TAPANULI SELATAN, Sumutpos.jawapos.com – Idulfitri 1447 Hijriah tahun ini menjadi momen yang tak biasa bagi ratusan keluarga korban bencana di Desa Garoga dan Desa Tandihat. Setelah kehilangan rumah akibat banjir bandang dan pergeseran tanah, mereka akhirnya bisa merayakan hari kemenangan di hunian sementara (huntara) yang lebih layak—meski jauh dari kata sempurna.
Sebanyak 188 kepala keluarga dari Desa Garoga yang terdampak banjir bandang, serta 245 kepala keluarga dari Desa Tandihat yang kehilangan tempat tinggal akibat tanah amblas, kini menempati huntara di Desa Aek Pining, Kecamatan Batangtoru. Di tempat inilah, untuk pertama kalinya setelah bencana, mereka merasakan kembali hangatnya kebersamaan Idulfitri tanpa harus bertahan di tenda pengungsian.
Raut haru dan syukur terpancar dari wajah para penyintas. Supriyanto Hasibuan, salah seorang warga, mengaku bersyukur masih dapat berkumpul bersama keluarga, meski dalam kondisi serba terbatas.
“Alhamdulillah, kami masih bisa merayakan Lebaran bersama keluarga, baik yang dekat maupun yang datang dari perantauan. Walaupun sederhana, ini sudah sangat berarti,” ujarnya, Minggu (22/3/2026).
Pantauan di lokasi menunjukkan, kawasan huntara dibangun cukup tertata dengan 245 unit rumah kopel. Fasilitas dasar seperti dapur umum, musala, kamar mandi, hingga ruang terbuka untuk aktivitas warga tersedia. Infrastruktur penunjang seperti jalan rabat beton dan saluran drainase membuat kawasan ini relatif nyaman dan layak huni.
Di tengah keterbatasan, kehidupan perlahan kembali bergerak. Anak-anak tampak berlarian dan bersepeda, menghadirkan tawa yang sempat hilang. Para ibu saling bercengkerama, membangun kembali ikatan sosial yang sempat terputus akibat bencana.
Baca Juga: Final Arsenal vs Man City Meledak Malam Ini, Derby Madrid Siap Bikin Dini Hari Tak Tidur!
Namun di balik suasana Lebaran yang hangat, tersimpan kegelisahan mendalam. Masa depan menjadi pertanyaan besar, terutama bagi warga yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Sawah dan kebun mereka kini tertimbun material banjir, menyisakan ketidakpastian.
“Kami ingin kembali bekerja seperti biasa. Tapi sawah dan kebun kami sudah tertutup pasir tebal. Kami tidak tahu apakah masih bisa diolah kembali,” ungkap Saiful, warga Desa Garoga.(mag-10/han)
Editor : Johan Panjaitan