JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Pasar keuangan domestik merespons keras rencana pemerintah membentuk badan ekspor nasional dan memperketat tata kelola devisa hasil ekspor (DHE). Kekhawatiran investor langsung tercermin di lantai bursa setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,54 persen pada perdagangan Rabu (21/5) hingga nyaris menembus level psikologis 6.000.
Pada penutupan perdagangan, IHSG berada di posisi 6.094,94—menjadi salah satu koreksi harian terdalam dalam beberapa bulan terakhir. Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor, terutama saham-saham yang memiliki eksposur ekspor dan afiliasi bisnis luar negeri.
Pelaku pasar menilai ketidakjelasan implementasi kebijakan baru pemerintah menjadi pemicu utama kepanikan investor.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional sekaligus Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pelemahan pasar lebih disebabkan faktor psikologis akibat ketidakpastian awal terhadap kebijakan tersebut.
“Mungkin mereka belum tahu dampak sebenarnya seperti apa. Kalau ada ketidakpastian biasanya takut jual dulu. Tapi kalau nanti mengerti dampaknya, harganya akan naik,” ujarnya.
Baca Juga: El Nino Datang, Indonesia Masih Diguyur Hujan Ekstrem
Menurut Purbaya, kebijakan tata kelola ekspor justru berpotensi meningkatkan transparansi keuntungan perusahaan, terutama emiten yang memiliki transaksi internasional dan afiliasi luar negeri.
“Harusnya ini akan meningkatkan valuasi perusahaan-perusahaan yang sudah listing di bursa. Pelan-pelan akan naik secara signifikan,” tambahnya.
Namun pasar tampaknya belum sepenuhnya percaya. Investor masih menunggu kejelasan teknis mengenai pembentukan badan ekspor, pola transaksi devisa, hingga potensi dampaknya terhadap arus kas perusahaan eksportir.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, mengakui pasar masih berada dalam fase mencari kepastian arah kebijakan.
“Mereka perlu mencari certainty juga, ingin tahu hasilnya,” katanya.
Kekhawatiran serupa juga mulai muncul di kalangan emiten. Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) menyatakan akan segera menggelar diskusi dan survei terhadap perusahaan-perusahaan terdampak guna memetakan risiko dari kebijakan baru tersebut.
Direktur Eksekutif AEI Gilman Pradana mengatakan hingga kini pelaku pasar masih mencoba memahami potensi implikasi pembentukan anak usaha baru Danantara di sektor ekspor.
“Karena baru kemarin diresmikan, jadi belum ada apa-apa. Tapi kami akan melihat persepsi mereka dan masukan yang bisa kami bantu advokasikan,” ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia.
Di tengah tekanan pasar saham, Bank Indonesia (BI) juga bergerak agresif menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Bank sentral menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen sebagai respons terhadap tekanan eksternal yang semakin kuat.
Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menahan gejolak rupiah yang sempat bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai langkah BI cukup efektif dalam jangka pendek untuk menjaga kepercayaan pasar dan mencegah tekanan terhadap rupiah berkembang menjadi risiko sistemik.
“Dalam jangka pendek cukup efektif menjaga stabilitas rupiah. Tetapi tekanan eksternal masih besar karena dolar AS menguat, harga minyak tinggi, dan arus modal global keluar dari emerging markets,” katanya.
Baca Juga: Gagal di Bandara Soetta, 13 Calon Jamaah Haji Ilegal Berangkat dari Kualanamu, Ini Hasilnya
Menurut Rizal, tekanan global kini mulai memicu imported inflation di dalam negeri. Lonjakan harga energi, pangan, logistik, dan bahan baku industri diperkirakan meningkatkan risiko inflasi nasional memasuki semester II 2026.
Meski inflasi April 2026 masih berada di level relatif terkendali sebesar 2,4 persen secara tahunan, ancaman kenaikan harga dinilai belum mereda. Terlebih harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) kini telah menembus USD117 per barel—jauh di atas asumsi APBN sebesar USD70 per barel.
“Kalau tekanan harga energi terus bertahan, maka beban subsidi pemerintah dan biaya produksi domestik bisa meningkat signifikan,” ujarnya.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan