
MEDAN –Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) mendukung dekarbonisasi transportasi umum di Kota Medan melalui komunitas Transgo Medan. Komunitas pemuda yang didirikan Muaz Alfattah Fadhani pada 2026 ini bergerak di bidang edukasi publik, advokasi, dan kampanye mobilitas berkelanjutan.
Muaz, mahasiswa Ilmu Komputer USU, menyampaikan hal tersebut dalam wawancara, Minggu (25/10/2026). Ia mengatakan dekarbonisasi transportasi tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.
“Tiap orang punya tanggung jawab. Caranya bisa dengan tidak memakai kendaraan pribadi dan menerapkan gaya hidup hijau,” kata Muaz.
Menurut dia, transportasi umum bukan sekadar pilihan. “Transportasi umum bukan untuk menjawab keinginan kita, melainkan kebutuhan mobilitas masyarakat yang ke depan semakin kompleks,” ujarnya. Ia menambahkan, tanpa alternatif transportasi massal yang baik, kemacetan di Medan akan semakin kronis.
Transgo Medan, kata Muaz, memusatkan kegiatan pada edukasi dan advokasi. Bentuknya antara lain konten media sosial, bertanya langsung kepada warga di lapangan, serta membagikan peta transportasi umum. Program itu disusunnya setelah mengikuti Bootcamp Future Leaders in Sustainable Transport yang diselenggarakan WRI Indonesia pada 2026.
Pada tahun yang sama, Muaz terpilih sebagai delegasi Kota Medan dalam Youth City Changers, program kepemimpinan pemuda yang diinisiasi APEKSI Indonesia. Dari forum itu, ia belajar bahwa setiap kota punya persoalan dan cara adaptasi sendiri. Dari rekan-rekan di Jakarta, misalnya, ia mendapat masukan bahwa Medan perlu lebih banyak layanan feeder, karena jalan-jalan di Medan cukup kecil.
Muaz juga meraih juara 1 Olimpiade Jurnalis Muda 2026 yang diselenggarakan Balebengong dan AJI Indonesia. Karyanya berjudul “Dari Halte ke Harapan: Jalan Panjang Mebidang Menuju Kota Rendah Emisi” mengulas BRT Mebidang dan peluang transportasi rendah emisi di Medan.
Terkait BRT Mebidang, Pemerintah Provinsi Sumut menyampaikan sistem tersebut masih dalam tahap uji coba, dengan operasional penuh direncanakan mulai 8 Desember 2026. Muaz menilai pemerintah punya peran penting, karena tidak hanya sebagai regulator tetapi juga pelaksana proyek.
Ia mengusulkan angkot dialihkan menjadi feeder yang melayani jalan-jalan yang tidak bisa dilalui BRT. Dengan begitu, sopir angkot tetap bekerja dan layanan transportasi umum semakin terhubung. Ia juga berharap pemerintah melibatkan para pengguna transportasi umum untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Muaz mengakui peran Transgo masih perlu diperkuat. “Untuk mendukung perubahan, kita perlu gerakan yang bersifat kolektif. Tidak bisa hanya satu organisasi,” katanya. Ke depan, Transgo berharap bisa menggelar diskusi publik tentang transportasi umum bersama akademisi dan pemerintah, serta menjalin kolaborasi dengan organisasi lain yang bergerak di bidang mobilitas berkelanjutan.



