sumutpos.jawapos.com - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam di Indonesia memiliki beragam tradisi yang sarat makna spiritual dan sosial. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah punggahan atau munggahan.
Tradisi ini menjadi simbol kesiapan masyarakat dalam menyambut bulan penuh berkah sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Melansir nu.or.id, Sabtu (14/2/2026), Punggahan merupakan tradisi yang lazim dilakukan masyarakat Muslim menjelang Ramadan, umumnya sekitar satu minggu sebelum dimulainya ibadah puasa.
Kegiatan ini biasanya diisi dengan makan bersama keluarga, kerabat, atau masyarakat sekitar, yang sering dirangkai dengan doa dan tahlil di masjid, musala, maupun lingkungan tempat tinggal.
Tradisi ini menjadi bagian dari syiar Islam karena mengandung unsur sedekah, kebersamaan, serta rasa syukur atas kesempatan bertemu bulan Ramadan.
Secara bahasa, istilah munggahan berasal dari kata “munggah” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai hari terakhir bulan Ruwah sebelum memasuki Ramadan.
Sementara dalam pemaknaan budaya Jawa, munggahan berarti “naik”, yakni naik menuju bulan Ramadan yang dianggap sebagai puncak kemuliaan setelah bulan Rajab dan Sya’ban.
Tradisi punggahan tidak hanya sekadar makan bersama. Di dalamnya terdapat berbagai nilai dan hikmah yang menjadi landasan pelaksanaan tradisi tersebut.
Salah satunya adalah sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat umur yang masih diberikan sehingga bisa kembali bertemu Ramadan. Bulan suci tersebut diyakini sebagai waktu yang penuh keberkahan dan kesempatan memperbanyak amal ibadah.
Selain itu, punggahan juga menjadi ajang mempererat silaturahmi. Dalam kehidupan modern yang penuh kesibukan, momen berkumpul bersama keluarga dan masyarakat menjadi kesempatan penting untuk mempererat hubungan sosial.
Tradisi ini juga menjadi sarana untuk saling memaafkan, sehingga umat Islam dapat menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh keikhlasan.
Baca Juga: Warga Negara Mana yang Paling Banyak Menjadi Tentara Israel?
Dalam pandangan keislaman, bergembira menyambut datangnya Ramadan merupakan hal yang dianjurkan. Kegembiraan tersebut mencerminkan kesiapan spiritual untuk menjalankan ibadah puasa sekaligus memperbaiki kualitas diri.
Oleh karena itu, punggahan menjadi salah satu cara masyarakat Nusantara mengekspresikan kegembiraan tersebut melalui kegiatan yang bernilai ibadah dan kebersamaan.
Hingga kini, tradisi punggahan tetap bertahan sebagai warisan budaya Islam Nusantara yang memperlihatkan harmonisasi antara nilai agama dan kearifan lokal.
Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya mempersiapkan diri secara spiritual, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial menjelang datangnya bulan suci Ramadan. (lin)
Editor : Redaksi