Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kevin Warsh Resmi Pimpin The Fed, Hadapi Inflasi Tinggi dan Tekanan Politik Trump

J
Penulis: Johan Panjaitan❯
TERPILIH: Senat AS resmi mengesahkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) menggantikan Jerome Powell. (leparisnow)
TERPILIH: Senat AS resmi mengesahkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) menggantikan Jerome Powell. (leparisnow)

Advertisement

 

WASHINGTON, D.C., Sumutpos.jawapos.com– Amerika Serikat memasuki fase baru dalam arah kebijakan moneternya. Senat AS resmi mengesahkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) menggantikan Jerome Powell, setelah melalui voting sengit yang menjadi salah satu paling ketat dalam hampir setengah abad terakhir.

Di tengah inflasi yang kembali menanjak dan tekanan politik dari Presiden Donald Trump agar suku bunga segera dipangkas, Warsh langsung menghadapi tantangan besar bahkan sejak hari pertama menjabat.

Advertisement

Berdasarkan data United States Senate, pencalonan Warsh disetujui dengan perolehan 54 suara berbanding 45. Selisih tipis itu tercatat sebagai voting pengesahan ketua bank sentral paling ketat sejak 1977.

Peta dukungan di Senat juga memperlihatkan tajamnya polarisasi politik di Washington. Mayoritas senator Partai Republik solid mendukung Warsh, sementara hampir seluruh senator Demokrat menolak pencalonannya. Hanya Senator Demokrat asal Pennsylvania, John Fetterman, yang memilih mendukung kandidat pilihan Donald Trump tersebut.

Advertisement

Pemimpin Mayoritas Senat John Thune bahkan melontarkan kritik keras terhadap penolakan kubu Demokrat.

“Ini menunjukkan seberapa parah Trump derangement syndrome saat ini,” ujarnya.

Warsh resmi menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Jumat (15/5) waktu setempat. Pergantian pucuk pimpinan The Fed ini terjadi di momen sensitif ketika Gedung Putih secara terbuka mendorong bank sentral menurunkan suku bunga demi menjaga laju pertumbuhan ekonomi menjelang pemilu sela Kongres November mendatang.

Namun situasinya tidak sesederhana itu.

Tekanan politik untuk melonggarkan kebijakan moneter justru datang saat inflasi AS kembali memanas. Data terbaru menunjukkan inflasi tahunan mencapai 3,8 persen pada April, tertinggi sejak Mei 2023.

Lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah, ditambah kenaikan biaya pangan dan perumahan, membuat ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga menjadi semakin sempit.

Advertisement

Artikel Terkait

The Fed Kerek Suku Bunga, Rupiah Siap Hadapi Tekanan Baru

The Fed Kerek Suku Bunga, Rupiah Siap Hadapi Tekanan Baru

The Fed menaikkan suku bunga ke 3,75–4 persen, memicu potensi tekanan baru terhadap rupiah hingga akhir 2026.

The Fed Bersiap Naikkan Suku Bunga? Inflasi AS Bikin Peluang Tembus 85 Persen

The Fed Bersiap Naikkan Suku Bunga? Inflasi AS Bikin Peluang Tembus 85 Persen

Inflasi AS Agustus 2026 di atas perkiraan. Peluang The Fed menaikkan suku bunga 25 bps kini mencapai 85 persen.

Rupiah Kembali Tertekan! 2 Sentimen Ini Bisa Bikin Dolar Tembus Rp17.590

Rupiah Kembali Tertekan! 2 Sentimen Ini Bisa Bikin Dolar Tembus Rp17.590

Rupiah diprediksi melemah ke Rp17.590 per dolar AS, dipengaruhi sentimen The Fed dan kenaikan harga minyak dunia.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer