Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

H&M Tutup 160 Gerai Global, Ini Strategi di Baliknya

Redaksi • Jumat, 10 April 2026 | 20:23 WIB
H&M, berencana menutup sekitar 160 gerai di berbagai negara sepanjang 2026. (Instagram @lambegosiip)
H&M, berencana menutup sekitar 160 gerai di berbagai negara sepanjang 2026. (Instagram @lambegosiip)

 

sumutpos.jawapos.com - Perusahaan ritel fesyen asal Swedia, H&M, berencana menutup sekitar 160 gerai di berbagai negara sepanjang 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari langkah strategis perusahaan dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen dan dinamika industri ritel global.

Melansir Instagram @lambegosiip, Jumat (10/4/2026), penutupan tersebut bukan tanpa alasan. H&M tengah melakukan optimalisasi portofolio toko dengan fokus pada efisiensi dan peningkatan profitabilitas. Dalam laporan keuangannya, perusahaan menyebut langkah ini sempat berdampak terhadap penjualan kuartal awal karena adanya proses penutupan dan penyesuaian operasional toko.

Namun, secara jangka panjang, strategi ini diproyeksikan memberi dampak positif. H&M ingin memperkuat kanal penjualan digital sekaligus mempertahankan toko-toko yang dinilai paling produktif.

Baca Juga: Kementan Perkuat Sektor Perbenihan Bawang Putih, DPR RI Dukung Peningkatan Produksi Dalam Negeri

Perubahan ini sejalan dengan tren global di industri ritel. Penjualan online yang terus meningkat membuat banyak perusahaan fesyen mengalihkan fokus dari toko fisik ke platform digital. Konsumen kini juga dinilai lebih nyaman berbelanja secara daring, praktis, dan seringkali lebih murah.

Selain itu, langkah penutupan gerai juga menjadi bagian dari strategi efisiensi biaya, termasuk pengurangan beban operasional seperti tenaga kerja dan sewa lokasi. Dengan model bisnis yang lebih ramping, perusahaan berharap dapat meningkatkan daya saing di tengah tekanan industri.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada rincian resmi mengenai lokasi toko yang akan ditutup, termasuk apakah gerai di Indonesia turut terdampak kebijakan tersebut.

Baca Juga: Amankan Posisi, PSMS Bidik Poin di Kandang Garudayaksa FC

Kabar penutupan ratusan gerai ini pun ramai dibahas di media sosial. Sejumlah warganet menilai langkah H&M sebagai konsekuensi dari perubahan zaman.

“Sekarang orang lebih suka belanja online, jadi wajar toko fisik mulai dikurangi,” tulis netizen.

Namun, ada juga yang menyayangkan keputusan tersebut karena mengurangi pengalaman belanja langsung.

“Padahal seru bisa lihat dan coba langsung di toko. Online kadang zonk ukurannya,” komentar netizen lain.

Sebagian netizen lainnya mengaitkan langkah ini dengan kondisi ekonomi global yang dinilai sedang tidak stabil.

Baca Juga: Gubsu Tampar Teduga Pengguna Narkoba di Kantor KONI Sumut

“Bukan cuma H&M, banyak brand lain juga mulai efisiensi. Daya beli lagi turun,” ujar akun lainnya.

Di sisi lain, ada pula yang melihat ini sebagai strategi cerdas perusahaan untuk bertahan.

“Ini bukan bangkrut, tapi shifting ke digital. Brand besar pasti sudah hitung matang,” tulis seorang pengguna.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa industri ritel tengah berada dalam fase transformasi besar, di mana adaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen menjadi kunci utama untuk bertahan.(lin)

Editor : Redaksi
#ritel #H&M #Fashion Retail #Bisnis Global #Ekonomi Dunia