Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Inter Tersungkur di Bodo, Atletico Terluka di Bruges

Johan Panjaitan • Jumat, 20 Februari 2026 | 10:50 WIB
Glimt Odin Bjortuft, Bek tengah FK Bodo/Glimt melakukan selebrasi usai mencetak gol. (sport.tvp)
Glimt Odin Bjortuft, Bek tengah FK Bodo/Glimt melakukan selebrasi usai mencetak gol. (sport.tvp)

BODO, Sumutpos.jawapos.com– Dua klub dengan sejarah panjang di Eropa dipaksa menelan kenyataan pahit. FK Bodo/Glimt dan Club Brugge mengirim pesan tegas bahwa status finalis Liga Champions tak menjamin apa pun di fase knockout.

Di Aspmyra Stadion, markas Glimt yang sederhana namun angker, Inter Milan tumbang 1-3 pada first leg (19/2). Sementara di Jan Breydelstadion, Bruges, Atletico Madrid dipaksa puas dengan hasil imbang liar 3-3.

Kini, Nerazzurri dan Los Colchoneros tak punya pilihan selain menang pada second leg di kandang sendiri (25/2). Tekanan ada sepenuhnya di bahu mereka.

“Bodo adalah neraka,” tulis harian olahraga Italia La Gazzetta dello Sport dalam analisisnya. Sebuah kalimat yang tak berlebihan.

Lapangan sintetis Aspmyra kembali menjadi sekutu setia Glimt. Kecepatan bola, intensitas tekanan, dan transisi kilat membuat Inter tak nyaman sejak menit awal.

“Mereka seperti bermain futsal,” komentar legenda pelatih Italia Fabio Capello kepada Corriere dello Sport. Analogi itu tepat. Glimt memadatkan ruang, memutar tempo, dan menghukum setiap celah.

Di atas permukaan sintetis itu, Inter kehilangan kendali. Mereka seperti dipaksa bermain dalam ritme yang bukan miliknya.

Chivu Tak Berlindung di Balik Alasan

Allenatore Inter, Cristian Chivu, mengakui cepatnya transisi tuan rumah mengejutkan timnya. Namun, ia menolak mencari kambing hitam.

“Kami harus membayar mahal kesalahan ini. Kondisi lapangan atau cuaca dingin bukan alasan,” tegasnya kepada FCInter1908.

Inter sejatinya sudah berlatih di lapangan sintetis Interello untuk mengantisipasi situasi tersebut. Namun, teori dan realitas di Aspmyra terbukti berbeda.

Lautaro Tumbang, Alarm Inter Menyala

Kekalahan belum cukup menyakitkan bagi Inter. Mereka juga kehilangan kapten sekaligus mesin golnya, Lautaro Martinez. Striker berjuluk El Toro itu ditarik keluar setelah satu jam permainan akibat cedera betis.

Menurut laporan Sky Sport Italia, top scorer Inter dengan 18 gol tersebut akan menjalani tes lanjutan untuk memastikan tingkat keparahan cederanya.

“Lumayan serius. Ini akan jadi kehilangan bagi kami,” ujar Chivu.

Jika Lautaro absen, beban akan berpindah ke pundak Marcus Thuram dan para pelapis seperti Francesco Pio Esposito—yang mencetak gol hiburan di Bodo—serta Ange-Yoan Bonny.

Di fase sepenting ini, kehilangan pemimpin lini depan bisa menjadi faktor penentu hidup-mati.

Sementara itu di Belgia, laga enam gol antara Brugge dan Atletico menghadirkan drama berbeda. Striker Atletico, Ademola Lookman, kembali menjadi tokoh tragis.

Dua kali ia datang ke Jan Breydelstadion dalam fase playoff bersama dua klub berbeda—musim lalu dengan Atalanta BC dan kini dengan Atletico—dua kali pula ia gagal menang. Ironisnya, di kedua laga tersebut ia selalu mencetak gol.

Brugge tak lagi ingin sekadar menjadi penggembira. General Manager mereka, Bart Verhaeghe, menegaskan ambisi klub.

“Kami ingin membuktikan klub Jupiler Pro League bisa menembus fase knockout Liga Champions. Kami menunjukkan sepak bola berani ala Belgia,” ujarnya kepada Voetbalkrant.

Pekan Penentuan

Second leg akan menjadi ujian mental dan kualitas. Inter dan Atletico membawa nama besar serta pengalaman. Namun Glimt dan Brugge membawa momentum dan keyakinan.

Sepak bola Eropa kembali mengingatkan satu hal: sejarah memang penting, tetapi keberanian dan adaptasi adalah mata uang paling berharga di fase gugur.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#playoff #FK bodo glimt #inter milan