KATHMANDU, Sumutpos.jawapos.com-Nepal mencatat sejarah dunia. Untuk pertama kalinya, seorang perdana menteri dipilih melalui aplikasi komunikasi gamer, Discord. Tak hanya itu, Nepal kini juga dipimpin oleh perdana menteri perempuan pertama dalam sejarahnya, yakni Sushila Karki, mantan Ketua Mahkamah Agung yang dikenal sebagai simbol antikorupsi.
Karki ditunjuk Presiden Ramchandra Paudel pada Jumat (12/9) malam waktu setempat, setelah gelombang protes besar-besaran memaksa Perdana Menteri Sharma Oli mengundurkan diri. Kerusuhan dipicu oleh kemarahan generasi muda—terutama Gen Z—terhadap pemerintahan yang dinilai korup dan mengekang kebebasan berekspresi, terutama setelah pelarangan 26 platform media sosial.
Parlemen Dibubarkan, Pemilu Digelar Maret 2026
Presiden Paudel juga membubarkan parlemen dan menetapkan pemilu akan digelar pada 5 Maret 2026. Langkah ini memicu respons keras dari delapan partai politik besar, termasuk Kongres Nepal dan CPN-UML, yang menuduh Paudel melanggar konstitusi. Mereka mendesak agar parlemen dikembalikan dan menolak keputusan yang disebut hanya mengakomodasi suara dari Discord.
“Parlemen tidak bisa digantikan oleh server Discord,” tulis pernyataan bersama para ketua umum partai.
Namun Paudel menegaskan bahwa demokrasi Nepal masih berjalan dan pemilu enam bulan ke depan akan menjadi wadah bagi rakyat menentukan masa depan secara sah.
Discord Jadi Pusat Politik Baru
Uniknya, Discord kini menjadi pusat diskusi dan debat politik terbesar di Nepal. Dikutip dari Independent, server dengan lebih dari 145.000 anggota menggelar jajak pendapat dan diskusi intens terkait siapa yang layak menjadi pemimpin transisi. Nama Sushila Karki muncul dominan, didorong oleh dukungan dari Wali Kota Kathmandu Balendra Shah dan gelombang demonstran muda.
“Parlemen Nepal saat ini adalah Discord,” ujar konten kreator Nepal, Sid Ghimiri.
Karki Janji Hanya Enam Bulan Menjabat
Sushila Karki menegaskan bahwa masa jabatannya hanya akan berlangsung selama enam bulan, hingga parlemen baru terbentuk. “Saya dan tim tidak berada di sini untuk mencicipi kekuasaan,” ujarnya seperti dikutip dari Mint, Sabtu (14/9).
Dia juga berkomitmen menyelidiki seluruh pihak yang terlibat dalam kerusuhan. Data terbaru dari Kepolisian Nepal mencatat sedikitnya 51 orang tewas, termasuk satu warga negara India. Sementara itu, kerugian sektor perhotelan akibat kerusuhan diperkirakan mencapai lebih dari 25 miliar rupee Nepal, menurut Asosiasi Hotel Nepal (HAN).
Di tengah kekacauan, Kementerian Luar Negeri RI bergerak cepat memastikan keselamatan Warga Negara Indonesia (WNI) di Nepal. Hingga Sabtu (14/9), sebanyak 57 dari total 78 WNI yang sedang melakukan kunjungan singkat telah kembali ke Indonesia.
Tim Perlindungan WNI bekerja sama dengan KBRI Dhaka terus memantau kondisi di beberapa titik konsentrasi WNI, seperti Soaltee Hotel, Tibet Hotel, kawasan Thamel, dan Boudhanath.
Kemenlu juga mengimbau masyarakat Indonesia yang berencana ke Nepal agar menunda perjalanan hingga situasi membaik.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan