
By: Fahmi Prayoga, S.E
Economist, Public Policy Analyst, and Researcher of SmartID
Ada satu ironi kecil dalam ekonomi kita. Sesuatu yang tidak terlihat sering kali justru paling menentukan. Dolar Amerika Serikat, misalnya, hampir tidak pernah muncul di warung kopi di Mandailing Natal, kios pupuk di Simalungun, pasar ikan di Sibolga, atau kedai sembako di pelosok Langkat. Orang membeli beras, cabai, minyak goreng, telur, gula, dan ongkos angkut tetap dengan rupiah.
Tetapi ekonomi tidak selalu bekerja melalui benda yang tampak. Ia bekerja melalui hubungan yang panjang: harga energi, biaya logistik, bahan baku impor, pupuk, pakan ternak, obat-obatan, mesin, suku cadang, dan ekspektasi produsen. Di sana, dolar bisa hadir tanpa perlu masuk ke laci kasir warung.
Karena itu, mengatakan bahwa masyarakat desa tidak terpengaruh oleh dolar hanya karena mereka tidak memakai dolar adalah kesimpulan yang terlalu cepat. Benar secara kasatmata, tetapi lemah secara ekonomi. Sama seperti mengatakan bahwa seseorang tidak terkena hujan hanya karena ia tidak melihat awan. Padahal airnya sudah membasahi jalan.
Kurs sebagai Jembatan Biaya
Kurs bukan sekadar angka di layar bank. Ia bukan hanya urusan importir besar, pejabat yang bepergian ke luar negeri, atau pengusaha yang membayar utang dalam valuta asing. Dalam ekonomi terbuka, kurs adalah jembatan antara harga dunia dan harga lokal. Ketika rupiah melemah, jembatan itu membawa beban dari luar ke dalam negeri.
Baca Juga: Google Maps Heboh, Muncul Lokasi ‘Gorong-Gorong Jokowi’ hingga Jadi Perbincangan Warganet
Beban itu tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia datang pelan-pelan. Hari ini rupiah melemah, besok harga belum berubah. Tetapi beberapa pekan kemudian, biaya angkut naik, harga pupuk bergerak, minyak goreng menyesuaikan, pakan ternak lebih mahal, dan barang kemasan di warung ikut berubah. Rakyat mungkin tidak membaca pergerakan kurs setiap pagi. Namun mereka membaca dampaknya di nota belanja.
Di Sumatera Utara, hubungan itu mudah dibayangkan. Petani di Karo membutuhkan pupuk dan pestisida. Peternak di Deli Serdang membutuhkan pakan. Nelayan di Pantai Barat membutuhkan BBM, es, dan peralatan. Pedagang kecil membutuhkan ongkos distribusi yang stabil. Jika sebagian dari rantai biaya itu bergantung pada harga impor atau energi, maka pelemahan rupiah akan ikut memengaruhi harga akhir yang dibayar masyarakat.



