Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mambayu, Nafas Perempuan Mandailing yang Bertahan di Anyaman Pandan

J
Penulis: Johan Panjaitan❯

Seorang ibu rumah tangga sedang membayu (menyulam) bungkusan dodol yang saat ini permintaannya meningkat menjelang hari raya Idul Fitri.
Seorang ibu rumah tangga sedang membayu (menyulam) bungkusan dodol yang saat ini permintaannya meningkat menjelang hari raya Idul Fitri.


Advertisement

TABAGSEL, Sumutpos.jawapos.com-Di beranda sederhana sebuah rumah di Tapanuli Bagian Selatan, jemari Ibu Royan Daulay menari di atas helaian daun pandan berduri. Gerakannya tenang, terukur, seolah menyatu dengan irama waktu.

Dari tangannya, daun-daun yang telah dilayukan dan disisir itu berubah menjadi anyaman rapi. Tradisi itu bernama Mambayu—warisan perempuan Mandailing yang kini berdiri di persimpangan antara bertahan atau perlahan hilang ditelan zaman.

Bagi masyarakat Mandailing di wilayah Tapanuli Selatan, Padang Lawas Utara, Padang Lawas, Mandailing Natal hingga Padang Sidempuan, Mambayu bukan sekadar kerajinan tangan. Ia adalah simbol ketekunan, kesabaran, dan identitas kultural yang diwariskan dari ibu kepada anak perempuan mereka.

Advertisement

Mengejar Target di Balik Wangi Ulame

Memasuki bulan suci Ramadan, denyut kerja membayu seorang ibu rumah tangga, Royan, alami peningkatan. Permintaan pembungkus Ulame—dodol khas Mandailing—melonjak tajam. Anyaman pandan menjadi buruan, terutama menjelang hari raya.

“Sekarang lagi kejar target. Permintaan bertambah, kadang sampai kewalahan menyelesaikannya,” ujarnya tanpa menghentikan gerakan tangannya.

Advertisement

Bagi masyarakat setempat, pandan bukan hanya pembungkus. Aroma khas yang terserap ke dalam Ulame menghadirkan cita rasa autentik yang tak tergantikan kemasan plastik modern. Di sanalah letak nilai Mambayu: bukan hanya fungsi, tetapi pengalaman rasa dan ingatan kolektif.

Dari Teras Rumah ke Ambang Kepunahan

Pada era 1980-an, Mambayu adalah pemandangan sehari-hari. Teras-teras rumah dipenuhi para ibu yang menganyam sambil bercengkerama. Dari tangan mereka lahir tikar (ingka), bakul, tas, hingga berbagai perlengkapan rumah tangga.

Kini, suara gesekan daun pandan kian jarang terdengar. Generasi muda tak banyak lagi yang tertarik mempelajarinya. Produk pabrikan yang praktis dan murah perlahan menggeser kerajinan tradisional.

Namun, di sejumlah desa pelosok Tabagsel, bara itu belum padam. Perempuan-perempuan seperti Ibu Royan tetap setia menjaga tradisi. Mereka mengolah daun pandan berduri melalui proses pelayuan, penjemuran, hingga penyisiran sebelum akhirnya dianyam menjadi barang bernilai guna.

Lebih dari Sekadar Anyaman

Mambayu adalah kerja sunyi yang menyimpan makna besar. Ia mengajarkan ketelatenan di tengah dunia yang serba cepat. Ia merawat identitas di tengah arus globalisasi. Dan ia membuktikan bahwa sentuhan tangan manusia memiliki nilai yang tak bisa sepenuhnya digantikan mesin.

Di saat aroma manis Ulame mulai tercium menjelang Lebaran, anyaman pandan itu menjadi penanda bahwa tradisi belum sepenuhnya menyerah. Di atas sehelai daun pandan, perempuan Mandailing terus menenun sejarah—rapi, sabar, dan penuh martabat.(mag-12/han)

Advertisement

Artikel Terkait

Jembatan Merah Putih Mandailing Diresmikan, Akses Warga Tebingtinggi Kini Makin Mudah

Jembatan Merah Putih Mandailing Diresmikan, Akses Warga Tebingtinggi Kini Makin Mudah

Jembatan Merah Putih Mandailing diresmikan Pemko dan Polres Tebingtinggi, membuka akses baru dan memudahkan aktivitas warga.

Grand Mercure Medan Angkasa Rayakan Hari Batik Nasional

Grand Mercure Medan Angkasa Rayakan Hari Batik Nasional

Grand Mercure Medan Angkasa merayakan Hari Batik Nasional dengan menggelar acara Melalui warisan budaya.

Labura Gaungkan Warisan Budaya di Panggung PRSU 2026

Labura Gaungkan Warisan Budaya di Panggung PRSU 2026

Pemkab Labuhanbatu Utara menampilkan kekayaan seni dan budaya di PRSU 2026 sebagai upaya memperkenalkan identitas daerah

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer