alexametrics
23.9 C
Medan
Wednesday, October 5, 2022

Hang Tuah, Hang Jebat, Ferdy Sambo

Oleh : Affan Bey Hutasuhut (Wartawan Majalah TEMPO (1987-1994))

SETIAP jenderal pengecut dan siapa pun yang nekat mencabik-cabik hukum dan kebenaran yang hakiki sama saja dengan melumuri wajahnya dengan aib. Apalagi biangnya adalah hamba hukum sekelas Irjen Ferdy Sambo yang dituduh membunuh ajudannya Bripda Joshua Hutabarat.

Tragedi berdarah ini bahkan masih dibungkus oleh Ferdy secara berjamaah bersama puluhan sejawatnya sesama polisi agar tabiat buruk ini tidak merebak. Ada peran yang menghilangkan barang bukti CCTV, ada yang menyusun skenario, dan lainnya.

Entah apa rahasianya mengapa sampai tiga jenderal, puluhan perwira menengah bisa terjebak dalam permainan kotor Ferdy Sambo. Apakah karena segepok duit, membela kawan satu korps, atau jadi pelampung agar aib tidak diungkap oleh atasan.

Namun apapun alasannya, rasanya kita perlu bercermin dengan sikap kesatria Hang Tuah. Bagi Laksamana atau Panglima Angkatan Laut Kemaharajaan Melayu Melaka ini kesetiaan negara mutlak harga mati. Tak ada tawar menawar, sekalipun berhadapan dengan empat sahabat sejatinya, Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu.

Padahal, lima pendekar ini tersohor ketangguhannya di tanah semenanjung melayu karena kekukuhan persahabatan yang sejati. Lima Wira Melayu ini selalu tampil gagah menghadapi lawan yang coba mengusik keamanan di Kerajaan Melayu Melaka. Namun demi kesetiaan kepada negara, Hang Tuah rela menikam Hang Jebat dengan keris dalam duel maut yang tak bisa dihindari.

Baca Juga :  Guru Modal Dasar Pembangunan Bangsa?

Difitnah Berzina Dengan Isteri Sultan

Menurut catatan sejarah, tragedi berdarah ni bermula dengan murkanya Sultan Mansyur Syah yang mendengar salah satu isterinya telah berzina dengan Hang Tuah. Sultan lalu menghukum mati Hang Tuah dan memerintahkan penghulu bendahari yang bergelar Seri Nara Diraja sebagai eksekutornya.

Namun perintah tidak dilakukan oleh Seri Nara Diraja mengingat jasanya yang begitu besar terhadap negara. Sebagai gantinya, diam-diam Hang Tuah di penjara di tepi hutan dalam keadaan penderitaan lahir dan batin yang perih.

Musibah Hang Tuah ini sampai ke telinga Hang Jebat. Sebagai sahabat, ia tak tega melihat kezaliman yang diperlakukan kepada Hang Tuah. Ia marah dan menuntut balas dengan menyerang istana Sultan Mansyur Syah. Ia mengamuk, Isteri sultan penyebab fitnah dibunuhnya. Karena amarah makin menjadi-jadi hingga istana porak-poranda Sultan kabur dari istana.

Dalam pelariannya Sultan menyesal telah memvonis mati Hang Tuah. Dia menyadari kalau saja pendekar itu masih hidup tak akan ada yang berani membunuh keluarganya. Keluh kesahnya ini disampaian kepada Seri Nara Diraja.

Baca Juga :  Korupsi jadi Kompetisi

Melihat kesedihan Sultan, maka Seri Nara Diraja membuka rahasia bahwa ia urung membunuh Hang Tuah. Mendengar ini Sultan senang dan segera memerintahkan agar Hang Tuah dijemput untuk mengatasi kemarahan Hang Jebat.

Tragedi berdarah pun tak terhindarkan. Meski Hang Jebat mengatakan melakukan itu untuk membela Hang Tuah, tapi tak dianggap. Atas nama setia negara, Hang Tuah tetap menentang sikap kesetiakawanan Hang Jebat. Perkelahian antara kedua pendekar ini pun tak terelakkan hingga Hang Jebat terbunuh ditikam keris.

Kendati demikian sikap patriotis Hang Tuah tidak serta merta dinilai sebagai seorang pahlawan. Pendapat khalayak di Semenanjung Malayu terbelah dua hingga kini. Hang Jebat justru dinilai berhati mulia karena ingin menuntut balas kezaliman Sultan terhadap Hang Tuah. Sementara Hang Tuah bertindak atas titah sultan untuk keselamatan kerajaan.

Terlepas dari perbedaan tersebut tetap saja spirit api setia negara tak boleh padam. Jika tidak maka secara perlahan sikap nasionalisme akan terus memudar hingga dengan mudahnya memicu perpecahan sesama anak bangsa, mafia bin mafia tumbuh subur, generasi muda jadi apatis.

Sekali Merdeka tetap Merdeka

Dirgahayu HUT ke-77 RI!

 

Oleh : Affan Bey Hutasuhut (Wartawan Majalah TEMPO (1987-1994))

SETIAP jenderal pengecut dan siapa pun yang nekat mencabik-cabik hukum dan kebenaran yang hakiki sama saja dengan melumuri wajahnya dengan aib. Apalagi biangnya adalah hamba hukum sekelas Irjen Ferdy Sambo yang dituduh membunuh ajudannya Bripda Joshua Hutabarat.

Tragedi berdarah ini bahkan masih dibungkus oleh Ferdy secara berjamaah bersama puluhan sejawatnya sesama polisi agar tabiat buruk ini tidak merebak. Ada peran yang menghilangkan barang bukti CCTV, ada yang menyusun skenario, dan lainnya.

Entah apa rahasianya mengapa sampai tiga jenderal, puluhan perwira menengah bisa terjebak dalam permainan kotor Ferdy Sambo. Apakah karena segepok duit, membela kawan satu korps, atau jadi pelampung agar aib tidak diungkap oleh atasan.

Namun apapun alasannya, rasanya kita perlu bercermin dengan sikap kesatria Hang Tuah. Bagi Laksamana atau Panglima Angkatan Laut Kemaharajaan Melayu Melaka ini kesetiaan negara mutlak harga mati. Tak ada tawar menawar, sekalipun berhadapan dengan empat sahabat sejatinya, Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu.

Padahal, lima pendekar ini tersohor ketangguhannya di tanah semenanjung melayu karena kekukuhan persahabatan yang sejati. Lima Wira Melayu ini selalu tampil gagah menghadapi lawan yang coba mengusik keamanan di Kerajaan Melayu Melaka. Namun demi kesetiaan kepada negara, Hang Tuah rela menikam Hang Jebat dengan keris dalam duel maut yang tak bisa dihindari.

Baca Juga :  Korupsi jadi Kompetisi

Difitnah Berzina Dengan Isteri Sultan

Menurut catatan sejarah, tragedi berdarah ni bermula dengan murkanya Sultan Mansyur Syah yang mendengar salah satu isterinya telah berzina dengan Hang Tuah. Sultan lalu menghukum mati Hang Tuah dan memerintahkan penghulu bendahari yang bergelar Seri Nara Diraja sebagai eksekutornya.

Namun perintah tidak dilakukan oleh Seri Nara Diraja mengingat jasanya yang begitu besar terhadap negara. Sebagai gantinya, diam-diam Hang Tuah di penjara di tepi hutan dalam keadaan penderitaan lahir dan batin yang perih.

Musibah Hang Tuah ini sampai ke telinga Hang Jebat. Sebagai sahabat, ia tak tega melihat kezaliman yang diperlakukan kepada Hang Tuah. Ia marah dan menuntut balas dengan menyerang istana Sultan Mansyur Syah. Ia mengamuk, Isteri sultan penyebab fitnah dibunuhnya. Karena amarah makin menjadi-jadi hingga istana porak-poranda Sultan kabur dari istana.

Dalam pelariannya Sultan menyesal telah memvonis mati Hang Tuah. Dia menyadari kalau saja pendekar itu masih hidup tak akan ada yang berani membunuh keluarganya. Keluh kesahnya ini disampaian kepada Seri Nara Diraja.

Baca Juga :  Guru Modal Dasar Pembangunan Bangsa?

Melihat kesedihan Sultan, maka Seri Nara Diraja membuka rahasia bahwa ia urung membunuh Hang Tuah. Mendengar ini Sultan senang dan segera memerintahkan agar Hang Tuah dijemput untuk mengatasi kemarahan Hang Jebat.

Tragedi berdarah pun tak terhindarkan. Meski Hang Jebat mengatakan melakukan itu untuk membela Hang Tuah, tapi tak dianggap. Atas nama setia negara, Hang Tuah tetap menentang sikap kesetiakawanan Hang Jebat. Perkelahian antara kedua pendekar ini pun tak terelakkan hingga Hang Jebat terbunuh ditikam keris.

Kendati demikian sikap patriotis Hang Tuah tidak serta merta dinilai sebagai seorang pahlawan. Pendapat khalayak di Semenanjung Malayu terbelah dua hingga kini. Hang Jebat justru dinilai berhati mulia karena ingin menuntut balas kezaliman Sultan terhadap Hang Tuah. Sementara Hang Tuah bertindak atas titah sultan untuk keselamatan kerajaan.

Terlepas dari perbedaan tersebut tetap saja spirit api setia negara tak boleh padam. Jika tidak maka secara perlahan sikap nasionalisme akan terus memudar hingga dengan mudahnya memicu perpecahan sesama anak bangsa, mafia bin mafia tumbuh subur, generasi muda jadi apatis.

Sekali Merdeka tetap Merdeka

Dirgahayu HUT ke-77 RI!

 

Most Read

Artikel Terbaru

/