Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pernyataan Adi Budiarso Soal Tabungan Pensiun Picu Perdebatan di Media Sosial

R
Penulis: Redaksi❯

ilustrasi tabungan pensiun. (freepik.com)
ilustrasi tabungan pensiun. (freepik.com)


Advertisement

sumutpos.jawapos.com – Pernyataan Adi Budiarso yang menyebut sekitar 100 juta masyarakat Indonesia terancam tidak memiliki tabungan pensiun pada 2038 memantik polemik di media sosial. Ucapan tersebut ramai dibagikan ulang warganet dan memunculkan beragam respons, mulai dari dukungan hingga kritik tajam.

Melansir Instagram @folkative, Senin (23/2/2026), Adi Budiarso, yang menjabat sebagai Direktur Pengembangan Perbankan, Pasar Keuangan, dan Pembiayaan Lainnya, mengungkapkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia saat ini hanya menyisihkan sekitar 3 persen dari pendapatannya untuk ditabung.

Padahal, untuk mencapai kemandirian finansial di masa tua, idealnya seseorang menabung minimal 10 persen dari penghasilan bersihnya.

Advertisement

Pernyataan itu dianggap sebagai alarm serius terkait kesiapan finansial generasi produktif saat ini. Namun di sisi lain, tak sedikit warganet yang merasa angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas ekonomi yang mereka hadapi.

“Gaji UMR saja habis buat kebutuhan pokok,” tulis salah satu pengguna media sosial. Ada pula yang menilai imbauan menabung 10 persen terdengar ideal di atas kertas, tetapi sulit diterapkan di tengah kenaikan harga bahan pokok, biaya pendidikan, dan cicilan rumah.

Sebagian netizen lain justru mendukung pernyataan tersebut. Mereka menilai literasi keuangan masyarakat Indonesia memang masih rendah dan kebiasaan menabung belum menjadi prioritas utama. “Kalau tidak mulai dari sekarang, nanti yang repot diri sendiri saat pensiun,” komentar akun lainnya.

Advertisement

Pengamat ekonomi menilai polemik ini menunjukkan adanya kesenjangan antara teori perencanaan keuangan dan kondisi riil masyarakat.

Secara konsep, menyisihkan minimal 10 persen penghasilan merupakan prinsip dasar dalam manajemen keuangan pribadi. Namun, implementasinya sangat bergantung pada tingkat pendapatan dan beban pengeluaran masing-masing individu.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya juga menunjukkan bahwa tingkat literasi dan inklusi keuangan di Indonesia memang terus meningkat, tetapi kesadaran terhadap perencanaan dana pensiun masih tergolong rendah. Banyak masyarakat yang masih mengandalkan keluarga atau berharap tetap bekerja di usia lanjut.

Polemik ini pun memicu diskusi lebih luas tentang pentingnya edukasi finansial sejak dini. Sejumlah warganet mengusulkan agar pemerintah dan lembaga keuangan tidak hanya memberikan imbauan, tetapi juga menyediakan instrumen investasi dan tabungan pensiun yang lebih mudah diakses serta terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Di tengah pro dan kontra tersebut, satu hal yang menjadi benang merah adalah urgensi mempersiapkan masa depan. Entah dengan nominal besar atau kecil, kebiasaan menabung dinilai tetap menjadi langkah awal untuk membangun ketahanan finansial jangka panjang.(lin)

Advertisement

Artikel Terkait

Viral Anak Pejabat Gayo Lues Flexing Liburan dan BBM, Sang Ayah Mundur dari Jabatan

Viral Anak Pejabat Gayo Lues Flexing Liburan dan BBM, Sang Ayah Mundur dari Jabatan

Viralnya konten flexing anak pejabat Gayo Lues yang memamerkan liburan luar negeri hingga foto jeriken BBM berbuntut panjang.

Bank Mestika Edukasi 173 Siswa SD Maitreyawira tentang Literasi Keuangan dan Lingkungan

Bank Mestika Edukasi 173 Siswa SD Maitreyawira tentang Literasi Keuangan dan Lingkungan

Bank Mestika beri edukasi literasi keuangan kepada 173 siswa SD Maitreyawira Cemara Asri di Museum Perkebunan Indonesia.

Wakaf Produktif Dikembangkan Untuk Pemberdayaan UMkM

Wakaf Produktif Dikembangkan Untuk Pemberdayaan UMkM

Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi dorong wakaf produktif untuk UMKM melalui pendampingan, literasi keuangan, dan penguatan kemandiria

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer