di dunia. Bahkan saking parahnya, kemacetan mulai meluas hingga ke sejumlah jalan-jalan protokol yang ada.

Melihat persoalan ini, pengamat transportasi perkotaan Azas Tigor Nainggolan mengaku tidak heran jika beban biaya hidup masyarakat semakin bertambahn
Hal ini dipicu biayaa transportasi yang meningkat Semisal angkutan umum yang sehari-hari dapat melintas 8 kali pulang pergi, menjadi hanya 5 kali. Belum lagi jumlah penggunaan bahan bakar, juga pasti meningkat.

Untuk menghadapi persoalan ini, Tigor menilai tidak ada salahnya Pemerintah Kota Medan belajar dari langkah yang dilakukan di sejumlah kota-kota di Jerman. “Disana sudah diberlakukan kendaraan-kendaraan harus menggunakan stiker. Nah stiker-stiker ini memerlihatkan sejauh mana emisi gas buang dari kendaraan tersebut,” katanya di Jakarta, Senin (29/1).

Pemerintah di sejumlah kota di Jerman, membagi stiker tersebut dalam tiga bagian. Masing-masing berwarna Merah, Kuning dan Hijau. “Kalau kendaraan tersebut menggunakan stiker merah, berarti emisi gas buangnya sangat jelek dan karena dapat merusak lingkungan. Nah kendaraan seperti ini benar-benar sangat dibatasi ruang geraknya,” katanya.

Sementara jika berstiker kuning, kendaraan tersebut menurut Tigor hanya dapat beroperasi di pinggir atau hanya di beberapa bagian di jalan-jalan di tengah kota. “Tapi kalau berstiker hijau, kendaraan ini dapat melintasi semua jalan-jalan yang ada,” katanya.

Menariknya, usulan penggunaan stiker tidak hanya bermanfaat mengatasi kemacetan. Karena banyak kendaraan yang beroperasi di Indonesia atau pun di Medan, memiliki emisi gas buang yang jelek. Sehingga dengan penggunaan stiker, ruang geraknya sangat terbatasi. “Selain itu penggunaan stiker ini juga sekaligus bermanfaat menjaga lingkungan,” katanya.

Karena itu pria yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan
Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), yakin model stiker cukup efektif diberlakukan.(gir)

JAKARTA – Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Kota Medan juga menghadapi permasalahan kemacetan seperti yang dialami kota-kota besar lain di dunia. Bahkan saking parahnya, kemacetan mulai meluas hingga ke sejumlah jalan-jalan protokol yang ada.

Melihat persoalan ini, pengamat transportasi perkotaan Azas Tigor Nainggolan mengaku tidak heran jika beban biaya hidup masyarakat semakin bertambahn
Hal ini dipicu biayaa transportasi yang meningkat Semisal angkutan umum yang sehari-hari dapat melintas 8 kali pulang pergi, menjadi hanya 5 kali. Belum lagi jumlah penggunaan bahan bakar, juga pasti meningkat.

Untuk menghadapi persoalan ini, Tigor menilai tidak ada salahnya Pemerintah Kota Medan belajar dari langkah yang dilakukan di sejumlah kota-kota di Jerman. “Disana sudah diberlakukan kendaraan-kendaraan harus menggunakan stiker. Nah stiker-stiker ini memerlihatkan sejauh mana emisi gas buang dari kendaraan tersebut,” katanya di Jakarta, Senin (29/1).

Pemerintah di sejumlah kota di Jerman, membagi stiker tersebut dalam tiga bagian. Masing-masing berwarna Merah, Kuning dan Hijau. “Kalau kendaraan tersebut menggunakan stiker merah, berarti emisi gas buangnya sangat jelek dan karena dapat merusak lingkungan. Nah kendaraan seperti ini benar-benar sangat dibatasi ruang geraknya,” katanya.

Sementara jika berstiker kuning, kendaraan tersebut menurut Tigor hanya dapat beroperasi di pinggir atau hanya di beberapa bagian di jalan-jalan di tengah kota. “Tapi kalau berstiker hijau, kendaraan ini dapat melintasi semua jalan-jalan yang ada,” katanya.

Menariknya, usulan penggunaan stiker tidak hanya bermanfaat mengatasi kemacetan. Karena banyak kendaraan yang beroperasi di Indonesia atau pun di Medan, memiliki emisi gas buang yang jelek. Sehingga dengan penggunaan stiker, ruang geraknya sangat terbatasi. “Selain itu penggunaan stiker ini juga sekaligus bermanfaat menjaga lingkungan,” katanya.

Karena itu pria yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan
Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), yakin model stiker cukup efektif diberlakukan.(gir)

spot_img

Artikel Terkait

spot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Most Read

Artikel Terbaru

/