Rupiah Kembali Tertekan! 2 Sentimen Ini Bisa Bikin Dolar Tembus Rp17.590

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 08:47 WIB
DIPREDIKSI: Celios memprediksi rupiah bisa tembus Rp20 ribu per dolar AS akhir Juni 2026 jika pemerintah gagal memperbaiki fundamental ekonomi. (iLUSTRASI/INVESTOR)
DIPREDIKSI: Celios memprediksi rupiah bisa tembus Rp20 ribu per dolar AS akhir Juni 2026 jika pemerintah gagal memperbaiki fundamental ekonomi. (iLUSTRASI/INVESTOR)

 

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Mata uang Garuda diperkirakan melemah pada perdagangan Jumat (11/9), setelah pada perdagangan sehari sebelumnya ditutup turun 36 poin ke level Rp17.547 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah hari ini masih dibayangi sentimen dari dalam dan luar negeri. Kondisi tersebut membuat nilai tukar rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.

"Untuk perdagangan (11/9) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.540–Rp17.590," ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima Jumat (11/9).

Baca Juga: New York Batasi AI Generatif untuk Siswa Sekolah

Ibrahim menyebut, terdapat dua sentimen utama yang menjadi perhatian pasar. Dari eksternal, pelaku pasar mencermati sejumlah data ekonomi AS yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Pasar bersiap menanti rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS serta data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI). Kedua indikator tersebut menjadi penting karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed pada pertemuan pekan depan.

"Laporan-laporan ini dapat memberikan petunjuk mengenai apakah The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuannya minggu depan untuk meredam tekanan harga," jelasnya.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed pekan depan berada di sekitar 60 persen. Ekspektasi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dan dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sementara dari dalam negeri, sentimen yang turut membayangi rupiah datang dari risiko fiskal akibat kenaikan harga minyak dunia.

Baca Juga: Viral Program Pendidikan Anwar Hafid, Sulteng Pilih Bangun SDM

Ibrahim mengatakan pemerintah memang telah memberikan sinyal bahwa kondisi anggaran negara masih aman. Namun, lonjakan harga minyak mentah tetap perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi, terutama untuk BBM dan LPG.

"Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran utama pada beberapa sektor. Kenaikan harga minyak meningkatkan alokasi anggaran subsidi dan kompensasi energi, baik BBM maupun LPG," katanya.

Menurut Ibrahim, persoalan muncul apabila penerimaan negara tidak mampu mengimbangi kenaikan belanja untuk subsidi energi. Kondisi tersebut berpotensi memperlebar defisit anggaran melampaui target yang telah ditetapkan.

Tekanan terhadap rupiah juga dapat semakin besar apabila harga minyak yang tinggi membuat kebutuhan impor energi meningkat. Pasalnya, transaksi impor tersebut membutuhkan dolar AS dalam jumlah lebih besar.

"Apabila impor minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan dolar AS, itu dapat melemahkan nilai tukar mata uang domestik," ujarnya.

Baca Juga: MUI Jatim Dorong Pergub Larangan Sound Horeg Usai Tiga Warga Meninggal

Di sisi lain, apabila pemerintah memilih menaikkan harga BBM domestik untuk mengurangi tekanan terhadap APBN, dampaknya juga perlu diperhitungkan. Kebijakan tersebut berpotensi mendorong inflasi sekaligus menekan daya beli masyarakat.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu menjaga bantalan fiskal atau fiscal buffer. Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah mengoptimalkan penerimaan dari ekspor komoditas lain maupun memanfaatkan keuntungan akibat kenaikan harga komoditas (windfall) untuk menjaga ketahanan anggaran.

Dengan dua sentimen tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat diperkirakan masih akan berlangsung dinamis. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan data ekonomi AS sekaligus kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal di tengah tingginya harga minyak dunia.(jpc/han)

Editor : Johan Panjaitan
minyak dunia the fed melemah dolar as rupiah