JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Pemerintah mempercepat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Hingga akhir April 2026, realisasi penyaluran KUR telah mencapai Rp112,49 triliun atau 34,41 persen dari target tahun ini sebesar Rp300 triliun.
Dari program pembiayaan tersebut, pemerintah mencatat dampak signifikan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Omzet pelaku UMKM disebut meningkat hingga 34 persen setelah memperoleh akses pembiayaan KUR.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, percepatan penyaluran KUR menjadi bagian penting dalam mendorong target pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok mencapai 8 persen.
“Kita punya momentum menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen. KUR sangat menunjang daerah karena omzet UMKM naik sekitar 34 persen setelah memperoleh kredit usaha rakyat,” ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (26/5).
Tak hanya berdampak terhadap pelaku usaha, pemerintah juga mencatat peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) di sejumlah wilayah. Aktivitas ekonomi masyarakat yang semakin bergerak disebut mendorong pertumbuhan PAD sekitar 18 hingga 27 persen.
Baca Juga: Satresnarkoba Polres Palas Gulung Pengedar Sabu di Sungai Korang, Sita Sabudan Uang Transaksi
Menurut Airlangga, efek berganda dari penyaluran KUR terlihat nyata di daerah karena pembiayaan tersebut mampu memperkuat daya beli, memperluas usaha produktif, hingga membuka lapangan kerja baru.
Hingga April 2026, sebanyak 1,54 juta debitur tercatat telah menerima penyaluran KUR. Pemerintah pun mendorong akselerasi distribusi kredit agar momentum pertumbuhan ekonomi daerah tetap terjaga sepanjang tahun.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja kredit UMKM mulai menunjukkan perbaikan. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan, total kredit UMKM per Maret 2026 mencapai Rp1.498,64 triliun atau tumbuh 0,12 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Capaian tersebut membaik dibanding Februari 2026 yang masih mengalami kontraksi sebesar 0,56 persen.
“Pertumbuhan kredit UMKM ditopang kredit usaha mikro dan menengah yang masing-masing tumbuh 0,20 persen dan 0,90 persen secara YoY,” ujar Dian.
Baca Juga: Pemkab Langkat Bantu Dua Ekor Sapi Qurban dan 500 Kg Beras
Meski demikian, kredit usaha kecil masih mengalami moderasi dengan pertumbuhan minus 0,49 persen. Kendati begitu, kualitas kredit dinilai tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) sebesar 4,6 persen.
OJK mencatat, pertumbuhan kredit UMKM terutama didorong sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, aktivitas keuangan dan asuransi, akomodasi dan makan minum, serta sektor hiburan dan rekreasi.
Pemerintah berharap penguatan akses pembiayaan bagi UMKM dapat terus menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi nasional, terutama di tengah upaya memperkuat ekonomi berbasis kerakyatan dan memperluas pemerataan pembangunan di daerah. (jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan