sumutpos.jawapos.com - Di tengah persoalan sampah plastik yang tak kunjung usai, inovasi dari kampus kembali menawarkan harapan. Kali ini datang dari Institut Teknologi Bandung yang mengembangkan teknologi pengolahan limbah plastik menjadi paving block ramah lingkungan. sebuah solusi yang tidak hanya menekan timbunan sampah, tetapi juga menjawab kebutuhan infrastruktur di daerah.
Melansir situs itb.ac.id, Senin (27/4/2026), Tim Ganesha Operation Plastic (GaneOpTic) ITB menginisiasi teknologi yang mengubah sampah plastik menjadi bahan bangunan berupa paving block. Inovasi ini lahir dari kondisi nyata di Pulau Balai, Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, yang menghadapi dua persoalan utama, yakni, penumpukan sampah plastik dan keterbatasan infrastruktur jalan.
Data setempat menunjukkan, timbunan sampah plastik di wilayah tersebut mencapai ratusan ton per tahun. Angka ini mencerminkan persoalan klasik kawasan pesisir, limbah kiriman dan minimnya sistem pengelolaan.
Baca Juga: Tolak Relokasi, PKL Jalan Bandung dan Olahraga Geruduk Balai Kota Binjai
Melihat kondisi itu, tim ITB menghadirkan pendekatan teknologi tepat guna untuk mengolah limbah menjadi material yang langsung bisa dimanfaatkan masyarakat.
Program ini dipimpin oleh peneliti Teknik Kimia ITB dan melibatkan kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi lain. Kegiatan tidak hanya berfokus pada riset, tetapi juga implementasi langsung di lapangan.
Mulai dari penyerahan alat pelebur plastik (smelter), edukasi pengelolaan sampah, hingga pelatihan produksi paving block dilakukan secara bertahap kepada masyarakat.
Pendekatan ini menempatkan warga bukan sekadar sebagai penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam rantai solusi.
Proses pembuatan paving block dilakukan melalui beberapa tahap, mulai dari pemilahan hingga pencetakan. Hasil akhirnya adalah produk yang diklaim memiliki ketahanan terhadap air laut, lebih fleksibel terhadap perubahan suhu, serta lebih ringan dibandingkan paving konvensional.
Baca Juga: Pemain Timnas Voli Putri Indonesia, Ada Megawati dan Shindy Sasqia
Di wilayah pesisir yang rentan terhadap korosi dan cuaca ekstrem, karakteristik ini menjadi nilai tambah yang signifikan.
Lebih jauh, inovasi ini membuka peluang ekonomi baru. Produksi paving block berbasis sampah plastik dapat dikembangkan sebagai usaha desa, sekaligus mengurangi ketergantungan pada material dari luar daerah.
Model ini mendorong terbentuknya ekonomi sirkular, di mana limbah diolah kembali menjadi produk bernilai.
Di media sosial, inovasi ini memantik beragam respons. Mayoritas netizen menyambut positif langkah ITB yang dinilai solutif dan aplikatif.
“Kalau ini bisa diterapkan luas, masalah sampah plastik bisa jauh berkurang,” tulis salah satu pengguna.
Baca Juga: USU Bersama AIT dan Jepang Bahas Perencanaan Kota Dalam Menghadapi Risiko Banjir
Komentar lain menyoroti aspek pemberdayaan masyarakat:
“Bukan cuma soal teknologi, tapi ini ngajarin warga buat mandiri. Keren sih.”
Namun, tidak sedikit pula yang mengingatkan pentingnya pengujian jangka panjang.
“Bagus idenya, tapi perlu diuji ketahanannya bertahun-tahun. Jangan sampai cepat rusak.”
Ada juga yang menyinggung isu lingkungan lanjutan:
“Semoga nggak menghasilkan mikroplastik baru di kemudian hari.”
Baca Juga: Kejati Sumut Geledah Kantor Satker PKP Sumatera II, Usut Dugaan Korupsi Rusun Rp64 Miliar
Diskusi ini menunjukkan bahwa publik tidak hanya antusias, tetapi juga kritis terhadap inovasi berbasis lingkungan.
Inovasi paving block dari sampah plastik yang dikembangkan ITB menunjukkan bahwa solusi lingkungan bisa hadir dari pendekatan sederhana namun berdampak luas. Di satu sisi, ia menjawab persoalan limbah; di sisi lain, membuka peluang ekonomi baru.
Di tengah krisis sampah yang kian kompleks, langkah seperti ini menjadi pengingat bahwa perubahan bisa dimulai dari hal yang paling dekat, bahkan dari sesuatu yang selama ini dianggap tak bernilai.(lin)
Editor : Redaksi