Kuliah Umum di UNPRI, Abdul Kadir Karding Dorong Mahasiswa Jadi Eksportir Muda

MEDAN, Sumutpos.jawapos.com– Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding, mendorong mahasiswa Universitas Prima Indonesia (UNPRI) untuk tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan setelah lulus kuliah, tetapi juga berani membangun usaha dan menembus pasar ekspor.
Menurut Karding, Indonesia memiliki kekayaan hayati melimpah yang menyimpan peluang ekonomi besar. Beragam komoditas pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan berpotensi dikembangkan menjadi produk unggulan yang mampu bersaing di pasar internasional.
Pesan tersebut disampaikannya saat memberikan kuliah umum kepada ratusan mahasiswa UNPRI di Aula Gedung Hall Utama Lantai 10, Kampus Utama UNPRI, Medan, Rabu (28/10/2026). Kegiatan itu mengangkat tema “Penguatan Sistem Karantina dan Keamanan Hayati dalam Mendukung Ekspor Impor Komoditas Pertanian dan Perkebunan”.
Di hadapan mahasiswa, Karding menegaskan bahwa besarnya potensi komoditas Indonesia harus diimbangi dengan sistem karantina yang kuat. Sebab, pergerakan barang antarwilayah maupun lintas negara tidak hanya membuka peluang perdagangan, tetapi juga berisiko menjadi jalur penyebaran penyakit, virus, bakteri, serta organisme pengganggu tumbuhan dan hewan.
Karena itu, karantina memiliki peran strategis dalam melindungi sumber daya hayati sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional. Pengawasan yang efektif diperlukan agar aktivitas perdagangan tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek kesehatan dan keamanan hayati.
“Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa. Namun, setiap pergerakan komoditas juga membawa risiko. Hewan, tumbuhan, ikan, dan berbagai produk turunannya berpotensi membawa penyakit atau organisme pengganggu yang dapat mengancam sektor pertanian, peternakan, dan perikanan kita,” ujarnya.
Karding menjelaskan, penyebaran penyakit dapat menimbulkan dampak berantai. Selain mengancam kesehatan hewan dan tumbuhan, wabah juga berpotensi menurunkan produktivitas, meningkatkan biaya pengendalian, mengganggu rantai pasok, hingga menyebabkan kerugian ekonomi bagi masyarakat.
Ia mencontohkan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak. Dalam paparannya, Karding menyebut dampak ekonomi akibat wabah tersebut, termasuk biaya pengendalian dan pemulihan, mencapai Rp38,6 triliun.
Pengalaman itu, menurutnya, memperlihatkan bahwa pencegahan harus menjadi prioritas. Ketika penyakit telanjur menyebar, penanganannya membutuhkan biaya besar dan dapat merugikan peternak maupun sektor usaha yang bergantung pada komoditas terkait.
“Ketika suatu penyakit sudah masuk dan menyebar, dampaknya bisa sangat besar. Peternak mengalami kerugian, produksi terganggu, dan pemerintah harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk pengendalian serta pemulihan. Karena itu, pencegahan harus menjadi prioritas,” tegasnya.



