SUMUT POS- Penyanyi Ed Sheeran membahas situasi di Gaza dalam konsernya di Philadelphia, Amerika Serikat, pada Sabtu (19/9).
Dilansir dari Arab News, Minggu (20/9), Sheeran membuka konser di Lincoln Financial Field tanpa penampil pembuka. Ia tampil sendirian di atas panggung sebelum kemudian bergabung dengan sejumlah musisi lain dalam pertunjukan tersebut.
Sheeran mengatakan ingin musik dan konsernya menjadi ruang untuk persatuan dan kemanusiaan, bukan politik.
Baca Juga: Seraf Naro Siregar Sumbang Mendali Pertama untuk Indonesia, Raih Perunggu di Cabor Wushu
Namun, ia menyebut serangan di Israel pada 7 Oktober 2023 sebagai peristiwa mengerikan dan situasi yang berlangsung di Gaza sebagai sesuatu yang "katastrofik dan tidak dapat dibenarkan".
"Saya tidak ingin mengecewakan penggemar, dan saya tidak pernah ingin menjadi musisi aktivis. Namun, hal ini menempatkan saya di tengah perdebatan penting dan penuh emosi mengenai kebebasan berbicara serta persoalan politik paling kompleks di dunia," kata Sheeran di hadapan penonton yang memenuhi hampir seluruh stadion.
Pernyataan Sheeran tersebut disampaikan setelah pekan yang penuh gejolak dalam rangkaian tur musiknya. Kontroversi bermula ketika Macklemore, rapper yang semula dijadwalkan menjadi penampil pembuka tur Sheeran di Amerika Serikat, dicoret setelah meneriakkan "Free Palestine" dalam konser di New Jersey pada 5 September.
Sheeran mengatakan dirinya tidak bertanggung jawab atas keputusan tersebut. Pencoretan Macklemore dilakukan atas dorongan pemilik klub New England Patriots, Robert Kraft. Perusahaan milik Kraft mengelola stadion yang dijadwalkan menjadi salah satu lokasi konser Sheeran pada Jumat (18/9).
Sebelum konser berlangsung, sekelompok kecil demonstran pro-Palestina berkumpul di luar stadion.
Hillary Steinberg, 34, mengatakan dirinya telah membeli tiket konser setahun sebelumnya, tetapi memilih meminta pengembalian dana dan menghadiri aksi demonstrasi karena kecewa Sheeran tidak mengambil sikap. (jpc/ram)
Editor : Juli Rambe