
sumutpos.jawapos.com - Swedia mulai mengubah arah kebijakan pendidikan dengan mengurangi penggunaan perangkat digital di sekolah. Negara Skandinavia tersebut kini kembali mengandalkan buku cetak, kertas, dan pena sebagai sarana utama pembelajaran untuk mengatasi penurunan kemampuan literasi siswa.
Melansir Instagram @pandemictalks, Selasa (3/11/2026), kebijakan ini menjadi langkah evaluasi terhadap penggunaan teknologi digital yang selama beberapa tahun terakhir semakin mendominasi ruang kelas.
Pemerintah koalisi sayap kanan yang berkuasa sejak 2022 bahkan mengusung slogan från skärm till pärm, yang berarti "dari layar ke map". Slogan tersebut mencerminkan keinginan pemerintah mengembalikan pembelajaran berbasis buku dan kegiatan menulis secara konvensional.
Baca Juga: Aneka Jenis Teh di Indonesia Berdasarkan Warna dan Nama Perkebunannya, Ini Daftarnya
Sejak 2025, penggunaan perangkat digital tidak lagi diwajibkan di pendidikan prasekolah. Anak-anak berusia di bawah dua tahun juga tidak lagi diberikan tablet sebagai sarana pembelajaran.
Tak berhenti di situ, pemerintah Swedia telah mengalokasikan lebih dari 2,1 miliar krona atau sekitar 200 juta dolar AS untuk pengadaan buku pelajaran.
Pemerintah juga menyiapkan kurikulum baru berbasis buku teks yang ditargetkan mulai diterapkan pada 2028.
Perubahan kebijakan tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah Swedia menyoroti penurunan kemampuan membaca siswa yang tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA).
Baca Juga: Redam Potensi Konflik Agraria, Forkopimda Paluta Kembali Mediasi PT Agrinas dan Masyarakat
Pada penilaian 2022, hampir seperempat siswa Swedia berusia 15–16 tahun tidak mampu mencapai tingkat dasar pemahaman membaca.
Kondisi ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan Swedia. Penggunaan teknologi digital yang sebelumnya dianggap sebagai bagian penting dari modernisasi pembelajaran kini mulai dievaluasi kembali.
Juru Bicara Pendidikan Partai Liberal Swedia, Joar Forsell, menilai pembelajaran konvensional masih memiliki keunggulan dalam membangun pengetahuan dasar anak.



