JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com- Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel menimbulkan gangguan serius pada jadwal penerbangan umrah Indonesia. Serangan ke Iran memaksa sejumlah negara di kawasan Teluk menutup transportasi udara, memengaruhi keberangkatan maupun pemulangan jamaah umrah.
Biasanya Ramadan dan Syawal menjadi momen puncak keberangkatan jamaah. Namun tahun ini, situasi perang memaksa pemerintah dan penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) menyesuaikan jadwal secara darurat. Per 5 Maret 2026, tercatat 14.796 jamaah umrah Indonesia sudah pulang, sedangkan 158 jamaah masih menunggu penjadwalan ulang penerbangan ke tanah air.
Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha, menyebutkan pendampingan terus dilakukan bersama KJRI Jeddah dan Satgas Bandara King Abdul Azis, termasuk penempatan jamaah di hotel atau tempat transit agar tidak terlantar selama menunggu kepulangan.
"Kami mengimbau jamaah tetap tenang, berkumpul dalam rombongan, dan mengikuti informasi resmi pemerintah. Selama menunggu, jamaah diharapkan menjaga kebugaran dan rutin mengonsumsi air putih," kata Ichsan.
Pemerintah juga berkoordinasi dengan Kemenhub dan maskapai untuk mempercepat penjadwalan ulang, terutama bagi penerbangan transit di Abu Dhabi, Doha, dan Dubai. Sekitar 70 persen penerbangan umrah menggunakan rute transit, sedangkan penerbangan langsung dari Indonesia ke Arab Saudi tetap berjalan lancar karena melewati jalur selatan Iran.
Menurut Wakil Ketua Aliansi Pengusaha Haramain Seluruh Indonesia (Asphirasi), Syarif Hidayatullah, maskapai seperti Etihad Airways dan Qatar Airways kini melakukan penerbangan darurat dengan pengawalan ketat demi mengurangi penumpukan jamaah di negara transit.
Pemerintah Indonesia tidak mengeluarkan travel warning resmi, hanya mengimbau penundaan keberangkatan untuk jamaah transit agar tidak terjadi kepanikan. Syarif menekankan pentingnya solusi yang jelas dari travel dan pemerintah, mengingat pembatalan mendadak dapat menimbulkan kerugian akomodasi dan logistik bagi pihak penyelenggara.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa koordinasi intensif antara pemerintah, maskapai, dan PPIU sangat krusial untuk memastikan jamaah umrah tetap aman dan proses kepulangan berjalan lancar meski terjadi konflik di kawasan Timur Tengah.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan