Anang Anas Azhar, Wartawan 'Profesor Berita' Kini jadi Profesor UIN Sumatera Utara

Sumutpos.jawapos.com-Disebuah pagi yang cerah di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, langkah-langkah akademik mencapai puncaknya, Rabu (22/4) sebagai peneguhan perjalanan panjang seorang anak kampung yang menapaki dunia ilmu hingga ke titik tertinggi yakni guru besar.
Di Gelanggang Mahasiswa H.M. Arsjad Thalib Lubis Medan, suasana sidang senat terbuka terasa penuh wibawa. Dipimpin Ketua Senat UIN Sumatera Utara Prof. Pagar Hasibuan didampingi Rektor UIN Sumatera Utara Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag pengukuhan itu menjadi saksi lahirnya seorang profesor di bidang komunikasi politik Islam. Prof. Dr. Anang Anas Azhar, M.A adalah satu dari 14 guru besar UIN Sumatera Utara yang dikukuhkan.
Yang membuat momen itu lebih dari sekadar seremoni adalah gagasan yang ia bawa sebuah kegelisahan akademik yang terasa sangat dekat dengan realitas politik. Dalam pidato pengukuhannya bertajuk 'Pencitraan Politik Islam: Memadukan Konsep dan Aplikasi Kampanye Politik ala Islam'. Prof. Dr. Anang Anas Azhar, M.A menguliti fenomena yang kian akrab di mata publik: politik pencitraan.
Guru besar UIN Sumatera Utara ini tidak menampik bahwa dalam sistem demokrasi modern, pencitraan adalah bagian tak terelakkan. Namun, dititik itulah ia mengajukan pertanyaan mendasar-apakah citra dibangun dari integritas, atau sekadar rekayasa persepsi?
Dalam perspektif Islam, lanjutnya, komunikasi politik tidak berdiri di ruang bebas nilai. Ia terikat pada prinsip moral, kejujuran dan tanggung jawab. Mengutip spirit qaulan sadida, ia menegaskan bahwa setiap pesan politik harus lurus, benar dan tidak menyesatkan.
Baca Juga: Imigrasi Belawan Hadirkan Eazy Paspor di Pujakesuma
Dalam konteks yang lebih luas, ia mengingatkan bahwa politik dalam Islam bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan bentuk pengabdian. Reputasi pemimpin tidak lahir dari strategi komunikasi yang canggih, tetapi dari konsistensi akhlak.
Ditengah era disinformasi dan propaganda digital, gagasan ini terasa seperti oase: mengembalikan politik pada etika, bukan sekadar elektabilitas.
Tak berhenti pada kritik, Prof. Dr. Anang Anas Azhar, M.A menawarkan tiga gagasan penting yang menjadi inti pemikirannya. Pertama, menggeser makna pencitraan dari simbol ke akhlak.bPolitik Islam, menurutnya, tidak boleh berhenti pada simbol religius atau jargon keagamaan. Yang utama adalah bagaimana nilai kejujuran, keadilan dan amanah benar-benar hidup dalam tindakan politik.
Kedua, menempatkan ulama sebagai penjaga etika, bukan sekadar 'stempel politik'. Ia menyoroti kecenderungan menjadikan tokoh agama sebagai alat legitimasi kekuasaan. Padahal, ulama seharusnya hadir sebagai penuntun moral yang menjaga demokrasi tetap sehat.



