sumutpos.jawapos.com – Fenomena working poor atau pekerja miskin di Indonesia semakin menjadi perhatian. Istilah ini merujuk pada kondisi seseorang yang memiliki pekerjaan, bahkan bekerja dengan jam kerja panjang, namun penghasilannya masih belum mampu memenuhi kebutuhan hidup dasar.
Melansir Instagram @pandemictalks, Kamis (12/2/2026), fenomena tersebut dinilai semakin terlihat di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang terus berkembang. Meski sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tren positif, kenyataan di lapangan memperlihatkan masih banyak pekerja yang kesulitan meningkatkan taraf hidupnya.
Kondisi ini banyak dialami pekerja sektor informal, buruh berupah rendah, hingga pekerja dengan sistem kontrak yang tidak tetap. Mereka tetap harus bekerja keras setiap hari, tetapi pendapatan yang diterima sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan tidak jarang masih mengalami kekurangan.
Beberapa faktor menjadi penyebab utama munculnya fenomena working poor. Salah satunya adalah tingkat upah yang dinilai belum sebanding dengan kenaikan biaya hidup. Harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga kebutuhan pendidikan dan kesehatan terus meningkat, sementara penghasilan pekerja tidak selalu mengalami penyesuaian yang seimbang.
Selain itu, keterbatasan akses terhadap jaminan sosial juga menjadi masalah. Banyak pekerja, terutama di sektor informal, belum mendapatkan perlindungan seperti jaminan kesehatan, jaminan hari tua, maupun perlindungan ketenagakerjaan lainnya. Kondisi tersebut membuat pekerja rentan secara ekonomi, terutama ketika menghadapi situasi darurat atau kehilangan pekerjaan.
Ketimpangan distribusi pendapatan juga dinilai turut memperparah situasi. Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata. Sebagian kelompok pekerja masih kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak dengan penghasilan yang stabil.
Fenomena working poor menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan dunia usaha. Diperlukan kebijakan yang lebih kuat dalam melindungi pekerja, termasuk peningkatan kualitas lapangan kerja, penguatan sistem jaminan sosial, serta pengawasan terhadap praktik ketenagakerjaan.
Di sisi lain, perkembangan ekonomi digital dan gig economy juga membawa dampak tersendiri. Model pekerjaan fleksibel memang membuka peluang kerja baru, namun sering kali tidak disertai jaminan kepastian penghasilan dan perlindungan jangka panjang bagi pekerja.
Jika fenomena ini tidak ditangani secara komprehensif, dikhawatirkan akan memperlebar kesenjangan sosial dan menghambat upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia. Upaya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dinilai penting untuk menciptakan sistem ketenagakerjaan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Fenomena working poor pun menjadi refleksi bahwa bekerja keras saja belum tentu cukup untuk mencapai kesejahteraan. Diperlukan sistem yang mampu memastikan setiap pekerja mendapatkan perlindungan dan kesempatan yang layak untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Di media sosial, fenomena ini juga banyak menjadi perbincangan masyarakat. Sejumlah netizen mengungkapkan pengalaman mereka terkait kondisi pekerja yang masih kesulitan secara ekonomi meskipun sudah bekerja keras.
“Banyak yang kerja dari pagi sampai malam, tapi tetap susah nabung. Biaya hidup makin tinggi,” tulis netizen.
Sementara itu, netizen lain menyoroti ketidakseimbangan antara kenaikan gaji dan harga kebutuhan hidup. “Gaji naik sedikit, tapi harga kebutuhan pokok naiknya lebih cepat. Jadinya tetap terasa kurang,” tulisnya.
Komentar serupa juga disampaikan netizen lainnya yang menilai perlindungan pekerja kontrak dan sektor informal masih perlu diperkuat. “Mereka paling rentan dan sering tidak punya jaminan kerja,” tulisnya.
Adapun netizen lain menyebut fenomena working poor sebagai kondisi yang nyata terjadi di masyarakat. “Banyak teman saya kerja lebih dari satu pekerjaan cuma untuk bertahan hidup,” ungkapnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan kesejahteraan pekerja masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Diperlukan langkah konkret agar pertumbuhan ekonomi yang terjadi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. (lin)
Editor : Redaksi