Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Ini Kata Pengamat Terkait MinyaKita Langka di Pasaran

Juli Rambe • Rabu, 29 April 2026 | 13:13 WIB
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin.

 

 

MEDAN, SUMUT POS- Belakangan ini masyarakat mengeluhkan kelangkaan minyak goreng Minyakita di pasaran. Untuk produksi minyak goreng sendiri diatur oleh pemerintah, di mana produsen yang melakukan ekspor terhadap produk turunan kelapa sawit harus memenuhi alokasi produksi minyakita terlebih dahulu. 

"Selain kebijakan tersebut, saya menilai masih ada beberapa tantangan lain yang dihadapi pemerintah, yakni kenaikan harga bahan baku plastik, termasuk juga kenaikan harga bahan baku utama minyak sawit itu sendiri," kata Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin kepada Sumut Pos di Medan, Selasa (28/4) malam.

Dikatakannya, setelah perang antara Iran Amerika Serikat (AS) pecah, harga Crude Palm Oil (CPO) melambung hingga ke level 4.800 Ringgit per ton, meskipun saat ini ditransaksikan di kisaran harga 4.560 Ringgit per tonnya.

Baca Juga: Kasto Wahyudi, Pembalak yang Kini Jadi Pelestari Mangrove di Pesisir Langkat

Namun angka tersebut tetap lebih tinggi dbandingkan dengan harga di akhir februari yang berada dikisaran 4.000 ringgit per ton.

"Kenaikan harga CPO tersebut telah memicu terjadinya kenaikan harga minyak goreng curah yang saat ini rata rata dijual 21.300 per Kg mengacu kepada Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Sumut. Padahal sebelum perang berkecamuk harga minyak goreng curah berada dalam rentang 18 ribu hingga 19.500 per Kg nya," ujarnya.

Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak goreng curah ini tentunya mendorong masyarakat untuk mencari Minyakita karena harganya diatur dalam Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar 15.700 per Kg.

"Namun sayangnya di sejumlah tempat harga minyakita ada yang dijual di atas 20 ribu per Kg," imbuhnya.

Gunawan memaparkan, ada beberapa tantangan berat yang dihadapi pemerintah maupun produsen minyak goreng di masa mendatang.

Yakni pertama, potensi melemahnya kinerja ekspor minyak sawit di tengah perang antara Iran-AS yang belum terlihat akan mereda. Kedua, ada potensi over supply yang sekalipun produsen pada dasarnya mampu memenuhi kebutuhan produksi minyak goreng di tanah air, namun kinerja ekspornya akan membuat realisasi DMO (domestic market obligation) turun. Dan ketiga, ada kenaikan harga plastik yang sejauh ini dikuatirkan lebih dikarenakan oleh gangguan pasokan yang bisa memicu kelangkaan.

"Nah ketika harga CPO sudah naik sejauh ini dibarengi dengan kenaikan harga plastik, maka kebijakan terkait produksi minyakita memang layak untuk diubah. Meskipun di sisi lain saya menilai harga bahan baku minyak sawit bisa saja kian melemah jika perang Iran-AS kian menekan permintaan produk minyak sawit ke depan. Skenarionya jika harga komoditas minyak dunia kembali naik, lantas akan mendorong kenaikan harga CPO," paparnya.

Tetapi, sambungnya, dalam konteks tertentu saat perang kian memburuk, kenaikan harga tersebut bisa saja bertahan sesaat, dan kembali memicu terjadinya tekanan harga karena dorongan supply atau produksi minyak sawit. 

"Saya menilai kenaikan harga CPO saat ini masih berpeluang alami koreksi. Terlebih jika perang yang berlanjut membuat fundamental industri sawit alami gangguan dari hulu ke hilir," pungkasnya. (dwi/ram)

Editor : Juli Rambe
#minyakita langka #penyebab minyakita langka #benjamin gunawan #MinyaKita