Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Ini 7 Kebiasaan Anak 90-an yang Masih Mempengaruhi Hidup Orang Dewasa

Johan Panjaitan • Minggu, 10 Agustus 2025 | 09:45 WIB
ilustrasi: Seorang ibu mendampingi anaknya yang sedang bermain.
ilustrasi: Seorang ibu mendampingi anaknya yang sedang bermain.

Sumutpos.jawapos.com-Anak-anak yang tumbuh besar di era 90-an kini telah memasuki usia dewasa, dan tanpa disadari, banyak kebiasaan masa kecil mereka yang terus terbawa hingga sekarang. Di tengah dunia yang semakin digital dan serba instan, warisan budaya 90-an justru membentuk karakter unik dan cara pandang yang berbeda terhadap hidup.

Dikutip dari geediting.com, ada 7 kebiasaan tak tertulis dari era 90-an yang masih membentuk kepribadian kita hingga hari ini:

1. Lebih Memilih Kepemilikan Fisik daripada Langganan Digital
Generasi 90-an tumbuh di masa ketika segala sesuatu masih bersifat fisik: kaset, CD, kartu permainan, hingga peta cetak. Tidak heran jika hingga kini mereka lebih memilih memiliki sesuatu secara penuh daripada hanya “mengakses”-nya lewat layanan berlangganan.

Mereka merasa lebih aman membeli film daripada mengandalkan layanan streaming, yang bisa saja sewaktu-waktu menghapus konten favorit tanpa pemberitahuan.

2. Punya Kemampuan Sabar yang Luar Biasa
Sebelum era streaming dan media sosial, segala hal datang dengan penantian. Menunggu seminggu untuk menonton episode selanjutnya adalah hal biasa. Bahkan merekam lagu dari radio membutuhkan kesabaran tinggi.

Kebiasaan ini membentuk kemampuan delay gratification—kemampuan untuk menunda kesenangan demi hasil yang lebih baik—yang kini menjadi keunggulan tersendiri dalam dunia serba cepat.

3. Sangat Mandiri Saat Teknologi Gagal
Generasi 90-an dikenal lebih tangguh dalam mengatasi masalah teknologi. Saat Nintendo tidak menyala, mereka tahu cara meniup kaset. Ketika kaset tersangkut di Walkman, mereka punya solusi: gunakan pensil!

Alih-alih langsung mencari tutorial di YouTube, mereka cenderung mencoba berbagai cara sendiri lebih dulu sebelum meminta bantuan.

4. Hubungan Unik dengan Uang dan Nilai
Dengan harga barang yang tinggi dan pendapatan orang tua yang terbatas, generasi 90-an tumbuh dengan pemahaman bahwa uang harus digunakan dengan bijak. Mereka terbiasa membandingkan harga, membaca ulasan, bahkan meminjam dulu sebelum membeli.

Kini, kebiasaan ini membuat mereka lebih selektif dalam membelanjakan uang—frugal namun tidak pelit saat melihat nilai yang sepadan.

5. Nyaman Saat Tidak Bisa Dihubungi
Sebelum ponsel pintar merajalela, menjadi tidak bisa dihubungi adalah hal yang wajar. Anak 90-an tahu bahwa tidak semua pesan harus dijawab saat itu juga.

Kebiasaan ini menciptakan batas sehat antara kehidupan pribadi dan pekerjaan—sesuatu yang kini semakin langka di era notifikasi tanpa henti.

6. Mengutamakan Kedalaman dalam Hubungan
Tanpa media sosial, hubungan di era 90-an membutuhkan usaha nyata. Menelepon teman berarti berhadapan dengan orang tuanya dulu. Pertemuan harus dijadwalkan, bukan sekadar “DM-an”.

Itulah mengapa banyak anak 90-an kini lebih memilih sedikit teman tapi berkualitas, daripada ratusan koneksi yang hanya berinteraksi lewat likes dan komentar.

7. Sikap Kritis terhadap Informasi
Dulu, informasi tidak mudah didapat. Untuk menjawab pertanyaan, kadang perlu tanya orang tua, guru, atau membuka ensiklopedia. Hal ini membentuk kebiasaan berpikir kritis dan tidak mudah percaya pada klaim yang belum diverifikasi.

Anak 90-an juga lebih nyaman tidak langsung tahu segalanya, dan tidak panik ketika harus menunggu jawaban atau menerima ketidakpastian.

Meski dunia telah berubah drastis, kebiasaan yang terbentuk di era 90-an ternyata masih sangat relevan. Dalam buku “Laughing in the Face of Chaos” karya Rudá Iandê, disebutkan bahwa kepribadian kita bukanlah cetakan mati, melainkan kode hidup yang bisa dikembangkan dan dimaknai ulang.

Kebiasaan seperti sabar, mandiri, dan menjaga batas pribadi bukan kelemahan, justru bisa menjadi kekuatan utama di zaman yang semakin tergesa-gesa ini.(han)

Editor : Johan Panjaitan
#dewasa #masa kecil #Era #kepribadian