Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Utang Luar Negeri RI Sentuh USD 431,7 Miliar, Swasta Justru Menyusut

Johan Panjaitan • Kamis, 19 Februari 2026 | 09:41 WIB
ILUSTRASI: Uang Indonesia. (pixabay)
ILUSTRASI: Uang Indonesia. (pixabay)

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Di tengah volatilitas pasar keuangan global, arus pembiayaan ke Indonesia tetap mengalir. Pada kuartal IV 2025, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia naik menjadi USD 431,7 miliar, meningkat dari USD 427,6 miliar pada kuartal sebelumnya. Kenaikan ini terutama ditopang sektor publik, sementara sektor swasta justru mencatat koreksi.

Data terbaru Bank Indonesia menunjukkan bahwa peningkatan terjadi seiring derasnya aliran modal asing ke instrumen pembiayaan pemerintah, khususnya Surat Berharga Negara (SBN) internasional.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa lonjakan tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional.

“Kenaikan ULN pemerintah dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing pada SBN internasional. Ini menunjukkan investor tetap percaya pada prospek perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian global,” ujarnya, kemarin (18/2).

ULN pemerintah pada kuartal IV 2025 tercatat USD 214,3 miliar, naik dari USD 210,1 miliar pada kuartal III. Peningkatan ini menegaskan peran negara sebagai motor utama pembiayaan eksternal di akhir tahun.

Secara sektoral, dana utang pemerintah terbesar dialokasikan untuk:

- Jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,1%)

- Administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (19,8%)

- Jasa pendidikan (16,2%)

- Konstruksi (11,7%)

- Transportasi dan pergudangan (8,6%)

Komposisi ini menunjukkan fokus pembiayaan pada sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan layanan publik dan pembangunan infrastruktur strategis.

Swasta Rem, Pemerintah Gas

Berbeda dengan sektor publik, ULN swasta justru mengalami kontraksi. Pada kuartal IV 2025, ULN swasta turun menjadi USD 192,8 miliar, dari USD 194,5 miliar pada kuartal III.

Penurunan terutama terjadi pada perusahaan nonlembaga keuangan, mencerminkan sikap lebih berhati-hati dunia usaha dalam menarik pembiayaan luar negeri di tengah suku bunga global yang masih tinggi dan ketidakpastian geopolitik.

Secara keseluruhan, kenaikan ULN Indonesia masih berada dalam koridor yang terkendali. Struktur utang yang didominasi tenor jangka panjang serta alokasi ke sektor produktif menjadi bantalan penting bagi stabilitas eksternal.

Namun demikian, dinamika global tetap menjadi variabel krusial. Ketergantungan pada arus modal asing menuntut pengelolaan risiko yang disiplin—baik melalui kebijakan moneter yang adaptif maupun strategi pembiayaan yang terukur.

Di penghujung 2025, pesan yang tersirat jelas: kepercayaan investor masih terjaga. Tantangannya kini adalah memastikan setiap dolar utang benar-benar memperkuat fondasi pertumbuhan, bukan sekadar menambah beban neraca.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#ULN #utang #kuartal #bank indonesia