Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Inflasi Medis Indonesia Tertinggi di Asia, Allianz Soroti Pentingnya Perlindungan Kesehatan Jangka Panjang

Triadi Wibowo • Jumat, 26 Juni 2026 | 10:33 WIB
Inflasi Medis Indonesia Tertinggi di Asia, Allianz Soroti Pentingnya Perlindungan Kesehatan Jangka Panjang.
Inflasi Medis Indonesia Tertinggi di Asia, Allianz Soroti Pentingnya Perlindungan Kesehatan Jangka Panjang.

 

JAKARTA – Kenaikan biaya kesehatan atau inflasi medis menjadi tantangan yang semakin nyata bagi masyarakat Indonesia. Berdasarkan laporan MMB Asia Health Trends 2026, tingkat inflasi medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8 persen pada 2026, tertinggi di Asia dan melampaui rata-rata kawasan yang berada di angka 12,5 persen.

Kondisi ini mendorong masyarakat untuk semakin memahami berbagai faktor yang memicu kenaikan biaya kesehatan, termasuk tingginya biaya penanganan penyakit kritis seperti penyakit jantung, agar dapat mempersiapkan perlindungan kesehatan dan keuangan jangka panjang.

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, Allianz Indonesia menggelar Media Workshop bertema “Menjaga Keberlanjutan Perlindungan Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis”. 

Baca Juga: Norwegia vs Prancis: Panggung Baru Rivalitas Haaland dan Mbappé

Diskusi tersebut menghadirkan perspektif medis dan industri asuransi terkait tantangan kenaikan biaya kesehatan.

Dalam paparannya, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bayushi Eka Putra, Sp.JP(K), FIHA, menjelaskan bahwa penyakit tidak menular masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Salah satunya penyakit jantung yang kini semakin banyak ditemukan pada usia produktif.

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kurang aktivitas fisik, stres tinggi, pola makan tidak sehat, hingga kebiasaan merokok.

"Banyak faktor risiko penyakit jantung sebenarnya dapat dicegah dan dikendalikan sejak dini. Namun, ketika risiko terjadi, penanganannya sering kali membutuhkan tindakan yang kompleks dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sehat, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, mengenali faktor-faktor risiko yang dimiliki, serta mempersiapkan perlindungan kesehatan menjadi sangat penting," ujar dr. Bayushi.

Baca Juga: Bentrok Warga dan PT Bridgestone di Sipispis, 27 Sepeda Motor dan Satu Truk Fuso Dibakar

Ia menambahkan, perkembangan teknologi medis saat ini memang membantu meningkatkan kualitas diagnosis dan pengobatan, mulai dari deteksi dini hingga penentuan tindakan medis yang lebih tepat. Namun di sisi lain, kemajuan tersebut juga turut memengaruhi meningkatnya biaya layanan kesehatan.

Menurut dr. Bayushi, penyakit kritis bukan hanya berdampak pada kondisi kesehatan pasien, tetapi juga dapat memengaruhi produktivitas, kualitas hidup, hingga kondisi finansial seseorang.

Sementara itu, Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia, Rina Triana, mengatakan kenaikan biaya medis menjadi tantangan yang dihadapi seluruh ekosistem kesehatan, termasuk industri asuransi.

Selain dipengaruhi inflasi dan perkembangan layanan medis, tekanan biaya kesehatan juga dipengaruhi faktor ekonomi makro, seperti pelemahan nilai tukar rupiah yang berdampak pada biaya alat kesehatan dan obat-obatan impor.

Baca Juga: Padang Lawas Tembus 10 Besar MTQ Sumut ke-40, Ketua Kafilah Ungkap Kunci Sukses

Berdasarkan data Allianz Indonesia, rata-rata biaya perawatan sejumlah penyakit kritis selama periode 2020–2025 meningkat signifikan. Biaya perawatan penyakit jantung meningkat hingga 219 persen, kanker 179 persen, dan stroke 169 persen.

Sepanjang 2025, Allianz Life dan Allianz Syariah juga telah membayarkan total klaim dan manfaat sebesar Rp6,3 triliun, dengan Rp3,7 triliun di antaranya merupakan klaim kesehatan.

"Ketika biaya layanan kesehatan terus meningkat, tantangannya bukan hanya menjaga masyarakat dapat memperoleh akses terhadap layanan yang berkualitas saat ini, tetapi juga memastikan perlindungan kesehatan tetap relevan dan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan dalam jangka panjang," ujar Rina.

Baca Juga: Lina Mukherjee Menikah Diusia 36 Tahun, Sebut Memang Doanya

Menurutnya, perlindungan kesehatan perlu dipandang sebagai bagian penting dari perencanaan keuangan jangka panjang, karena penyakit kritis tidak hanya berdampak pada biaya rawat inap, tetapi juga biaya pemulihan dan pengobatan lanjutan.

"Ke depan, tantangannya bukan hanya menghadirkan perlindungan kesehatan yang relevan dengan kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan manfaatnya tetap berkelanjutan di tengah perubahan lanskap kesehatan. Saat risiko kesehatan dan biaya perawatan terus meningkat, perlindungan kesehatan menjadi semakin penting sebagai bagian dari perencanaan jangka panjang keluarga," tutup Rina. (rel/tri)

Editor : Redaksi
#allianz indonesia #Asuransi kesehatan