sumutpos.jawapos.com – Gempa bumi yang merusak bangunan sekolah tidak memadamkan semangat belajar siswa SDN Ai Wuat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah keterbatasan, para guru bersama wali murid memilih bergerak bersama membangun ruang belajar darurat agar kegiatan pendidikan tetap berjalan.
Bangunan sekolah yang mengalami kerusakan membuat proses belajar mengajar tidak bisa berlangsung seperti biasa. Namun, kondisi tersebut tidak membuat warga sekolah menyerah. Melansir Instagram @cretivox, Kamis (10/9/2026), mereka bergotong royong menyiapkan tempat belajar sementara dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar lingkungan.
Untuk mendapatkan bahan bangunan, para guru dan orang tua murid harus menempuh perjalanan sekitar 1 kilometer menembus kawasan hutan. Bambu yang akan digunakan sebagai material kelas darurat dipikul bersama secara bergantian.
Baca Juga: Imigrasi Medan Berubah Jadi Imigrasi Kualanamu, Pemilik Paspor Tidak Perlu Takut
Setiap langkah membawa bambu menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan hak anak-anak untuk tetap mendapatkan pendidikan.
Ruang belajar yang dibangun memang sederhana. Namun, bagi warga SDN Ai Wuat, bangunan tersebut memiliki arti besar. Tempat itu menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan agar siswa tetap dapat membaca, menulis, dan belajar bersama meski berada dalam situasi pascabencana.
“Yang kami bangun bukan hanya sebuah kelas, tetapi tempat bagi anak-anak untuk tetap memiliki harapan,” menjadi semangat yang menggerakkan para guru dan wali murid.
Baca Juga: Tidak Semua Barang Bisa Dibersihkan dengan Air Panas, Ini Buktinya
Semangat gotong royong masyarakat Sikka juga menjadi gambaran bagaimana pendidikan tetap menjadi prioritas meski bencana datang. Di sejumlah wilayah terdampak gempa NTT, sekolah-sekolah harus melakukan penyesuaian pembelajaran, mulai dari penggunaan tenda darurat hingga ruang belajar sementara.
Bagi siswa SDN Ai Wuat, kelas darurat dari bambu itu bukan sekadar bangunan sementara. Di tempat sederhana tersebut, mimpi dan masa depan mereka tetap dijaga agar tidak ikut runtuh bersama bangunan sekolah yang rusak.(lin)
Editor : Redaksi