sumutpos.jawapos.com - Fenomena unik tengah viral di Surabaya. Sebuah layanan jasa titip (jastip) nyekar atau ziarah kubur menjadi perbincangan hangat di media sosial karena menawarkan cara baru bagi perantau untuk tetap “mengunjungi” makam keluarga saat tidak bisa pulang kampung.
Melansir Instagram @pandemictalks, Jumat (27/3/2026), layanan ini muncul di tengah tradisi ziarah kubur yang lekat dengan momen Ramadan hingga Lebaran. Namun, keterbatasan waktu, jarak, dan biaya membuat sebagian orang tidak dapat mudik. Dari kondisi tersebut, lahirlah ide jastip nyekar yang kini ramai dimanfaatkan.
Jasa ini dipopulerkan oleh seorang perantau yang ingin membantu orang lain menyalurkan rindu kepada keluarga yang telah tiada. Ide tersebut muncul dari pengalaman pribadi yang tidak bisa rutin berziarah ke makam orang tua.
Seiring viralnya layanan ini, banyak orang mulai tertarik menggunakan jasa tersebut, terutama mereka yang berada di luar kota atau bahkan luar negeri.
Dalam praktiknya, layanan yang ditawarkan cukup beragam, seperti tabur bunga, membersihkan makam, hingga mengirimkan dokumentasi berupa foto dan video kepada pemesan.
Tarifnya pun relatif terjangkau, mulai dari puluhan ribu rupiah tergantung jarak dan permintaan tambahan.
Seperti fenomena viral lainnya, jastip nyekar memicu perdebatan di kalangan warganet. Ada yang mendukung, namun tak sedikit pula yang mengkritik.
Sebagian menilai layanan ini sebagai bentuk empati di era modern, sementara lainnya menganggap ziarah adalah ibadah yang tidak seharusnya “diwakilkan”.
Di media sosial, kolom komentar dipenuhi beragam respons. Berikut beberapa tanggapan netizen yang ramai diperbincangkan:
“Menurutku ini membantu banget buat yang jauh. Nggak semua orang bisa pulang tiap Lebaran.”
“Aku malah terharu, setidaknya masih ada usaha buat doain orang tua walau dari jauh.”
“Kalau cuma bersihin makam sih oke, tapi kalau doa diperjualbelikan rasanya kurang pas.”
“Ziarah itu soal kehadiran dan perasaan, bukan sekadar diwakilkan orang lain.”
“Ada sisi positifnya, makam jadi tetap terawat. Tapi jangan sampai niat ibadah jadi bisnis.”
“Ini kreatif sih, tapi tetap harus hati-hati biar nggak melenceng.”
Komentar-komentar tersebut mencerminkan bagaimana masyarakat melihat fenomena ini dari sudut pandang yang berbeda—antara kebutuhan praktis, nilai spiritual, hingga etika.
Menanggapi pro dan kontra, penyedia jasa mulai menyesuaikan layanan agar lebih menekankan pada perawatan makam dan bantuan teknis, bukan aspek ibadah yang sensitif.
Langkah ini diambil untuk menjaga kepercayaan sekaligus menghormati nilai-nilai yang dianut masyarakat.
Fenomena jastip nyekar menjadi gambaran bagaimana tradisi beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di tengah mobilitas tinggi dan keterbatasan, masyarakat mencari cara agar tetap terhubung secara emosional dengan keluarga.
Pada akhirnya, apakah layanan ini akan menjadi tren jangka panjang atau sekadar fenomena musiman, semua kembali pada bagaimana masyarakat menerimanya.(lin)
Editor : Redaksi