
MIAMI GARDENS, Sumutpos.jawapos.com – Nyanyian "Hey Jude" menggema di Hard Rock Stadium, Minggu (12/7/2026). Lebih dari 30 ribu pendukung Inggris serempak melantunkan lagu legendaris The Beatles sebagai penghormatan kepada sosok yang kembali menjadi penyelamat The Three Lions: Jude Bellingham.
Beberapa detik sebelumnya, gelandang Real Madrid itu memastikan kemenangan dramatis Inggris atas Norwegia dengan skor 2-1 melalui dua golnya pada menit ke-45+2 dan 93. Brace tersebut membalikkan keadaan sekaligus mengantarkan Inggris melangkah ke semifinal Piala Dunia 2026, pencapaian yang baru keempat kali diraih sepanjang sejarah setelah edisi 1966, 1990, dan 2018.
Penampilan Bellingham juga mengukir sejarah. Di usia 23 tahun 12 hari, ia menjadi pemain pertama sejak Diego Maradona pada Piala Dunia 1986 yang mencetak dua brace secara beruntun di fase gugur. Ia juga tercatat sebagai pemain termuda kedua yang melakukannya setelah Pele pada Piala Dunia 1958.
Namun, kontribusi Bellingham tak lagi sekadar diukur dari jumlah gol. Di skuad Inggris saat ini, ia berkembang menjadi figur pemimpin meski usianya masih tergolong muda.
Julukan "Unc" untuk Sang Panutan
Perubahan itu bahkan melahirkan julukan baru di ruang ganti Inggris. Menurut The Athletic, Morgan Rogers dan Jordan Henderson memanggil Bellingham dengan sebutan "Unc"—singkatan dari uncle atau paman.
Dalam bahasa slang, "Unc" bukan merujuk pada usia, melainkan sosok yang dihormati, menjadi panutan, dan memiliki kedewasaan dalam bersikap.
Julukan tersebut lahir dari perubahan karakter Bellingham yang semakin matang. Seusai mengalahkan Meksiko di babak 16 besar, misalnya, ia menghampiri wonderkid Meksiko, Gilberto Mora, untuk bertukar jersey sekaligus memberikan semangat. Di kesempatan lain, ia juga meluangkan waktu berbincang dalam bahasa Spanyol dengan seorang jurnalis penyandang disabilitas asal Venezuela.
Sikap itu kontras dibandingkan saat Euro 2024, ketika Bellingham kerap dinilai terlalu emosional dan tertutup. Kini, ia lebih sering menonjolkan kerja keras kolektif dibanding pencapaian pribadi.
"Pertandingan itu sangat sulit. Semua pemain bekerja luar biasa. Pikiran dan apresiasi saya tertuju kepada rekan-rekan yang tampil hebat di lapangan," ujar Bellingham kepada Reuters usai dinobatkan sebagai Man of the Match.
Berani Berbeda Pendapat dengan Tuchel
Kedewasaan Bellingham juga terlihat dari cara ia menyampaikan pandangan, termasuk ketika berbeda pendapat dengan pelatih Thomas Tuchel.



