
sumutpos.jawapos.com - Di tengah ritme hidup yang kian cepat, banyak orang mulai menyadari satu hal: emosi tidak hanya “terasa” di pikiran, tetapi juga di tubuh. Dada yang sesak saat cemas, tenggorokan yang tercekat ketika sedih, atau perut yang bergejolak ketika takut, semuanya menjadi pengalaman yang nyaris universal.
Fenomena ini bukan sekadar ungkapan metaforis. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa emosi memang berkaitan erat dengan respons fisik tubuh, meski konsep “emosi tersimpan di tubuh” masih menjadi perdebatan ilmiah.
Melansir Instagram @lambegosiip, Senin (27/4/2026), secara ilmiah, emosi berasal dari otak, khususnya sistem limbik yang mengatur respons emosional. Namun, dampaknya menjalar ke seluruh tubuh melalui sistem saraf. Somatic marker hypothesis menjelaskan bahwa tubuh menciptakan “penanda fisik” yang membantu seseorang mengenali emosi tertentu.
Artinya, ketika seseorang mengalami peristiwa emosional, tubuh ikut “mengingat” melalui sensasi tertentu, misalnya ketegangan otot atau perubahan detak jantung.
Studi lintas budaya bahkan menemukan pola yang relatif konsisten: marah sering terasa di kepala atau dada, cemas muncul di dada dan perut, sedih terasa di tenggorokan dan dada, sementara jijik berkaitan dengan mulut dan perut.
Istilah “emosi tersimpan di tubuh” kerap digunakan dalam praktik populer seperti yoga atau terapi tubuh. Namun, secara ilmiah, konsep ini tidak sepenuhnya akurat.
Para ahli menegaskan bahwa memori emosional tersimpan di otak, bukan di jaringan tubuh. Tubuh hanya menampilkan respons fisik ketika memori itu terpicu kembali.
Meski begitu, pengalaman subjektif banyak orang menunjukkan bahwa emosi yang tidak diproses dapat terasa seperti “mengendap”. Hal ini terjadi karena sistem saraf tetap berada dalam kondisi siaga, misalnya setelah trauma atau stres berkepanjangan.
Emosi yang ditekan atau diabaikan tidak benar-benar hilang. Ia dapat muncul dalam bentuk lain, seperti nyeri otot, gangguan pencernaan, sesak napas, hingga kelelahan kronis.



