Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Joki Baca Buku, Ketika Membaca Berubah Menjadi Jasa Berbayar

R
Penulis: Redaksi❯
Ilustrasi.Joki baca buku menawarkan jasa membaca hingga tamat dengan bayaran Rp700 ribu.(Instagram @pandemictalks)
Ilustrasi.Joki baca buku menawarkan jasa membaca hingga tamat dengan bayaran Rp700 ribu.(Instagram @pandemictalks)

Advertisement

Fenomena joki baca buku menjadi perbincangan warganet di media sosial Threads. Jasa yang menawarkan layanan membaca buku milik orang lain hingga tamat ini memperlihatkan perubahan cara masyarakat memandang aktivitas literasi. Membaca yang semula identik dengan proses mencari pengetahuan, kini juga bisa menjadi pekerjaan berbayar.

Melansir Instagram @pandemictalks, Senin (2/11/2026), salah satu penyedia jasa tersebut adalah Fahira (26), karyawan swasta yang berdomisili di Jakarta Selatan. Dia mengaku bisa memperoleh bayaran hingga Rp700.000 untuk menamatkan satu buku, bergantung pada ketebalan buku dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya.

Fahira mulai menjalankan jasa joki baca buku sejak Maret 2026. Mekanisme kerjanya terbilang sederhana. Klien menyerahkan buku yang ingin dibaca, kemudian Fahira bertugas menuntaskan bacaan tersebut hingga halaman terakhir.

Tidak sekadar membaca, Fahira juga menyediakan layanan tambahan berupa anotasi dan penanda halaman sesuai permintaan pemilik buku. Setelah seluruh proses selesai, buku dikembalikan kepada klien.

Besaran bayaran yang diterima pun tidak selalu sama. Ketebalan buku dan tingkat kesulitan pengerjaan menjadi pertimbangan dalam menentukan tarif. Dengan imbalan yang dapat mencapai ratusan ribu rupiah, aktivitas membaca yang selama ini dianggap sebagai kegiatan personal kini berkembang menjadi peluang memperoleh penghasilan.

Advertisement

Namun, kemunculan jasa tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai makna membaca itu sendiri. Apakah membaca hanya sebatas mengetahui isi buku dan memperoleh catatan penting, atau justru terletak pada proses memahami setiap gagasan yang disampaikan penulis?

Pengamat sosial Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, menilai fenomena joki baca buku berkaitan dengan perubahan perspektif masyarakat terhadap sebuah aktivitas.

Menurutnya, masyarakat mulai mengalami pergeseran cara pandang, dari yang sebelumnya menghargai proses menjadi lebih berorientasi pada hasil.

"Orang sudah mulai berubah perspektifnya dari proses kepada hasil," ujarnya.

Pandangan tersebut dapat menjelaskan mengapa jasa joki baca buku menemukan pasarnya. Di tengah kesibukan dan tuntutan aktivitas sehari-hari, sebagian orang mungkin menginginkan hasil akhir dari sebuah bacaan tanpa harus mengalokasikan waktu untuk menuntaskannya sendiri.

Advertisement

Artikel Terkait

Singapura Bayar Warga yang Rajin Membaca 15 Menit Sehari, Ini Tujuannya

Singapura Bayar Warga yang Rajin Membaca 15 Menit Sehari, Ini Tujuannya

Singapura beri uang bagi warga yang membaca 15 menit sehari untuk melawan doomscrolling dan membangun kebiasaan membaca.

Mbah Topo dan Becak Pustaka, 80 Tahun Mengayuh Harapan Lewat Buku

Mbah Topo dan Becak Pustaka, 80 Tahun Mengayuh Harapan Lewat Buku

Di usia 80 tahun, Mbah Topo tetap mengayuh Becak Pustaka, membawa buku gratis dan menebar semangat literasi di Yogyakarta.

Seoul Outdoor Library, Ketika Kota Berubah Menjadi Ruang Baca Terbuka

Seoul Outdoor Library, Ketika Kota Berubah Menjadi Ruang Baca Terbuka

Seoul Outdoor Library menghadirkan pengalaman membaca gratis di ruang terbuka, memadukan literasi, budaya, dan suasana kota yang nyaman.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer