Sumutpos.jawapos.com-Stadion Stadion Renato Dall’Ara tak sekadar menjadi arena pertandingan. Jumat (27/2) pukul 03.00 WIB nanti, ia menjelma panggung pertaruhan harga diri. Di sanalah Bologna FC 1909 akan mengemban mandat tak tertulis: menjaga martabat sepak bola Italia saat menjamu SK Brann pada leg kedua play-off fase gugur Liga Europa UEFA 2025-2026.
Laga ini lebih dari sekadar perebutan tiket 16 besar. Ia adalah panggung penebusan. Publik Italia belum sepenuhnya pulih dari luka ketika Inter Milan tersingkir secara mengejutkan oleh FK Bodø/Glimt di kualifikasi Liga Champions. Kini, beban pembuktian itu berpindah ke pundak I Rossoblù.
Skuad asuhan Vincenzo Italiano datang dengan modal berharga: kemenangan 1-0 di leg pertama di Norwegia. Keunggulan tipis itu memang menempatkan Bologna dalam posisi nyaman, tetapi jelas belum aman. Satu kelengahan saja bisa mengubah arah cerita.
Secara statistik, Bologna sedang menulis bab penting dalam sejarahnya. Mereka tak terkalahkan dalam delapan laga terakhir di kompetisi Eropa—rekor terbaik sejak 1971. Konsistensi yang lama hilang kini mulai menemukan bentuknya kembali.
Di kompetisi domestik, grafik mereka memang sempat naik-turun. Namun dua kemenangan beruntun atas Torino dan Udinese mendongkrak posisi ke peringkat kedelapan Serie A. Dengan persaingan zona Eropa yang begitu rapat, Liga Europa menjadi jalur realistis—bahkan strategis—menuju panggung kontinental musim depan.
Artinya jelas: tak ada ruang untuk eksperimen. Italiano diperkirakan menurunkan komposisi terbaiknya. Meski tiga bek absen karena cedera, lini depan justru tengah menyala. Persaingan antara Thijs Dallinga dan Santiago Castro menciptakan dinamika menarik, namun Castro lebih difavoritkan setelah mencetak gol dalam empat laga beruntun. Ketajamannya menjadi sinyal bahwa Bologna tak ingin sekadar bertahan, melainkan mengunci laga dengan otoritas.
Brann dan Statistik yang Membelenggu
Di kubu tamu, situasinya berbeda. SK Brann datang dengan beban statistik yang tak ramah. Dari empat pertemuan sebelumnya melawan tim Italia, mereka tak pernah menang—bahkan belum sekali pun mencetak gol. Rekor tandang di fase gugur Eropa pun tak lebih baik: hanya satu kemenangan dari 12 laga terakhir.
Tim asuhan Freyr Alexandersson lolos ke babak ini sebagai peringkat 24 fase liga—nyaris di batas akhir. Dalam tiga laga terakhir, mereka hanya mengoleksi satu poin. Momentum jelas tidak berpihak.
Masalah Brann bertambah dengan badai cedera yang menggerus kedalaman skuad. Saevar Atli Magnusson, Niklas Jensen Wassberg, hingga penyerang andalan Niklas Castro dipastikan absen. Harapan kini bertumpu pada kreativitas Jacob Sorensen di lini tengah—satu-satunya poros yang diharapkan mampu merobek disiplin pertahanan Bologna.
Lebih dari Sekadar 90 Menit
Pertandingan ini adalah duel antara momentum dan harapan. Bologna membawa kepercayaan diri dan statistik yang menguatkan. Brann membawa tekad untuk menentang sejarah.
Namun sepak bola Eropa selalu menyimpan ruang bagi kejutan. Inter sudah merasakannya. Italia tak ingin mengulangnya.
Renato Dall’Ara akan menjadi saksi: apakah Bologna mampu menegakkan kembali superioritas Serie A atas wakil Skandinavia, atau justru membuka bab baru tentang runtuhnya dominasi lama?
Jumat dini hari nanti, jawabannya tak hanya menentukan siapa yang lolos ke 16 besar—tetapi juga siapa yang menjaga kehormatan.(smg/han)
Editor : Johan Panjaitan