Aghniny Haque Sampai Klaustrofobia, Adegan Dikubur di Film Ini Ternyata Bikin Tegang

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 15:24 WIB
Aghniny Haqua Hnung. (Jawa Pos)
Aghniny Haqua Hnung. (Jawa Pos)

 

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Bagi Aghniny Haque, kembali ke film horor bukan semata soal mengejar ketegangan atau menghadirkan teror di layar. Ada karakter yang harus dibongkar, luka yang harus dipahami, serta perjalanan emosional yang membuatnya kembali tertarik pada genre yang telah membesarkan namanya dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak 2022, hampir setiap tahun Aghniny terlibat dalam proyek film horor. Meski sempat berniat mengambil jeda dan menjajal lebih banyak drama maupun film aksi, tawaran untuk bermain dalam Bisikan Desa Gringsing membuat rencana tersebut berubah.

Film karya sutradara Ivander Tedjasukmana itu tidak hanya mengandalkan teror gaib. Horor dalam film ini dipertemukan dengan trauma personal dan sejarah kelam yang menjadi bagian dari perjalanan karakter.

Baca Juga: Pekan Sempurna Bruno Fernandes: Hat-trick, Assist, dan Treble Penghargaan Individu

Saat berkunjung ke redaksi Jawa Pos Jakarta pekan lalu, Aghniny mengungkap alasan dirinya menerima tawaran tersebut.

“Memang sempat kepikiran mau lebih ke drama atau aksi. Tapi ada beberapa produser horor yang menawarkan. Salah satunya, ya, Bisikan Desa Gringsing. Pas aku baca ceritanya, karakter Hesti yang aku perankan ini menarik,” ujar Aghniny.

Baginya, bukan label film horor yang menjadi daya tarik utama. Karakter Hesti-lah yang membuatnya tertantang.

Bukan Perempuan yang Sekadar Menunggu Diselamatkan

Hesti digambarkan sebagai perempuan yang berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia memilih menjauh dari orang-orang di sekitarnya, termasuk mereka yang sebenarnya ingin membantu.

Di tengah keterasingan tersebut, Hesti terus berusaha mencari ayahnya yang menghilang di Desa Gringsing. Pencarian itu kemudian membawanya pada berbagai rahasia dan sejarah kelam yang perlahan memaksanya berhadapan dengan trauma masa lalu.

Aghniny melihat Hesti bukan sebagai karakter perempuan yang sekadar hadir untuk dikasihani.

Baca Juga: Tiga Bulan Sekaligus, Pemko Binjai Salurkan 9,7 Ton Beras untuk Warga

“Dia mesti punya perjalanan emosional yang menantang dan pesan yang bisa disampaikan buat penonton. Karakter Hesti dan karakter perempuan lain di Bisikan Desa Gringsing juga bagus. Mereka adalah perempuan yang tak hanya mau dikasihani,” katanya.

Untuk membangun karakter tersebut, Aghniny melakukan riset mengenai aspek psikologis korban trauma. Ia menonton sejumlah dokumenter untuk memahami bagaimana seseorang menghadapi pengalaman traumatis dan bagaimana luka tersebut dapat memengaruhi perilaku.

Pendekatan itu penting baginya agar kemarahan, sikap menarik diri, dan keputusan-keputusan Hesti tidak tampil sebagai emosi yang muncul tanpa alasan.

“Aku mau lihatin apa alasan Hesti marah dan menarik diri,” ujarnya.

60 Persen Dunia Virtual

Tantangan Aghniny tidak berhenti pada pendalaman karakter. Bisikan Desa Gringsing juga menggunakan teknologi virtual production (VP) dalam proses produksinya.

Film yang diproduksi di Singapura dan Malaysia itu menggunakan perpaduan antara latar virtual pada layar raksasa dan set fisik. Porsinya mencapai 60 persen virtual production dan 40 persen set sungguhan.

Bagi para pemain, teknologi tersebut menghadirkan tantangan tersendiri. Mereka harus membangun imajinasi terhadap lingkungan yang sebenarnya tidak berada di depan mata secara nyata.

Baca Juga: Tiga Bulan Sekaligus, Pemko Binjai Salurkan 9,7 Ton Beras untuk Warga

Namun, menurut Aghniny, teknologi VP justru membantu ketika produksi membutuhkan adegan yang sulit atau membutuhkan waktu panjang jika dilakukan secara konvensional.

Adegan malam, misalnya, dapat dilakukan tanpa harus menunggu malam tiba. Begitu pula adegan pengejaran menggunakan mobil yang secara teknis dapat dibuat lebih efisien.

“Imajinasi kami pun sudah terbantu dengan latar di VP. Kami hanya perlu menyesuaikan akting dengan situasi dan latar,” jelasnya.

Ada satu hal yang cukup unik. Para pemain harus membayangkan kondisi panasnya Desa Gringsing, sementara proses syuting berlangsung di dalam studio dengan suhu yang justru dingin.

“Contohnya membayangkan bahwa Desa Gringsing itu panas, meski studio VP-nya dingin,” tuturnya.

Dikubur dalam Ruang Sempit, Ketakutan Jadi Nyata

Salah satu tantangan terbesar Aghniny justru datang dari adegan yang tampak sederhana tetapi sangat berat secara psikologis: Hesti dikubur dalam ruang sempit.

Dalam kehidupan nyata, Aghniny mengaku memiliki kecenderungan klaustrofobia. Karena itu, adegan tersebut bukan hanya membutuhkan kemampuan akting, tetapi juga keberanian untuk menghadapi ketakutannya sendiri.

Adegan itu direkam di Subang pada sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 dini hari.

“Aku sebenarnya agak klaustrofobia. Terbayang, kan, gimana aku harus melakukan adegan dikubur di tempat sempit,” katanya.

Alih-alih melawan rasa takut tersebut, Aghniny memilih membiarkannya menjadi bagian dari proses akting.

“Aku embrace aja sih. Emosinya keluar natural, terlebih Hesti pun sebenarnya nggak mau ada di situasi itu.”

Baca Juga: Fraksi Demokrat Desak Pansus CSR Karo: “Buka Dokumen, Uji Legalitas"

Proses pengambilan gambar berlangsung cukup lama. Namun, begitu adegan tersebut selesai, Aghniny mengaku langsung merasakan kelegaan.

Di titik itu, batas antara ketakutan pribadi dan emosi karakter menjadi begitu tipis. Rasa tertekan yang dialami Aghniny justru membantu menghadirkan emosi Hesti secara lebih natural.

Tak Menutup Pintu untuk Horor

Meski sebelumnya sempat berencana mengambil jeda dari film horor, pengalaman bermain dalam Bisikan Desa Gringsing membuat Aghniny tidak ingin menutup kemungkinan kembali ke genre tersebut.

Untuk saat ini, ia memilih sikap sederhana: never say never.

“Wah, kalau sekarang aku lebih ke never say never, ya. Apalagi juga horor di Indonesia itu market dan peminatnya banyak,” ujarnya.

Bagi Aghniny, Bisikan Desa Gringsing pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang sesuatu yang menakutkan. Film tersebut juga menjadi ruang untuk membicarakan trauma, kehilangan, keberanian menghadapi masa lalu, dan bagaimana seseorang berusaha bangkit dari titik terendahnya.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
adegan klaustrofobia Syuting film horor