
sumutpos.jawapos.com - Aksi seni mural menjadi cara pemuda dan komunitas di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk menyuarakan kepedulian terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Melalui lukisan di ruang publik, mereka mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan dan dampak kerusakan hutan.
Melansir Instagram @infipop.id, Rabub(28/10/2026), kegiatan yang berlangsung pada 23–25 Oktober 2026 itu digelar di bawah kolong Flyover Cileungsi. Sejumlah pemuda dan komunitas berkolaborasi menuangkan pesan lingkungan melalui karya seni yang diharapkan dapat menarik perhatian masyarakat.
Aksi tersebut diprakarsai oleh seniman mural lokal, Dwi Ope. Ia bersama para peserta membuat mural seluas sekitar 5 meter persegi dengan mengangkat tema kebakaran hutan dan lahan.
Lukisan tersebut menampilkan visual induk orangutan yang menggendong anaknya di tengah ancaman kebakaran. Selain itu, terlihat pula petugas yang berjuang memadamkan api. Kedua gambaran itu merepresentasikan dampak karhutla terhadap satwa liar sekaligus upaya manusia dalam menghadapi bencana lingkungan.
Pemilihan orangutan sebagai salah satu objek utama mural menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga mengancam habitat satwa. Ketika hutan terbakar, satwa kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan, sementara upaya pemulihan ekosistem membutuhkan waktu panjang.
Di sisi lain, gambaran petugas yang berjibaku memadamkan api menunjukkan besarnya tantangan dalam penanganan karhutla. Upaya pemadaman perlu didukung pencegahan sejak dini serta keterlibatan berbagai pihak untuk mengurangi risiko kebakaran.
Rangkaian kegiatan mencapai puncaknya pada 25 Oktober 2026. Penutupan diisi dengan mimbar bebas, pembacaan puisi, dan kolaborasi musik tradisional Sunda.
Berbagai ekspresi seni tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan pesan lingkungan dengan pendekatan yang lebih dekat kepada masyarakat. Mural menjadi media visual, sedangkan puisi dan musik memberikan ruang bagi penyampaian kegelisahan sekaligus harapan terhadap masa depan lingkungan.
Latar mural yang dilengkapi nuansa simulasi asap turut memperkuat gambaran situasi kebakaran hutan. Suasana tersebut menghadirkan pengingat visual tentang ancaman karhutla yang tidak boleh dipandang sebagai persoalan musiman semata.



