Sejumlah turis asing ingin menyebrang jalan di tengah padatnya lalu lintas di Jalan Diponegoro Medan, beberapa waktu lalu.
MEDAN, SUMUTPOS.CO -Sektor pariwisata berpotensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara (Sumut). Oleh sebab itu, pengembangan sektor yang sedang digalakkan pemerintah pusat ini hendaknya juga diikuti Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu).
Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KPW BI) Sumatera Utara (Sumut), Arief Budi Santoso mengatakan, Sumatera Utara merupakan sebuah provinsi yang memiliki sejumlah obyek wisata yang unik. Baik wisata alam maupun budaya. Karenanya, industri pariwisata ini harus terus dikembangkan sebab memiliki potensi.
"Beberapa obyek wisata tersebut telah dikenal luas hingga ke mancanegara, seperti Danau Toba dengan panorama alam yang indah dan Bukit Lawang dengan orang utan Sumatera yang unik. Potensi pariwisata tersebut sangat besar, sehingga peluang pengembangan masih sangat terbuka," ungkap Arief baru-baru ini.
Menurutnya, pengembangan industri pariwisata akan memberikan efek meluas atau multiplier effect terhadap industri lainnya. Antara lain, penyediaan jasa dari mulai transportasi, perdagangan dan perhotelan masih membuka peluang yang cukup besar bagi berkembangnya industri jasa.
"Hasil dari riset growth strategy yang kami lakukan tahun ini, menunjukan bahwa kenaikan 1 persen industri pariwisata akan meningkatkan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) sebesar 0,4 persen," tutur Arief.
Dijelaskannya, dalam perkembangannya potensi perkembangan sektor pariwisata Sumatera Utara cukup baik, dengan tren pertumbuhan hotel, occupancy rate dan wisatawan mancanegara yang terus meningkat. Peningkatan ini terus terjadi terutama setelah dibangunnya Bandara Kuala Namu dan Bandara Silangit, yang menjadi akses utama masuknya turis dari mancanegara.
"Kita jangan hanya mengandalkan komoditas saja seperti sawit, karet dan kopi. Tetapi harus ada atau menciptakan sumber-sumber pertumbuhan yang baru dalam mendorong ekonomi Sumut. Makanya, kita dorong sektor pariwisata untuk mendongkraknya," sebut Arief.
Dikatakannya, pariwisata masing-masing daerah memiliki ciri khasnya, seperti kota Yogyakarta ataupun Bali. Di Sumut, Danau Toba maupun lainnya harus menjaga penguatan pariwisata untuk mendongrak perekonomian Sumut.
"Dengan adanya pariwisata, menciptakan daya saing yang cukup besar. Pembangunan pariwisata dapat dilakukan dengan APBN, APBD, perbankan maupun perusahaan swasta," jelas Arief.
Dituturkannya, berbicara pariwisata ada tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama, apa objek wisatanya, kedua menuju destinasi bagaimana dan ketiga jalur jalan menuju kesana.
"Ketiga hal itu menjadi faktor penting dalam mendongkrak pariwisata. Namun, untuk membangun daerah pariwisata pasti butuh uang, sehingga peran perbankan sangat diutamakan," cetusnya.
Senada diungkap Kepala KPW BI Sumut sebelumnya, Difi A Johansyah. Kata dia, jika ingin meningkatkan perekonomian, daerah yang selama ini mengandalkan komoditas harus beralih ke sektor lain. Sebab, saat ini perkembangan harga berbagai produk perkebunan masih lambat bahkan cenderung turun.
"Saat ini kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Sumut berkisar 2-3 persen. Namun demikian, angka tersebut masih bisa ditingkatkan lebih tinggi lagi jika kesadaran pemerintah dan masyarakat khususnya mengenai kepariwisataan meningkat seiring berbagai perubahan yang dilakukan pemerintah pusat," ujarnya.
Sementara, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Sumut, Koes Hendro mengemukakan, pada dasarnya untuk meningkatkan pariwisata dibutuhkan 'political will' dari pemerintah daerah. Sebab, pihaknya sebagai sektor swasta tentu akan sangat mendukung berbagai kebijakan yang bertujuan untuk pengembangan pariwisata.
"Selama ini pemerintah terkesan tidak peduli dan dapat dilihat dari tekad membenahi pariwisata selalu tidak maksimal. Kalaupun ada pertemuan membahas terkait itu, realisasinya seringkali tidak ada," cetusnya kepada wartawan beberapa waktu lalu.
Padahal, sebut Koes Hendro, daerah lain yang mengandalkan pariwisata sudah terbukti berkembang dengan tingkat perekonomian tinggi. Selain itu, masyarakatnya pun memperoleh penghasilan cukup besar dari sektor tersebut.
"Perekonomian masyarakat juga bagus karena pariwisata. Lihat saja di Bali, dimana tukang kepang rambut saja bisa hidup dengan baik," ujarnya.(ris/ala) Editor : Admin-1 Sumut Pos