TEHERAN, Sumutpos.Jawapos.com– Sebelum Israel menyerang Iran dua pekan lalu, intelijen Amerika Serikat (AS) dan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menyatakan, kalau tak ada indikasi negeri yang beribu kota di Teheran tersebut membuat senjata nuklir.
Tak ada tanda-tanda pula Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi negeri yang dulu bernama Persia itu, memerintahkannya. Tapi, Perang 12 Hari, tulis Julian Borger di The Guardian, bisa membuat Khamenei berubah pikiran.
“Bahwa hanya senjata nuklir yang bisa menghalangi musuh Iran,” tulis mantan koresponden di Timur Tengah itu dalam kolomnya di media terkemuka Inggris tersebut.
Apalagi, serangan Amerika Serikat (AS) ketiga situs nuklir Iran ternyata tak menimbulkan kerusakan berarti. Meskipun Presiden AS Donald Trump menyebut ketiga situs di Fordow, Natanz, dan Isfahan itu telah dilenyapkan.
Serangan militer AS melibatkan pesawat pengebom B-2 yang menjatuhkan 12 GBU-57 di Fordow dan 2 lainnya di Natanz.
Selain itu, kapal selam AS meluncurkan sekitar 30 rudal Tomahawk ke arah fasilitas konversi uranium di Isfahan.
Mengutip AFP, temuan awal Defense Intelligence Agency, sayap intelijen Pentagon atau Departemen Pertahanan AS, menyatakan, serangan tersebut hanya membuat program nuklir Iran mengalami sedikit kendala.
Menurut dua sumber yang tahu betul tentang temuan itu, komponen inti program nuklir, termasuk sentrifugal, bakal bisa dihidupkan kembali dalam beberapa bulan.
Temuan tersebut juga menyatakan, kalau Iran sudah memindahkan uranium mereka dengan kualitas tertinggi ke situs rahasia. Jika mau, stok tersisa itu bisa digunakan Iran untuk membuat senjata nuklir.
Trump tentu saja membantah kabar itu dengan keras. “Kabar bohong CNN, bersama dengan New York Times, kedua media itu telah merendahkan salah satu serangan militer paling berhasil dalam sejarah,” tulis Trump di akun platform Truth Social-nya.
Trump juga sama murkanya dengan Iran dan Israel, terutama Israel karena dianggap sama-sama melanggar gencatan senjata. Gencatan senjata itu resminya dimulai Selasa (24/6) siang pukul 12.00 WIB. Tapi, tetap saja Israel dan Iran saling tuding masing-masing pihak telah melanggar gencatan.
Baik Israel maupun Iran sama-sama mengklaim sebagai pemenang Perang 12 Hari. Di Tel Aviv, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sempat menyatakan, bahwa kemenangan bersejarah tersebut akan dikenang.
“Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Kami telah menggagalkan proyek nuklir mereka, dan kami akan bertindak dengan tekad yang sama jika mereka mencoba membangunnya kembali,” ujarnya.
Tapi, dari Teheran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga mendeklarasikan, kemenangan serupa. “Ini kemenangan besar,” katanya, seperti dikutip dari Channel 4.
Dampak lain dari serangan Israel serta AS ke Iran, IAEA mengaku tak bisa lagi memantau keberadaan 400 kg uranium yang diperkaya hingga mencapai 60 persen kemurnian. Iran diduga telah mengamankan highly enriched uranium (uranium yang telah diperkaya/HEU) tersebut ke situs rahasia.
Padahal, sebelum Israel dan AS menyerang, IAEA punya material pengawasan jarak jauh sampai ke tempat penyimpanan uranium Iran yang paling dalam. Stok itu, menurut Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi merupakan mahkota program nuklir negeri tetangga Iraq tersebut.
“Kalau bisa diperkaya sampai 90 persen, stok itu cukup untuk dibuat sekitar 10 hulu ledak nuklir,” tulis Borger.
Stok tersebut bisa disimpan dan ditransportasikan ke dalam kontainer seukuran tangki penyalaman, dan bisa dipindahkan dengan mudah menggunakan mobil biasa.
Wakil Presiden AS JD Vance mengaku, Washington DC juga tidak tahu di mana HEU Iran itu disimpan. “Itu salah satu hal yang akan kami bahas dengan Iran,” kata Vance dalam program ABC This Week.
James Acton, co-director program kebijakan nuklir di Carnegie Endowment for International Peace, pun menyebut, tak jelasnya keberadaan 400 kg uranium Iran itu sebagai bukti kegagalan perang yang dilancarkan Israel dengan bantuan AS. “Beginilah hasil dari operasi militer,” kecamnya lewat X.
Jeffrey Lewis, guru besar di Middlebury Institute of International Studies, Monterey, memperkirakan, Iran hanya butuh lima bulan untuk membuat senjata nuklir. Israel memang telah menewaskan 15 ilmuwan nuklir mereka. Tapi, menurut Lewis, dengan pengalaman lebih dari seperempat abad membangun program nuklir, itu tak akan berpengaruh banyak.
Iran juga diperkirakan punya 2.500 rudal berhulu ledak yang masih rahasia. Anthony Blinken, mantan menteri luar negeri AS, menyebut, kalau di masa pemerintahan Joe Biden, AS pernah menjajal simulasi serangan ke situs nuklir Iran.
Tapi, hasilnya ternyata menunjukkan kalau itu bakal membuat Iran semakin punya alasan untuk menyembunyikan aset nuklir mereka. “Jadi, yang dilakukan Tuan Trump itu berisiko memicu dampak yang justru dulu berusaha kami cegah,” tulis Blinken di kolomnya di New York Times. (lyn/ttg/jpg)
Editor : Johan Panjaitan